Praktik brandu adalah proses mengumpulkan dana di kalangan warga sebagai bentuk rasa kepedulian terhadap peternak yang sakit atau mati. Kemudian, peternak yang mendapatkan brandu menyembelih ternaknya yang mati dan membagikannya kepada warga. Prosesi ini pada awalnya didasari oleh rasa solidaritas dan gotong royong yang kuat di antara warga. Namun, praktik brandu juga merupakan jalur utama penularan penyakit antraks dari hewan ke manusia, sebagaimana terjadi di Gunungkidul pada bulan September lalu.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebut empat pasien yang sebelumnya dinyatakan positif terpapar antraks telah sembuh setelah menjalani perawatan intensif. Sebelumnya, teridentifikasi tujuh orang di Dusun Pelem, Kalurahan Semanu, yang dinyatakan suspek karena memiliki kontak dengan hewan ternak sakit yang mati mendadak.
Guru Besar Departemen Kesehatan Masyarakat Veterinar, Fakultas Keodkteran Hewan (FKH) UGM, Prof. drh. Widagdo Sri Nugroho, mengatakan jika praktik brandu pada dasarnya mencerminkan kepedulian sosial dan semangat gotong royong untuk membantu pemilik ternak yang mengalami kerugian. Dalam masyarakat, ternak juga menjadi rojokoyo atau aset ekonomi yang bernilai bagi pemiliknya. Namun, ketika ternak mati akibat antraks, praktik penyembelihan, pengulitan, pembagian, hingga konsumsi dagingnya dapat menimbulkan risiko penularan kepada masyarakat. “Kalau konsep brandu kan baik, meringankan beban orang yang kesusahan karena ternaknya atau rojokoyonya mati. Artinya, membantu sesama atau gotong royong. Tapi dalam kasus antraks, ada risiko yang kemudian ditanggung oleh masyarakat,” jelasnya, Senin (12/10).
Widagdo menerangkan jika penyakit antraks disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang mampu membentuk spora ketika terpapar udara atau oksigen. Spora tersebut dapat bertahan di lingkungan selama puluhan tahun sehingga wilayah yang pernah mengalami kasus antraks berpotensi menghadapi persoalan serupa.
Penularan antraks kepada manusia dapat terjadi melalui tiga jalur, yaitu kulit, saluran pernapasan, dan saluran pencernaan. Penularan melalui kulit dapat terjadi ketika bakteri masuk melalui luka, termasuk luka kecil yang tidak terlihat. Risiko ini dapat dialami orang yang menyembelih atau menguliti ternak terinfeksi karena adanya kemungkinan kontak dengan bakteri selama proses penanganan bangkai. “Yang pertama, kena kulit yang luka. Meskipun itu mikrolesi, yang mungkin tidak kelihatan, bakterinya bisa masuk kemudian menimbulkan luka di situ. Yang kita sebut sebagai jenis kulit atau jenis kutan,” terangnya.
Sementara itu, penularan melalui saluran pencernaan dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi daging dari hewan yang terinfeksi. Widagdo mengingatkan bahwa metode memasak yang lazim digunakan masyarakat tidak dapat dijadikan jaminan bahwa spora antraks telah mati. “Artinya, kebiasaan brandu itu, kalau terjadi pada ternak yang menderita sakit antraks, menjadi potensi penularan antraks ke manusia,” ungkapnya.
Pengendalian Antraks
Widagdo menilai kasus antraks di Gunungkidul masih menjadi pekerjaan rumah bersama karena kemunculannya berulang hampir setiap tahun. Menurutnya, meskipun jumlah penderita atau korban dapat bervariasi, setiap kasus tetap menunjukkan perlunya penguatan edukasi dan pencegahan. “Jadi khusus di Gunungkidul, ini masih menjadi PR bersama kita untuk mengendalikan penyakit antraks, dalam pengertian jangan sampai ke manusia lagi,” tuturnya.
Dari sisi kesehatan hewan, Widagdo menyebut vaksinasi telah dilakukan secara intensif. Namun, pengawasan tetap diperlukan, terutama terhadap ternak yang baru didatangkan dari luar daerah maupun ternak yang baru lahir dan belum divaksinasi. Masyarakat perlu segera melaporkan ternak yang belum memperoleh vaksin agar dapat ditindaklanjuti oleh petugas. “Nah, kuncinya hanya vaksin kalau di hewannya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya antisipasi menjelang pergantian musim karena periode tersebut dinilai meningkatkan risiko kemunculan kasus. Vaksinasi ternak perlu dipersiapkan beberapa bulan sebelum pergantian musim, disertai edukasi berkelanjutan kepada masyarakat melalui kolaborasi sektor kesehatan hewan dan kesehatan manusia.
Dalam upaya pengendalian yang lebih luas, FKH UGM berencana berkontribusi melalui layanan kesehatan hewan. Widagdo juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM (FK-KMK UGM), terutama dalam sosialisasi, peningkatan kesadaran masyarakat, dan penguatan peran puskesmas.
Lanjut Widagdo, edukasi membutuhkan waktu dan pendekatan yang sesuai agar dapat mengubah pemahaman serta kebiasaan masyarakat. Jika selama ini peternak menjadi salah satu sasaran utama, ke depan upaya tersebut juga direncanakan menyasar ibu-ibu, remaja, dan anak-anak agar pemahaman mengenai risiko penyakit hewan dapat ditanamkan sejak dini. “Kalau selama ini kan kita masih ke peternaknya, tapi sasaran berikutnya saya kira ke generasi muda dan ibu-ibu terutama. Ini yang planning kami akan mengarah ke sana,” ujarnya.
Widagdo menegaskan nilai gotong royong dalam praktik brandu tetap dapat dipertahankan dengan memperhatikan keselamatan masyarakat. Solidaritas tetap dapat diwujudkan melalui cara yang tidak meningkatkan risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia. “Gotong royongnya tetap kita usahakan ada, tapi bentuk yang terkait dengan kasus-kasus penyakit hewan yang berisiko seperti ini, mereka tetap bisa menghindari,” tuturnya.
Mobilitas Ternak dan Faktor Ekonomi
Dari perspektif kesehatan manusia, Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, dr. Riris Andono, Ph.D., menjelaskan bahwa antraks merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Manifestasi penyakit pada manusia bergantung pada jalur penularannya, yaitu melalui kulit, saluran pencernaan, atau saluran pernapasan. Riris menjelaskan antraks kulit dapat menimbulkan kelainan kulit yang serius. Sementara itu, antraks pada saluran pencernaan dan pernapasan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.
“Dua jenis antraks terakhir ini yang angka kematiannya tinggi. Tetapi kalau yang antraks kulit itu relatif tidak berbahaya, meskipun kematiannya tidak setinggi antraks intestinal maupun respiratori, wujud klinisnya, kelainan kulit klinisnya, cukup parah,” jelasnya.
Menurut peneliti Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM ini, kemunculan kasus antraks yang berulang di Gunungkidul berkaitan dengan sejumlah faktor, mulai dari mobilitas ternak antardaerah, kondisi ekonomi peternak, hingga keberadaan spora di lingkungan yang terkontaminasi.
Gunungkidul merupakan salah satu jalur mobilitas perdagangan ternak, termasuk ternak yang berasal dari Jawa Timur dan Pacitan. Perpindahan ternak dari daerah endemik dapat membawa risiko penyebaran antraks ke wilayah lain apabila tidak disertai pengawasan yang memadai. “Yang pasti adalah pola mobilitas ternak. Karena ternak itu diperdagangkan, dan Gunungkidul itu termasuk dalam satu jalur mobilitas untuk perdagangan ternak,” ujarnya.
Karena itu, Riris menekankan perlunya pengawasan lalu lintas ternak oleh dinas yang menangani peternakan. Ternak yang diperdagangkan antardaerah perlu dilengkapi sertifikat kesehatan sesuai ketentuan. Apabila ditemukan kasus, pembatasan pergerakan ternak keluar masuk wilayah terdampak juga perlu dilakukan untuk mengurangi risiko penyebaran.
Selain mobilitas ternak, kondisi ekonomi turut memengaruhi perilaku masyarakat ketika menghadapi ternak yang sakit atau mati. Bagi peternak, ternak merupakan investasi sekaligus simpanan kekayaan. Ketika hewan sakit atau mati, pemilik dapat berupaya mengurangi kerugian dengan menjualnya dengan harga murah atau membagikan dagingnya kepada tetangga. “Kalau di dalam budaya Jawa, ternak itu kan punya istilah rojokoyo. Artinya memang menjadi tempat tabungan kekayaan,” ungkap Riris.
Menurutnya, pendekatan ekonomi dapat menjadi bagian dari pencegahan. Riris menyebut bahwa skema asuransi ternak pernah diterapkan di Gunungkidul sebagai salah satu upaya membantu peternak menghadapi kerugian. Melalui kompensasi sesuai ketentuan polis, peternak diharapkan tidak terdorong untuk menjual atau membagikan ternak yang terinfeksi demi mengurangi kerugian ekonomi.
Tantangan lainnya adalah keberadaan spora antraks di lingkungan. Riris menuturkan bahwasannya wilayah yang terkontaminasi memerlukan penanganan khusus. Namun, pengosongan wilayah bukan langkah yang mudah dilakukan di Indonesia karena masyarakat tetap tinggal dan beraktivitas di lingkungan tersebut. Oleh karena itu, prosedur penanganan bangkai hewan terinfeksi, penguburan, dan dekontaminasi lingkungan perlu dilaksanakan dengan baik untuk mengendalikan risiko paparan.
Pengenalan Gejala dan Perlindungan Sebelum Kontak
Dalam mencegah penularan kepada manusia, Riris menekankan pentingnya mengenali gejala antraks pada hewan dan menggunakan alat pelindung ketika menangani ternak yang dicurigai terinfeksi. Masyarakat, terutama petani dan peternak, perlu memahami tanda-tanda penyakit agar dapat mengambil langkah pencegahan sebelum terjadi kontak berisiko. “Tapi sebaiknya masyarakat, terutama petani, itu memahami gejala antraks. Dan apabila melihat bahwa ternaknya kena antraks, ya pakailah pelindung,” jelasnya.
Riris menegaskan jika kontak dengan hewan terinfeksi tidak secara otomatis berarti seseorang akan tertular, melainkan resiko yang sangat besar akan tertular. Risiko bergantung pada apakah paparan spora benar-benar terjadi, sedangkan tingkat keparahan penyakit turut dipengaruhi oleh besarnya paparan. “Saya tidak bilang otomatis. Tapi kemungkinan besar akan. Kadang-kadang kita tidak tahu ketika kita melakukan kontak dengan hewan yang terkena penyakit antraks, apakah kontaknya itu menyebabkan sporanya mengenai tubuh kita. Jadi kita tidak bisa bilang otomatis, tetapi risikonya sangat tinggi,” terangnya.
Karena itu, penggunaan pelindung sebelum menangani hewan yang dicurigai terinfeksi lebih diutamakan daripada hanya mengandalkan tindakan setelah kontak terjadi. “Kalau kita tahu itu hewan kena antraks, ya sebaiknya pakai pelindung. Bukan kontak dulu kemudian cuci tangan dan sebagainya,” ujarnya.
Melalui pendekatan kesehatan hewan dan kesehatan manusia yang saling melengkapi, pengendalian antraks membutuhkan pengawasan mobilitas ternak, vaksinasi, penanganan lingkungan terkontaminasi, perlindungan ekonomi peternak, serta edukasi masyarakat. Kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting untuk menekan risiko kasus berulang dan mencegah penularan antraks kepada manusia.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Antara, Humas UGM
