Erupsi gunung api merupakan fenomena alam yang telah menjadi bagian dari perjalanan peradaban manusia. Sepanjang sejarah, aktivitas gunung api yang teramati, baik melalui pengamatan langsung maupun bantuan instrumen, terus dicatat dan dianalisis untuk memahami karakteristik serta pola aktivitasnya. Catatan tersebut menjadi sumber penting dalam menelusuri sejarah erupsi dan memperkirakan kemungkinan aktivitas gunung api pada masa mendatang. Dari masa kolonial hingga saat ini, gunung api terus menjadi objek penelitian untuk mengungkap pola aktivitas dan sejarah erupsi yang dapat mendukung upaya mitigasi bencana.
Guru Besar Bidang Vulkanologi, Departemen Teknik Geologi UGM, Prof. Agung Harijoko, menuturkan bahwa proses alam pada dasarnya merupakan sesuatu yang kompleks dan dapat berulang, termasuk proses erupsi gunung api. Meskipun waktu terjadinya erupsi tidak dapat diprediksi secara presisi, pola aktivitas pada masa lalu dapat memberikan informasi yang berguna untuk mendukung mitigasi bencana dan perencanaan wilayah. “Kalau di gunung api, bencana utama itu memang terkait dengan proses erupsi. Dan proses erupsi itu berulang dengan perulangan yang tidak presisi dalam hitungan tahun,” katanya, Senin (21/9).
Untuk memahami pola perulangan erupsi sekaligus mendukung upaya mitigasi bencana gunung api, diperlukan penelitian terhadap endapan vulkanik yang dihasilkan dari erupsi masa lalu. Aktivitas gunung api telah berlangsung jauh lebih lama dibandingkan keberadaan manusia modern dan perkembangan teknologi untuk mempelajarinya. Karena itu, catatan aktivitas gunung api yang terdokumentasi manusia hanya merekam sebagian kecil dari sejarah panjang aktivitasnya. Catatan selama sekitar 100 tahun, misalnya, masih tergolong singkat jika dibandingkan dengan rentang aktivitas gunung api yang telah berlangsung selama ribuan tahun.
“Bagi umur manusia itu sudah panjang. Tapi bagi umur geologi itu baru sebentar saja. Karena erupsi itu sudah berlanjut mungkin seribu tahun atau dua ribu tahun yang lalu,” tambahnya.
Keterbatasan catatan instrumental tersebut dapat dilengkapi melalui sumber-sumber sejarah. Agung mencontohkan aktivitas Gunung Sinabung dan Gunung Rinjani yang dapat ditelusuri melalui berbagai prasasti dan babad lontar yang merekam sejarah peradaban di Indonesia. “Catatan sejarah tersebut membantu peneliti menelusuri aktivitas gunung api pada masa lalu dan memperoleh gambaran mengenai pola erupsi, termasuk waktu serta karakteristik aktivitasnya,” paparnya.
Selain melalui sumber sejarah, pola erupsi masa lalu juga dapat diteliti melalui endapan vulkanik yang terdapat di sekitar gunung api. Salah satu metode yang digunakan adalah menganalisis material organik yang terdapat pada lapisan tanah di antara endapan. Agung menjelaskan, analisis terhadap kandungan karbon pada tanah dapat digunakan untuk memperkirakan usia suatu lapisan endapan. Namun, tingkat akurasinya lebih rendah dibandingkan sampel arang yang ditemukan di dalam endapan sebagai sisa produk erupsi. “Lebih rendah akurasinya dibandingkan kalau kita dapat sampel arang yang ada di dalam endapan. Tapi kalau tidak dapat arang, makanya kita cari tanah yang persis di bawahnya,” lanjutnya.
Menurut Agung, metode tersebut membutuhkan biaya penelitian yang cukup besar. Untuk meneliti satu sampel endapan, biaya yang diperlukan dapat mencapai sedikitnya Rp10 juta. Selain itu, teknologi yang digunakan untuk analisis tersebut belum tersedia di Indonesia sehingga peneliti perlu memanfaatkan fasilitas penelitian di negara lain. Meskipun hasilnya berupa data ilmiah dan pengetahuan mengenai aktivitas gunung api, informasi tersebut tetap penting sebagai data pendukung dalam memperkirakan pola erupsi.
Penelitian terhadap endapan vulkanik kemudian dapat digunakan untuk memahami pola aktivitas gunung api dalam jangka panjang. Agung menjelaskan bahwa erupsi suatu gunung api tidak selalu terjadi dalam interval yang sama. Erupsi besar dapat diselingi oleh beberapa erupsi kecil sebelum kembali terjadi erupsi besar. Karena itu, penelitian terhadap endapan umumnya memberi perhatian pada jejak erupsi besar yang masih dapat teridentifikasi. “Jadi ada jangka panjang, jangka pendek. Terutama jangka panjang tadi itu untuk mengetahui waktu perulangan, kemudian perilaku erupsi gunung api tersebut,” jelas Agung.
Menurutnya, forecasting jangka panjang melalui penelitian produk erupsi memiliki resolusi yang lebih kasar karena digunakan untuk memahami perilaku gunung api dalam rentang waktu yang panjang. Sementara itu, forecasting jangka pendek dilakukan melalui pemantauan aktivitas gunung api secara langsung dengan memanfaatkan data kegempaan, geofisika, geokimia, dan geodesi. Peningkatan aktivitas pada berbagai parameter tersebut menjadi salah satu dasar bagi peneliti dan otoritas untuk meningkatkan kewaspadaan.
Dengan demikian, penelitian terhadap produk erupsi masa lalu tidak menggantikan sistem pemantauan gunung api, melainkan melengkapinya. Pengetahuan mengenai pola dan karakteristik erupsi masa lalu dapat menjadi informasi tambahan dalam menginterpretasikan hasil pemantauan aktivitas gunung api saat ini.
Lebih lanjut, Agung menuturkan, hasil penelitian tersebut juga dapat berkontribusi dalam penyusunan peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) gunung api. Peta tersebut memuat informasi mengenai potensi bahaya di suatu wilayah, seperti ancaman awan panas, sehingga dapat menjadi salah satu dasar dalam perencanaan wilayah dan upaya mitigasi. “Semua ini muaranya adalah peta KRB itu tadi,” tuturnya.
Menurut Agung, hasil kajian perguruan tinggi dapat disampaikan kepada otoritas terkait sebagai masukan apabila ditemukan data baru mengenai perilaku gunung api. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan otoritas pemantauan juga diperlukan karena perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik yang dapat mendukung penelitian mengenai aktivitas gunung api pada masa lalu.“Mestinya harus ada kolaborasi yang lebih erat lagi antara otoritas PVMBG dengan berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia,” pungkasnya.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Flickr
