Indonesia memiliki sekitar 5.000 spesies anggrek yang tersebar luas di berbagai wilayah. Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga menjadi keunikan spesies anggrek daerah tersebut. Keberagaman ini menempatkan Indonesia sebagai persebaran anggrek terbesar kedua di dunia. Oleh karena itu, pelestariannya menjadi sangat penting agar tidak mengalami kepunahan.
Salah satu jenis anggrek yang menjadi ikon Yogyakarta adalah anggrek vanda tricolor. Anggrek dengan kelopak bunga berwarna putih dengan totol-totol coklat kemerahan serta bibir bunga berwarna putih menjadi ciri khasnya. Anggrek jenis ini juga mengeluarkan aroma yang sangat wangi di pagi hari yang ditemukan di sekitar lereng Gunung Merapi. “Selain itu, anggrek vanda tricolor memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap panas. Hal ini terbukti pada saat erupsi Gunung Merapi tahun 2010, anggrek ini masih ditemukan dan bertahan di habitatnya,” kata Guru besar Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc., Senin(11/5).
Endang mengatakan bahwa hingga saat ini sudah ditemukan setidaknya 59 jenis anggrek merapi yang dilestarikan di Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM). Namun, jumlah ini dapat terjadi pengurangan akibat faktor alam maupun faktor manusia seperti bencana alam, perubahan iklim, hingga pembangunan infrastruktur. Ditemukannya jenis anggrek baru juga dapat tetap terjadi apabila masyarakat atau peneliti melakukan eksplorasi ke hutan. “Banyak spesies anggrek di hutan-hutan yang belum teridentifikasi jenisnya,” katanya.
Bagi Endang, salah satu langkah penting dalam konservasi dapat dilakukan dengan pendekatan berbasis masyarakat. Mengajari masyarakat sekitar lereng gunung/hutan untuk melestarikan anggrek dengan membudidayakan di halaman rumah agar mendapatkan suasana seperti habitat aslinya. “Saya bersama para pecinta anggrek mengedukasi warga sekitar hutan untuk melakukan konservasi mandiri dengan pengilangan dan penaburan biji yang lebih sederhana agar mudah diikuti semua orang,” ucapnya.
Selain menggunakan cara sederhana, konservasi dapat dilakukan oleh para peneliti maupun akademisi dengan inovasi. Seperti yang dilakukan Endang dan mahasiswa nya dengan melakukan inovasi Kultur In Vitro dari berbagai jenis anggrek yang didapatkannya dari berbagai daerah di Indonesia.
Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah memproyeksikan anggrek vanda tricolor sebagai ikon daerah. Upaya ini dilakukan melalui instruksi penanaman anggrek di seluruh instansi perkantoran di wilayah Yogyakarta. Komunitas Pecinta Anggrek Indonesia (PAI) juga memiliki peran penting dalam konservasi anggrek di Indonesia. Mereka turut membudidayakan temuan anggrek baru dengan penyesuaian habitat aslinya. “Selain itu, PAI banyak mengadakan kompetisi ataupun seminar sebagai inisiasi edukatif serta konservatif,” ujarnya.
Endang berharap agar anggrek di Indonesia dapat terus lestari dan lebih dikenal oleh masyarakat luas. Ia banyak melakukan kolaborasi bersama rekan dari bidang lain untuk menulis buku dari penelitian yang telah dilakukan. Cara ini dilakukannya untuk meneruskan perjuangan yang telah dilakukan oleh para pecinta anggrek sebelumnya agar pelestariannya terus dilanjutkan. “Anggrek adalah identitas bangsa, maka tugas kita bersama adalah memastikan kelestariannya,” harapnya.
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Mongabay/Nuswantoro
