Senat Akademik UGM telah membuka pendaftaran pemilihan anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UGM periode 2026-2031 sejak Februari lalu. Sampai saat ini, tahapan sudah memasuki tahap Talkshow Pemilihan Anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UGM untuk saling mengungkapkan gagasan dan pemikiran tiap-tiap calon. Kegiatan yang dikemas dengan bentuk talkshow curah gagasan ini diselenggarakan selama 2 hari, 14-15 April, di ruang Multimedia, Gedung Pusat UGM.
“Sebagai bentuk procedural justice, acara Talk Show ini dilaksanakan sebagai bukti bahwa proses pemilihan anggota MWA UGM dilaksanakan secara transparan dan berkeadilan, yang memberikan kesempatan yang sama kepada semua calon,” kata Ketua Senat Akademik UGM, Prof. Dr. Sulistiowati, S.H., M.Hum., Rabu (15/4).
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengungkapkan apresiasinya terhadap para calon anggota MWA UGM, terutama pada mereka yang bukan alumni UGM. “Jadi artinya ini sesuatu yang baik, karena bagaimanapun Universitas Gadjah Mada kembali kepada sejarah kita; UGM adalah universitas pertama yang didirikan oleh negara Indonesia setelah kemerdekaan. Jadi saya kira UGM adalah milik semua orang,”katanya.
Ova pun mengungkapkan anggota MWA yang terpilih dapat memberikan kontribusi kepada UGM. Sebab, saat ini universitas tak hanya dituntut untuk menunaikan kewajiban Tridharma, tetapi bisa dapat berdaya saing di tingkat global. “Semuanya memerlukan keterlibatan organ tertinggi MWA untuk memberikan pemikiran-pemikiran strategis untuk UGM ke depannya,” pungkasnya.
Pada hari kedua, Talkshow Pemilihan Anggota MWA UGM dikhususkan untuk unsur tokoh masyarakat dan alumni UGM. Pada sesi pertama, Guru Besar Fakultas Filsafat Prof. Dr. Armaidy Armawi, M.Si., sebagai panelis, menanyakan perihal motivasi atau alasan pendaftaran dari para calon. Dari jawaban yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan dan ikatan erat dengan UGM yang mendasari keputusan tersebut.
Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, S.H., M. Hum., salah satu calon dari unsur tokoh masyarakat yang mencalonkan diri sebagai anggota MWA. “UGM tidak hanya sebagai almamater saja, tetapi ia adalah rahim intelektual yang membentuk seluruh visi hidup dan karya saya,” ujarnya.
Lebih lanjut, para peserta juga ditanyakan pula pertanyaan kepada para calon soal roadmap yang disiapkan oleh para calon terkait Tridarma dan akselerasi masuknya UGM untuk bisa masuk dalam jajaran top 100 universitas di dunia, tanpa meninggalkan nilai ke-UGM-annya. Dalam sesi ini, tiap calon menjelaskan rencana mereka berdasarkan bidang-bidang yang mereka tekuni, seperti kesehatan, pendidikan, kebudayaan, ekonomi, militer, dan sebagainya.
Menteri Pendidikan Nasional RI periode 2009-2014, Prof. Dr. Ir. K. H. Mohammad Nuh, DEA, sebagai salah satu bakal calon dari unsur tokoh masyarakat lainnya menjawab menjawab soal pentingnya memahami esensi dari Tridharma Perguruan Tinggi. “Memahami Tridharma itu tidak bisa parsial, tetapi harus utuh. Apa manfaat akhirnya bagi masyarakat? Jika orientasinya adalah menciptakan dampak nyata bagi masyarakat, maka ketiga elemen Tridharma tersebut tidak akan berjalan sendiri-sendiri, melainkan akan konsisten saling mendukung. Selain itu, dalam pengelolaan sumber daya akademiknya, kita harus membangun sistem yang meritokrasi,” pungkasnya.
Seperti diketahui, jumlah calon anggota MWA yang lolos hasil Verifikasi Dokumen Administrasi Final sebanyak 75 orang. Pemilihan anggota MWA akan dilangung pada tanggal 24 April 2026 untuk memilih sebanyak 19 orang yang mewakili Unsur Wakil Tokoh Masyarakat (6), Unsur Dosen Guru Besar (3 ), Unsur Dosen bukan Guru Besar (3), Unsur Alumni (2), Unsur Tenaga Kependidikan (1) dan Unsur Mahasiswa (1). Sementara 3 Anggota Ex-officio MWA UGM terdiri dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Rektor Universitas Gadjah Mada.
Penulis : Leony dan Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto dan Donnie
