United Nations Population Fund (UNFPA) atau Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2026 melakukan survei masa depan demografi terhadap hampir 109.000 orang dewasa muda dengan rentang usia 18-39 tahun di 73 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa prasyarat menjadi orang tua adalah keamanan finansial (88%), pekerjaan stabil (87%), dan kesiapan emosional (85%). Selain itu, hambatan ekonomi dan perumahan juga menjadi aspek penting yang disampaikan oleh 72% responden. Berdasarkan hasil survei tersebut, setiap negara diharuskan mampu membangun ketahanan institusi dan masyarakat untuk mengantisipasi penuaan populasi, perubahan struktur keluarga, dan urbanisasi.
Hal tersebut disampaikan oleh Andrew Saberton selaku Asisten Sekretaris Jenderal PBB & Deputi Direktur Eksekutif UNFPA dalam kuliah umum bertajuk “Hopes, Choices, and the Future: Young People in Indonesia’s Population Dynamics” pada Selasa (13/10) di Auditorium PSKK UGM.
Ia menjelaskan bahwa perubahan demografi terjadi dengan pola yang berbeda seperti penuaan, migrasi, dan urbanisasi sehingga kebijakan kependudukan harus fokus pada perluasan pilihan individu. Indikator kependudukan memang penting, tetapi angka semata tidak dapat menjelaskan kehidupan manusia. “Masa depan demografi tidak hanya dibentuk oleh angka, melainkan oleh peluang yang dimiliki masyarakat dan pilihan yang dapat mereka ambil,” jelas Andrew.
Ia juga menyoroti posisi UGM untuk menghubungkan bukti-bukti demografi di berbagai disiplin ilmu yang unggul dalam bidang geografi, kebijakan publik, kesehatan, gender, perlindungan sosial, dan pembangunan menciptakan jembatan penting dari riset menuju kebijakan. Dalam hal ini, peneliti dan mahasiswa terlibat untuk memperkuat jembatan dari bukti riset menuju kebijakan, tidak hanya tentang apa yang sedang berubah, tetapi juga siapa yang paling terdampak.
Menurutnya, masa depan demografi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh tingkat kehamilan, struktur usia, atau proyeksi semata, tetapi dibentuk oleh kemampuan, peluang, dan kebebasan generasi muda untuk menjalani kehidupan yang mereka hargai, serta kesiapan lembaga merespons perubahan kebutuhan lintas generasi. “Esensi utama dari ketahanan yaitu bagaimana mengantisipasi perubahan, berinvestasi di sepanjang siklus hidup, melindungi hak-hak dan agensi, mengurangi ketimpangan, serta membangun sistem yang tetap responsif, baik di masa normal maupun di masa krisis,” tutur Andrew.
Sementara Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Kaja Glom memaparkan bahwa jumlah populasi usia kerja menjadi keuntungan suatu negara jika generasi mudanya memiliki akses pendidikan, pekerjaan yang layak, layanan kesehatan, serta partisipasi yang bermakna dalam masyarakat. Dengan demikian, permasalahannya bukan hanya pada jumlah generasi muda tetapi pada pilihan yang dimiliki mereka. Dalam hal ini, kesetaraan gender menjadi aspek penting untuk mendapatkan fasilitas dan pilihan yang sama. Di Norwegia, perempuan dapat menyelesaikan pendidikan, memasuki pasar kerja, memiliki aset/properti, berpartisipasi dalam kehidupan publik, dan mengambil keputusan tentang masa depan mereka sendiri. Sebab, kesetaraan gender juga berkaitan dengan bagaimana kekuasaan, pengaruh, dan sumber daya didistribusikan. “Pembangunan bukan hanya tentang pertumbuhan nasional tetapi juga tentang generasi muda khususnya perempuan muda yang memiliki kebebasan, kesehatan, dan kesempatan untuk membentuk masa depan mereka sendiri,” ungkapnya.
Kaja menekankan bahwa suara generasi muda menjadi sangat penting untuk masa depan. Tidak ada negara yang dapat memanfaatkan modal manusianya secara maksimal jika separuh populasinya menghadapi hambatan dalam pendidikan, lapangan kerja, kepemimpinan, atau layanan kesehatan. Oleh karena itu, universitas memiliki peran penting dalam menghasilkan bukti ilmiah, menantang asumsi, dan memastikan kebijakan dibuat berdasarkan kondisi nyata masyarakat. “Jika pembangunan memberikan pilihan nyata bagi generasi muda untuk belajar, bekerja, berpartisipasi, hidup dengan aman, dan di atas segalanya. Untuk memutuskan sendiri atas tubuh serta masa depan mereka, maka pembangunan tersebut memiliki makna yang sesungguhnya,” katanya.
Kepala Biro Manajemen Strategis (BMS) Universitas Gadjah Mada (UGM), Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D., mengatakan bahwa di Indonesia ketika berbicara terkait populasi akan mengarah pada angka, besarnya populasi, struktur usia, kehamilan, dan urbanisasi. Namun, banyak generasi muda yang masih dipengaruhi tekanan dari keluarga dalam proses pembentukan hidup mereka seperti saat melanjutkan pendidikan dan memasuki dunia kerja. “Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh jumlah generasi muda yang dimiliki, melainkan oleh kualitas masyarakatnya serta peluang yang tersedia bagi mereka untuk berkontribusi,” katanya.
Penulis : Jesi
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok.PSKK
