Peminat Program Studi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (EPA) Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan tren yang tinggi dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Data menunjukkan jumlah peminat mencapai 271 orang, sementara kuota penerimaan melalui jalur SNBP sebanyak 27 mahasiswa dari total daya tampung 90 mahasiswa. Tingginya rasio peminat dibanding daya tampung mencerminkan ketatnya persaingan untuk masuk ke program studi ini. Meski demikian, masih tersedia kursi melalui jalur UTBK SNBT yang akan dilaksanakan pada 21-30 April 2026 mendatang. Kondisi ini sekaligus menegaskan meningkatnya minat calon mahasiswa terhadap bidang pertanian.
Tingginya minat tersebut mendorong banyak calon mahasiswa untuk mengenal lebih dalam Prodi EPA sebelum menentukan pilihan. Ketua Program Studi Sarjana Ekonomi Pertanian dan Agribisnis UGM, Dr. Hani Perwitasari, S.P., M.Sc., menjelaskan bahwa prodi ini mempelajari sektor pertanian secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Selain memahami kegiatan produksi di tingkat petani, mahasiswa juga belajar mengenai pengelolaan sistem agribisnis secara lebih luas. Pendekatan ini mencakup analisis pada level usaha hingga kebijakan. “Mahasiswa akan belajar bagaimana mengelola usaha tani sekaligus memahami dinamika sektor pertanian dari sisi ekonomi dan kebijakan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prodi EPA memiliki kekhasan karena menggabungkan dua pendekatan utama dalam pembelajaran. Mahasiswa dapat mendalami ekonomi pertanian yang berfokus pada analisis ekonomi sektor pertanian, atau manajemen agribisnis yang menitikberatkan pada aspek pengelolaan bisnis. Hani menjelaskan struktur kurikulum memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk memilih minat sesuai ketertarikan. Mata kuliah wajib dan pilihan memungkinkan eksplorasi lintas bidang dalam satu program studi. “Mahasiswa bisa memilih mendalami ekonomi pertanian atau manajemen agribisnis sesuai minat, bahkan tetap bisa mengambil mata kuliah lintas bidang,” ujarnya.

Dari sisi latar belakang, Prodi EPA terbuka bagi lulusan IPA maupun IPS. Hani menyebutkan bahwa kedua latar belakang memiliki peluang yang sama untuk beradaptasi selama perkuliahan. Mahasiswa dari IPA umumnya lebih familiar dengan aspek sains dan matematika. Sementara itu, lulusan IPS memiliki bekal awal dalam bidang ekonomi dan manajemen. “Baik lulusan IPA maupun IPS memiliki peluang yang sama, karena masing-masing memiliki keunggulan yang dapat saling melengkapi,” tuturnya.
Selama perkuliahan, mahasiswa akan mempelajari kombinasi ilmu pertanian, ekonomi, dan manajemen secara bertahap. Pada awal studi, mahasiswa dikenalkan pada dasar-dasar pertanian seperti mikrobiologi, budidaya, dan ilmu tanah. Selain itu, mahasiswa juga mempelajari ekonomi dan manajemen secara umum. Memasuki semester lanjut, mahasiswa mulai memilih minat dan mendalami bidang sesuai arah yang diinginkan. “Mata kuliah yang dipelajari mencakup pemasaran pertanian, pembangunan pertanian, ekonomi internasional, hingga manajemen dan keuangan agribisnis,” ungkap Hani.
Prospek karier lulusan Prodi EPA juga sangat beragam dan terbuka luas. Hani menyebut para alumni bekerja di berbagai sektor, mulai dari instansi pemerintah, perusahaan swasta, hingga lembaga internasional. Selain itu, banyak lulusan yang berkarier di sektor perbankan, industri pangan, serta menjadi peneliti dan akademisi. Tidak sedikit pula yang memilih jalur wirausaha di bidang agribisnis. “Lulusan EPA dapat bekerja di kementerian, perbankan, perusahaan swasta nasional maupun internasional, hingga menjadi wirausaha dan konsultan,” jelasnya.

Di tengah dinamika global, ilmu agribisnis dinilai semakin relevan dalam menjawab berbagai tantangan di sektor pangan. Isu seperti ketahanan pangan, impor komoditas, dan fluktuasi harga menjadi bagian dari kajian dalam perkuliahan. Hani menyebut selama masa perkuliahan, mahasiswa dilatih untuk menganalisis kondisi tersebut dan memberikan rekomendasi berbasis data. Pendekatan ini membekali lulusan dengan kemampuan analitis yang dibutuhkan di dunia kerja. “Topik seperti ketahanan pangan, impor, dan fluktuasi harga dibahas dalam berbagai mata kuliah dan riset untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan,” ujarnya.
Menjelang UTBK SNBT 2026, calon mahasiswa diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan baik dan memahami pilihan program studi yang diminati. Hani mengingatkan pentingnya menjaga semangat belajar serta kesiapan mental dalam menghadapi seleksi. Selain itu, kesehatan juga menjadi faktor penting dalam menjalani proses ujian. Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik pada bidang agribisnis. “Tetap semangat belajar, berdoa, dan jaga kesehatan, kami tunggu di Prodi Ekonomi Pertanian dan Agribisnis UGM,” pungkasnya.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Firsto dan Dok. EPA UGM
