Universitas Gadjah Mada dan Yayasan Blue Alliance Indonesia resmi menjalin kerja sama dalam bidang konservasi ekosistem laut dan pemberdayaan masyarakat lokal, terutama melalui penyusunan portofolio konservasi laut yang ditandatangani di dalam Nota Kesepahaman (MoU) pada Jumat (25/9) di Gedung Pusat UGM. Kolaborasi ini membuka ruang bagi UGM untuk memperkuat kontribusinya melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan keterlibatan mahasiswa di kawasan konservasi.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia melihat kerja sama ini sebagai peluang bagi UGM untuk mengambil peran lebih luas dalam menjaga keberlanjutan ekosistem dan biodiversitas laut, khususnya di wilayah pesisir. “Kami menyambut baik kerja sama ini. Kami sangat antusias untuk melanjutkan langkah-langkah kita, terutama bagaimana UGM bisa berperan dalam tropical biodiversity dan marine biodiversity,” ujar Danang.
Menurut Danang, kekuatan UGM terletak pada cakupan keilmuan yang luas. Bidang sains, teknik, pertanian, sosial, kemasyarakatan, hingga kesehatan dapat dipertemukan untuk melihat persoalan konservasi secara menyeluruh. Pendekatan lintas disiplin ini juga memungkinkan hasil penelitian dikembangkan menjadi solusi yang dapat diterapkan bersama masyarakat yang didukung oleh pemahaman terhadap kondisi lokal. “Pengalaman mitra di lapangan serta kedekatan dengan masyarakat dapat membantu UGM merancang program yang sesuai dengan kebutuhan kawasan konservasi,” ujarnya.
Kerja sama nantinya akan diarahkan ke dalam rencana kerja yang lebih konkret. UGM dan Blue Alliance Indonesia berencana menyusun work plan serta proposal bersama untuk membuka peluang pendanaan dan memperluas cakupan program. “Dari pertemuan ini, kita akan turunkan menjadi work plan, termasuk menjadi proposal-proposal. Mungkin dana-dana dari luar itu bisa kita cari bersama,” katanya.
Danang juga menilai konservasi biodiversitas perlu berjalan berdampingan dengan berbagai skema pengelolaan lingkungan, termasuk perdagangan karbon. Tanggung jawab terhadap lingkungan, menurutnya, tidak cukup berhenti pada kompensasi karbon, tetapi perlu mencakup perlindungan biodiversitas yang menjadi bagian penting dari keberlanjutan ekosistem.
Gagasan itu selanjutnya dapat diterapkan melalui kerja sama yang lebih terarah di kawasan timur Indonesia. UGM dan Blue Alliance Indonesia diharapkan segera membentuk tim untuk menerjemahkan potensi kolaborasi menjadi program yang dapat dijalankan di lapangan. “Kami siap untuk bergerak sama. Mungkin setelah ini ada tim yang betul-betul kita ajak untuk berproses bersama,” pungkas Danang.
Rencana kolaborasi ini sejalan dengan pengalaman UGM dalam mendampingi masyarakat di kawasan konservasi. Salah satunya berlangsung melalui KKN UGM di Desa Lumbi-Lumbia, Banggai Kepulauan, yang pada 2026 diarahkan untuk menggali potensi wisata bahari sekaligus memperkuat kesiapan masyarakat dalam mengelolanya.
Kawasan Lumbi-Lumbia memiliki kekayaan laut yang menjadi daya tarik utama kawasan, mulai dari ekosistem bawah laut hingga gugusan pulau kecil, dengan sekitar 30 pulau di Banggai Kepulauan memiliki lokasi yang berpotensi menjadi destinasi penyelaman. Potensi ini menjadi dasar bagi mahasiswa untuk memetakan peluang wisata yang dapat dikembangkan bersama masyarakat. Upaya pemetaan kemudian dilanjutkan dengan peningkatan kapasitas masyarakat. Warga mendapat pelatihan keselamatan di kawasan pesisir dan keterampilan dasar penyelaman sebagai bekal untuk terlibat dalam aktivitas wisata bahari, termasuk sebagai pemandu wisata.
Manager Nasional Yayasan Blue Alliance Indonesia, Andreas Hero Ohiulun, mengatakan kerja sama ini menjadi langkah awal untuk membangun upaya konservasi laut. Menurutnya, UGM memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dikembangkan untuk menjawab berbagai kebutuhan konservasi di lapangan. “Pertama-tama kami ingin mengucapkan terima kasih dan merasa terhormat karena diberikan kesempatan untuk berkolaborasi. Saya pikir ini takdir yang mempertemukan kita. Mudah-mudahan ke depannya kita bisa bersama-sama berkolaborasi,” ujar Andreas.
Salah satu ruang untuk mewujudkan tujuan itu berada di Kawasan Konservasi Banggai Laut. Wilayah ini telah menjadi lokasi KKN UGM yang mendapat dukungan Blue Alliance Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dan berlanjut pada 2026. Pengalaman di lapangan menjadi pijakan untuk memperluas kerja sama melalui penelitian dan pemberdayaan masyarakat. “Harapannya program-program yang lain, seperti penelitian dan pemberdayaan masyarakat bisa dilengkapi lagi di lokasi KKN UGM,” tutur Andreas.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Agito Sitepu dan Dok. KKN PPM
