Universitas Gadjah Mada resmi menjalin kemitraan strategis dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Kolaborasi ini berfokus pada penguatan tridarma perguruan tinggi serta percepatan swasembada pangan dan energi melalui optimalisasi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) sebagai kawasan hutan pendidikan berbasis agroforestri.
Direktur Strategi dan Sustainability PT SGN, Dimas Eko Prasetyo, S.T., menyatakan bahwa sinergi ini merupakan buah dari diskusi panjang yang telah diinisiasi sejak tahun 2020. Ia menekankan bahwa kerja sama ini berpijak pada prinsip mutualisme untuk kemajuan bersama. “Kami berharap pola pengelolaan ini dapat menjadi role model bagi kawasan lain dalam mendukung kedaulatan pangan, khususnya komoditas gula dan kemandirian energi, sebagaimana arahan Mentan (Menteri Pertanian) dan Presiden,” ujarnya Rabu (13/5), di Gedung Pusat UGM.
Kepala Balai Perlindungan Tanaman Perkebunan Pontianak, Kementan RI, Gabriel Lulus Puji Hantoro, S.Si., M.P., menyampaikan apresiasi serta dukungan penuh kepada UGM dan SGN dalam mengakselerasi target swasembada gula nasional periode 2025-2026. Ia menilai kolaborasi ini merupakan momentum krusial untuk mengoptimalkan lahan tebu di KHDTK sebagai lahan percontohan. “Kami melihat kerja sama ini sebagai momen yang sangat baik untuk menjadikan lahan tebu di KHDTK sebagai pilot project. Harapannya, kawasan ini mampu menjadi model percontohan yang memberikan manfaat nyata bagi semua pihak yang terlibat,” ujarnya.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama (PPUKS) UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyambut baik sinergi ini sebagai langkah strategis universitas untuk menjawab tantangan nasional. Ia menegaskan bahwa pengelolaan lahan KHDTK yang luas merupakan tantangan besar yang mencakup berbagai aspek fundamental. “Kami berharap kerja sama ini merupakan percontohan pengelolaan KHDTK yang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga berdampak secara ekonomi dan sosial. UGM bersemangat untuk menghadirkan pengelolaan yang berkelanjutan dan inklusif,” ujarnya.
Terkait isu ketahanan pangan dan energi, Danang menekankan pentingnya mencari solusi atas ketergantungan impor di tengah ketidakpastian politik global. Ia menyampaikan saat ini UGM memiliki tim riset biodiesel, bioetanol, hingga pengembangan energi hidrogen. Tidak hanya mengkaji dari sisi sains dan teknologi, tetapi juga melibatkan 18 fakultas dan 2 sekolah untuk menyusun kebijakan, dampak fiskal, hingga kelembagaan secara komprehensif. “Kami siap untuk berkolaborasi bersama mencarikan solusi terkait berbagai macam tantangan yang kini dihadapi bangsa ini” pungkasnya.
Penulis : Aldi Firmansyah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
