Tim Peneliti Pusat Kedokteran Tropis (PKT) Universitas Gadjah Mada tengah mengembangkan platform untuk mendeteksi potensi ancaman wabah Demam Berdarah dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Platform ini menggabungkan data kasus demam berdarah dari fasilitas kesehatan dengan data iklim, cuaca, dan curah hujan. Data tersebut kemudian digunakan untuk membantu memperkirakan perubahan risiko demam berdarah dan wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan kasus dengan menggunakan teknologi AI.
Dr. Anis Fuad, S.Ked., DEA., peneliti Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM, menyebut sistem yang dikembangkan tersebut dinamakan ExplainDengue yang menghubungkan berbagai macam sumber data, misalnya data riwayat penderita demam berdarah dari waktu ke waktu di fasilitas kesehatan,data iklim dan cuaca serta hujan. “Selanjutnya AI akan membuat prediksi kira-kira ke depan itu penderita penyakit demam berdarah naik turunnya di mana dan seterusnya,” ungkapnya, Kamis (8/10).
Tak hanya data kasus demam berdarah, tim PKT UGM juga memanfaatkan data Rekam Medis Elektronik (RME) dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk membantu mendeteksi potensi wabah. Data RME berisi informasi mengenai keluhan dan riwayat pasien ketika datang ke rumah sakit. Data tersebut kemudian dapat diolah menggunakan Large Language Model (LLM) untuk mencari pola gejala yang mungkin menjadi tanda awal munculnya penyakit yang berpotensi menyebabkan kejadian luar biasa (KLB).
“Hasil data dari rekam medis elektronik di IGD, beberapa kumpulan gejala utama pasien dimasukkan ke dalam large language model. Lalu, digabungkan ke dalam format untuk mengidentifikasi apakah ini merupakan bagian dari kumpulan gejala penyakit yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB) atau penyakit yang wajib dilaporkan,” tutur Anis.
Menurut Anis, pemanfaatan AI tersebut dapat membantu melengkapi sistem kewaspadaan dini yang dimiliki pemerintah. Jika pola penyakit dari berbagai fasilitas kesehatan dapat teridentifikasi lebih cepat, dinas kesehatan dapat memperoleh informasi awal mengenai kemungkinan munculnya wabah dan menentukan respons yang diperlukan.
“Kemudian, teman-teman yang bertugas mengisi rekam medis elektronik sekaligus disertai dengan mesin di belakang untuk membantu mengidentifikasi, oh, penyakit ini berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB) atau tidak, teman-teman Dinas Kesehatan nantinya akan lebih terbantu,” ujarnya.
Meski demikian, Anis menyebut penerapan AI untuk mendukung deteksi dini wabah masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketersediaan data yang akurat, lengkap, dan konsisten. Menurutnya, AI membutuhkan data yang terus diperbarui agar dapat menghasilkan analisis yang semakin baik. “Kalau misalnya AI yang nanti kita bangun kemudian mendapatkan suplai data yang akurat, lengkap, komplit, dan konsisten, data itu juga akan terus muncul masuk sehingga nanti AI ini bisa lebih ‘lebih pintar juga’,” jelas Anis.
Selain kualitas data, keberlanjutan penggunaan teknologi juga menjadi tantangan. Anis menegaskan bahwa AI tetap berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti manusia dalam mengambil keputusan. Informasi yang diberikan AI dapat menjadi bahan pertimbangan, tetapi keputusan akhir tetap berada pada pengguna.
“Ketika kita punya produk AI yang sudah kita bangun, kita manfaatkan. Nantinya, dia akan membantu kita dalam memberikan input, berupa keputusan apakah ini berpotensi KLB atau tidak. Tapi tetap kita yang kontrol,” katanya.
Pemanfaatan AI dalam pelayanan kesehatan juga perlu disertai tata kelola dan evaluasi yang baik. Anis mengingatkan bahwa teknologi AI yang dikembangkan di luar negeri tidak dapat langsung digunakan untuk menangani pasien di Indonesia. Fasilitas kesehatan perlu memahami cara kerja teknologi, memastikan status dan regulasinya, mengetahui bagaimana data pasien dikelola dan disimpan, serta melihat hasil penggunaannya di negara lain. Sebelum diterapkan, teknologi tersebut juga perlu melalui health technology assessment (HTA) untuk menilai kelayakannya.
Selain itu, Anis menekankan pentingnya keterlibatan manusia dalam setiap tahapan penggunaan AI, mulai dari pengembangan dan pengujian hingga penerapan dan evaluasi. Menurutnya, AI harus tetap menjadi alat bantu bagi tenaga kesehatan, sementara manusia memegang kendali dalam menentukan keputusan.
Ia menegaskan, pemanfaatan AI pada akhirnya harus dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab agar teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi pelayanan kesehatan.“Manfaatkan, gunakan AI secara bijak untuk kebutuhan yang memang kita perlukan dan untuk mendukung kita dalam menghasilkan aktivitas yang lebih bermanfaat untuk banyak pihak,” pungkasnya.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Shutterstock, Dok. PKT UGM
