Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan periode 2019–2024 sekaligus alumnus Fakultas Hukum UGM, menegaskan tanggung jawab intelektual mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ia menekankan bahwa pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga harus membentuk pribadi yang berintegritas, berani membela kebenaran, dan menggunakan ilmunya untuk kepentingan masyarakat.
Dihadapan 6.209 mahasiswa baru program pascasarjana UGM, Mahfud mengingatkan mahasiswa bahwa gelar akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang. Ia mengutip pesan mantan Rektor UGM, Prof. Sardjito, mengenai pentingnya mencetak sarjana yang sujana, yakni sarjana yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kemuliaan budi dan kepedulian terhadap sesama. “UGM ini didirikan untuk mencetak sarjana yang sujana, sarjana yang mulia, sarjana yang budiman, sarjana yang baik hati, yakni sarjana yang suka menolong sesamanya, berani mengatakan yang benar, yang tidak mau melakukan hal-hal yang salah yang bisa merugikan orang lain,” tuturnya dalam kegiatan Pembukaan PIONIR Pascasarjana 2026 yang berlangsung di Joglo GIK, Selasa (27/10).
Ia menjelaskan kemampuan akademik dapat digunakan untuk melakukan kebaikan maupun merugikan orang lain apabila tidak disertai integritas dan kepedulian terhadap sesama. Melanjutkan pemaparannya, Mahfud mengaitkan tanggung jawab intelektual dengan pemikiran Mohammad Hatta mengenai tanggung jawab moral kaum intelektual. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membela kebenaran, melawan ketidakadilan, dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Ia menegaskan intelektual tidak seharusnya hanya mengejar kepentingan pribadi, jabatan, atau keuntungan dari ilmu yang dimiliki, tetapi juga terlibat aktif dalam pembangunan bangsa. “Kaum inteligensia itu harus berani membela kebenaran, menyatakan yang benar itu benar, yang salah itu salah, membela kepentingan masyarakat, meletakkan kepentingan pribadi di atas kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Mahfud juga menyoroti pentingnya pendidikan yang mengembangkan kecerdasan sekaligus karakter. Ia menjelaskan tujuan pendidikan bukan sekadar mencerdaskan kemampuan berpikir, melainkan juga membentuk watak dan tanggung jawab moral. Menurutnya, ilmu pengetahuan dan teknologi perlu dikembangkan berdasarkan nilai-nilai yang menjunjung kebenaran, kemanusiaan, serta persatuan bangsa. “Pendidikan di Indonesia itu harus mencerdaskan kehidupan bangsa, yaitu otak dan watak, bukan hanya meningkatkan atau mencerdaskan otak manusia, tapi watak,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa keahlian akademik tidak boleh digunakan untuk membenarkan kebijakan yang keliru atau melayani kepentingan tertentu dengan mengabaikan kepentingan masyarakat.
Menutup orasinya, Mahfud mengajak mahasiswa pascasarjana UGM untuk menggunakan ilmu pengetahuan sebagai bekal pengabdian kepada bangsa dan negara. Ia menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi perlu menjaga integritas dan tidak menjadikan ijazah sebagai simbol status semata, melainkan sebagai bukti kapasitas keilmuan yang harus disertai tanggung jawab moral. “Jadilah saudara nanti keluar dari Universitas Gadjah Mada ini sebagai sarjana yang sujana, sebagai cendekiawan, bukan sarjana yang durjana. Tidak boleh jadi intelektual tukang, menjual-jual keahlian, membenar-benarkan yang salah dengan ilmu dan metodologi keilmuan yang dimiliki,” pesannya.
Ia berharap mahasiswa pascasarjana mampu menjadi intelektual yang unggul dalam bidang keilmuan dan berani memperjuangkan kebenaran dan berkontribusi bagi kemajuan masyarakat Indonesia.
Sementara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sudjito, menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis bagi mahasiswa pascasarjana. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan perlu dimanfaatkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. “Menjadi mahasiswa pascasarjana wajib hukumnya berpikir kritis. Tidak sekadar memahami pengetahuan untuk pengetahuan, tetapi pengetahuan untuk menjawab problem masyarakat,” ujarnya.
Arie menjelaskan pendidikan pascasarjana perlu berkontribusi terhadap pengembangan pengetahuan sekaligus membangun jejaring yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia juga menyoroti tantangan dalam ekosistem belajar dan dunia kerja yang dihadapi lulusan perguruan tinggi. Dalam konteks tersebut, pendidikan pascasarjana diharapkan dapat melahirkan intelektual yang mampu berkontribusi di lingkungan kampus maupun di luar kampus.
Menurut Arie, kompleksitas persoalan bangsa, termasuk dampak krisis global, menuntut keterlibatan berbagai kelompok intelektual, seperti akademisi, peneliti, jurnalis, dan organisasi masyarakat sipil. “Tugas intelektual sekali lagi bukan sekadar mengembangkan pengetahuan, tetapi pada dasarnya mengajak masyarakat berpartisipasi sehingga mereka ikut menjadi bagian dalam memecahkan masalah bangsa,” pungkasnya.
Dalam rangkaian kegiatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Wening Udasmoro, menyampaikan Kuliah Ke-UGM-an untuk mengajak mahasiswa baru memahami sejarah, filosofi, nilai, dan jati diri UGM sebagai perguruan tinggi yang lahir dari perjuangan bangsa Indonesia.
Wening menjelaskan bahwa pendirian UGM tidak terlepas dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sejarah tersebut membentuk identitas UGM sebagai institusi yang menjunjung persatuan dan pengabdian kepada masyarakat. Ia juga mengajak mahasiswa menerapkan nilai-nilai pendiri UGM dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui ajaran Trisna San Sutrisna yang mengajarkan sikap adil dan tidak pilih kasih. Ia mengingatkan mahasiswa untuk melawan sikap individualistis serta mengembangkan empati dan solidaritas terhadap sesama.
“Musuh kita adalah jiwa kita yang sering kali tidak punya empati, jiwa kita yang sering kali tidak solidar terhadap yang lain, jiwa kita yang sering kali meminggirkan yang lain,” jelasnya.
Wening turut memaparkan lima jati diri UGM, yaitu universitas nasional, universitas perjuangan, universitas Pancasila, universitas kerakyatan, dan universitas pusat kebudayaan. Kelima jati diri tersebut menjadi landasan UGM dalam menjaga persatuan bangsa, memperjuangkan kepentingan masyarakat, dan melestarikan kebudayaan Indonesia.
Menurutnya, karakter dapat dibangun melalui kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten. “Kalau kita setiap hari belajar, tekun, punya jiwa empati yang diasah terus-menerus, itu akan menjadi bagian dari diri kita,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa perjalanan pengabdian UGM sejak awal berdiri hingga saat ini merupakan bagian dari perjuangan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami sejarah dan nilai-nilai tersebut agar semangat perjuangan UGM terus hidup melalui kontribusi nyata bagi masyarakat.
Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna menyampaikan UGM menerima sebanyak 6.209 mahasiswa baru terdaftar dalam program pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), yang terdiri atas 794 mahasiswa Program Doktor, 4.733 mahasiswa Program Magister, 569 mahasiswa Program Spesialis, dan 113 mahasiswa Program Subspesialis.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
