Di sebuah grup whatsapp alumni aktivis gelanggang, tiba-tiba terhenyak oleh pesan berantai yang mengabarkan dosen purna tugas Fakultas Peternakan UGM Gatot Murdjito berpulang pada jumat(13/2) lalu pada pukul 06.35 WIB di RS Sardjito. Beberapa dari mereka menyampaikan ucapan belasungkawa sekaligus mengenang sosok yang dikenal sebagai “Bapak KKN” di era tahun 90-an hingga tahun 2000-an. Sebutan tersebut disematkan padanya, karena ia lama memimpin Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) di Kampus UGM. Setiap penerjunan tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke berbagai lokasi di pulau Jawa atau di sekitar DIY dan Jateng, Gatot tidak segan-segan berkunjung dan berinteraksi dengan mahasiswa yang tengah mengabdi di desa.
Tahun 2011, Gatot Murdjito menjadi juri di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXIV di Makassar, Sulawesi Selatan. Usai penghelatan Pimnas, para tim juri yang berasal dari kampus UGM diundang khusus oleh Bupati Toraja Utara, Frederik Batti Sorring, untuk bertandang ke rumahnya di Rantepao. Menggunakan bus, rombongan menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam. Undangan tersebut sebenarnya ditujukan untuk Gatot, sebagai bentuk ungkapan terima kasih sang Bupati padanya. Di hadapan Gatot, Frederik mengenang kisahnya melaksanakan KKN saat jadi mahasiswa Filsafat UGM. Frederik mengaku, usai lulus dari UGM dan bekerja sebagai penyuluh KB di Asmat Papua, pengalamannya melaksanakan KKN sangat membantunya berinteraksi dengan masyarakat.
Semasa hidupnya, Gatot Murdjito, dikenal sebagai seorang akademisi yang memiliki kontribusi pada bidang pengabdian kepada masyarakat. Ia berperan aktif dalam pengelolaan program Kuliah Kerja Nyata serta pemberdayaan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan UGM. Selain itu, almarhum juga aktif mendampingi berbagai program pemberdayaan masyarakat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Budi Guntoro,mengungkapkan bahwa Gatot Murdjito merupakan sosok dosen yang dikenal tegas dan disiplin, namun tetap penuh kebaikan dan ketulusan. Menurutnya, almarhum memiliki rasa kepedulian dan keikhlasan dalam membimbing, sehingga jejak pengabdiannya akan senantiasa berkesan bagi orang yang pernah belajar dan berinteraksi dengannya. “Almarhum akan selalu dikenang atas dedikasi, keteladanan, dan pengabdiannya bagi dunia pendidikan dan masyarakat,” jelasnya.
Dikenal sebagai pribadi yang hangat dalam memberikan dukungan kepada orang-orang sekitarnya. Menantu almarhum, Galih Sekarayu, menuturkan bahwa semasa hidupnya, mertuanya tersebut memperlakukan dirinya layaknya anak kandung sendiri. Ia mengatakan bahwa almarhum sebagai sosok yang tidak pernah marah dan senantiasa memberi semangat, terutama dalam hal pekerjaan dan menjaga kesehatan. “Bapak selalu mengingatkan untuk semangat bekerja dan menjaga kesehatan. Pesan itu yang paling sering beliau sampaikan,” tuturnya.
Sebagai seorang pendidik, almarhum juga kerap memberikan nasihat yang membekas bagi keluarga. Salah satu pesan yang selalu diingat Galih adalah prinsip bekerja yang diajarkan almarhum: menyenangi pekerjaan, menekuninya, dan menjalaninya secara profesional. Nilai tersebut, menurutnya, menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan dan meniti karier.
Dedikasi almarhum dalam dunia pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat menjadi warisan nilai yang terus hidup di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Melalui perannya dalam pengabdian masyarakat, Ir. Gatot Murdjito, M.S. turut menanamkan kepekaan sosial, kepemimpinan, serta mendorong akan adanya semangat pengabdian. Keteladanan dan integritasnya akan senantiasa dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan pengabdian UGM.
Seperti diketahui, Ir. Gatot Murdjito, M.S. lahir di Kutoarjo pada 27 September 1948. Ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada dengan meraih gelar Sarjana pada Fakultas Peternakan tahun 1978 dan gelar Magister pada Program Pascasarjana tahun 1989. Ia mulai mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil pada 1 Maret 1980 dan menyelesaikan masa tugasnya pada 1 Oktober 2013.
Bapak KKN tersebut kini telah berpulang. Banyak alumnus yang mengenang dedikasi beliau selama menjadi pembimbing mahasiswa yang mengalami kendala selama mengabdi di desa-desa terpencil di Pulau jawa di era akhir tahun 1990an hingga tahun 2000an. Almarhum dimakamkan Sabtu (14/2) pada pukul 10.00 WIB di TPU UGM di Sawitsari.
Selamat Jalan Pak Gatot…
Penulis : Diyana Khairunnisa
Editor : Gusti Grehenson
