Universitas Gadjah Mada melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama (MoU) dengan PT Tanamal Phinisi Properti pada Senin (13/4), di Ruang Tamu Rektor UGM. Kerja sama ini mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan sumber daya manusia. Pertemuan dihadiri oleh jajaran pimpinan kedua institusi dan dilanjutkan dengan diskusi potensi kolaborasi riset. Pusat Studi Energi (PSE) UGM direncanakan menjadi penggerak awal untuk menindaklanjuti kesepahaman, terutama pada kajian status kawasan dan pengembangan bisnis. Kolaborasi ini diharapkan membuka ruang kerja bersama yang berdampak bagi pembangunan nasional.
Menyambut kerja sama ini, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc menegaskan kesiapan UGM dalam mendukung kebutuhan mitra melalui pendekatan lintas disiplin. Ia menjelaskan bahwa berbagai bidang kajian di UGM saling terhubung, mulai dari sains, rekayasa, hingga sosial, ekonomi, dan hukum. Integrasi ini memungkinkan setiap persoalan dilihat dari berbagai sudut pandang sehingga solusi yang dihasilkan dapat lebih utuh dan aplikatif. “Di UGM, kami terbiasa bekerja lintas disiplin, jadi setiap persoalan bisa kami lihat secara menyeluruh dan dicarikan solusi yang paling relevan,” ungkapnya.
Lebih jauh, Danang melihat kerja sama ini sebagai langkah awal menuju kolaborasi yang lebih konkret. Ia menyebut pengalaman UGM dalam berbagai proyek riset di Sulawesi sebagai modal penting untuk mendukung kebutuhan perusahaan. Kajian yang dilakukan mencakup isu keberlanjutan, pengelolaan wilayah pesisir, hingga penguatan ekonomi lokal. Pengalaman tersebut membuat UGM cukup dekat dengan konteks wilayah yang akan dikembangkan. “Harapannya, kerja sama ini tidak berhenti di atas kertas, tapi benar-benar bisa kita turunkan menjadi program nyata yang terasa manfaatnya,” tambahnya.

Pandangan tersebut disambut positif oleh Direktur Utama PT Tanamal Phinisi Properti, A. Eka Firman Ermawan, yang menilai UGM sebagai mitra yang tepat. Ia menjelaskan bahwa keputusan memilih UGM didasari kebutuhan akan kajian yang independen dan dapat dipercaya. Reputasi UGM dalam memberikan masukan bagi pemerintah dan industri menjadi pertimbangan utama. Baginya, kepercayaan menjadi fondasi penting dalam kerja sama ini. “Kami sengaja memilih UGM karena ingin mendapatkan kajian yang benar-benar netral, yang bisa kami pegang tanpa ada kepentingan lain di dalamnya,” ujarnya.
Eka Firman kemudian menggambarkan tantangan yang dihadapi perusahaan, khususnya terkait persoalan legal di kawasan pengembangan. Ia menuturkan bahwa isu pertanahan di lokasi proyek cukup kompleks dan sering memunculkan hambatan. Kondisi ini membuat perusahaan membutuhkan pendampingan berbasis kajian akademik yang kuat. Ia berharap UGM dapat membantu memberikan arah yang jelas dalam menghadapi persoalan tersebut. “Masalah tanah di sana cukup rumit, jadi kami benar-benar butuh masukan legal yang objektif dan bisa menjadi pegangan dalam mengambil keputusan,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Plh. Kepala Pusat Studi Energi UGM, Prof. Ir. Sarjiya, S.T., M.T., Ph.D., IPU, menekankan bahwa persoalan legal memang perlu dilihat secara lebih luas. Ia menyebut aspek ekonomi dan sosial sebagai bagian yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Pendekatan multidisiplin menjadi kekuatan UGM dalam memberikan solusi yang lebih menyeluruh. Dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan, kajian yang dihasilkan dapat lebih kontekstual. “Kalau bicara legal, tentu perlu didukung perspektif ekonomi dan sosial supaya solusi yang dihasilkan benar-benar komprehensif,” tuturnya.
Sejalan dengan itu, Dr. Agung Satriyo Nugroho, S.Si., M.Sc., dari Pusat Studi Energi UGM mengusulkan penguatan kerja sama melalui riset dan inovasi. Ia mendorong agar kegiatan penelitian dan pengembangan dapat dilakukan bersama di UGM sebagai pusat kajian. Skema ini dinilai mampu mempercepat proses hilirisasi hasil riset bagi kebutuhan industri. Selain itu, keterlibatan pusat studi dapat memperkuat kualitas solusi yang dihasilkan. “Kami melihat peluang agar kegiatan riset dan pengembangan bisa dilakukan di UGM, sehingga hasilnya bisa langsung dikembangkan dan dimanfaatkan,” pungkasnya.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie
