Kehilangan ayah menjadi momen yang paling berat bagi Deni Maulana saat tengah masih di bangku sekolah SMA lima tahun silam. Anak bungsu dari tiga bersaudara asal Cianjur ini sempat khawatir akan masa depan pendidikannya kelak. Mengingat ayahnya selama ini hanya bekerja sebagai buruh tani serabutan dan ibu yang bekerja sebagai pekerja migran di Yordania sejak ia berusia 6 tahun. Beruntung, ia memiliki Ibu yang selalu memotivasinya untuk menggapai mimpi melanjutkan studi di perguruan tinggi.
Masa kecil Deni tidak berjalan seperti kebanyakan anak lainnya. Ia bahkan tidak sempat merasakan pendidikan taman kanak-kanak karena keterbatasan ekonomi keluarga. Saat masuk sekolah dasar, ibunya sudah harus berangkat menjadi TKW di Yordania untuk bekerja dan meninggalkannya demi memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Orang tuanya hanya mengenyam pendidikan hingga Sekolah Dasar. Namun, keterbatasan itu justru menjadi motivasi terbesar bagi Deni untuk melangkah lebih jauh untuk meningkatkan derajat pendidikan keluarga.
Ada satu peristiwa yang terus melekat kuat dalam ingatannya. Saat kondisi ekonomi keluarga sedang sulit, ibunya diam-diam menjual cincin kesayangan yang menjadi satu-satunya barang berharga yang dimiliki, agar Deni tetap bisa sekolah dan memiliki uang untuk makan. “Dari peristiwa itu saya belajar bahwa cinta seorang ibu tidak selalu berbentuk kata-kata, tetapi pengorbanan yang sering kali tidak terlihat,” kenangnya, Rabu (6/6).
Sejak saat itu, mimpi bagi Deni bukan lagi sekadar keinginan, melainkan tanggung jawab. Perjalanan Deni menuju Universitas Gadjah Mada berawal dari dunia sastra yang ditekuninya sejak di bangku sekolah. Semasa SMA, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi bahasa dan sastra hingga berhasil mengoleksi lebih dari 200 penghargaan.
Salah satu capaian yang mengubah hidupnya adalah saat meraih medali emas Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) baca puisi tingkat nasional. Prestasi itu menjadi salah satu modal penting yang membawanya lolos ke UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). “Saya lolos di UGM melalui jalur SNBP. Salah satu yang membawa saya masuk UGM adalah karena saya menjadi peraih medali emas FLS2N Baca Puisi tingkat Nasional,” tuturnya.
Saat ini, Deni tercatat sebagai mahasiswa semester 6 Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM angkatan 2023. Ia juga merupakan penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM) yang membiayai kuliahnya hingga lulus.
Bagi Deni, keberhasilannya hari ini tidak bisa dilepaskan dari doa dan sosok ibunya. Sejak semester pertama, Deni memilih mengajak sang ibu tinggal bersamanya di Yogyakarta. Dari dana beasiswa yang ia terima, ia menyewa kontrakan sederhana agar bisa lebih dekat dengan ibunya.
Keputusan itu lahir dari pengalaman masa kecil yang sempat terpisah karena ibunya bekerja di luar negeri, serta ayahnya yang telah berpulang pada 2021. Sejak saat itu, Ia ingin menghadirkan kebahagiaan sederhana bagi ibunya, menemani dan ditemani dalam setiap proses hidup. “Bagi saya, ibu adalah segalanya, prioritas utama dalam hidup saya. Jika ada yang bertanya apa kunci saya bisa sampai di titik ini, bahkan menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama UGM, maka jawaban saya sederhana, doa ibu,” katanya.
Mahasiswa Berprestasi UGM
Menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mapres) 2026 ternyata bukan target yang muncul secara tiba-tiba. Sejak awal kuliah, Deni sudah mempersiapkan dirinya untuk ajang tersebut. “Keinginan menjadi mapres sudah ada sejak semester 1. Motivasi saya lahir dari latar belakang keluarga buruh tani, dengan orang tua lulusan sekolah dasar. Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk bermimpi besar,” ujarnya.
Disisi lain, motivasinya mengikuti Mapres hingga tingkat nasional adalah untuk memperluas dampak dari inisiatif sosial yang ia kembangkan sekaligus membuktikan bahwa setiap orang dari latar belakang apapun memiliki kesempatan yang sama.
Selama lima semester, Deni membangun portofolio akademik dan non-akademik secara konsisten. Ia aktif mengikuti kompetisi nasional dan internasional, organisasi, pengabdian masyarakat, volunteer, menjadi mentor beasiswa, hingga mendirikan kelas bimbingan belajar puisi bernama Puisi Akademia.
Bagi Deni nilai akademik juga tidak kalah penting sehingga ia konsisten untuk meraih IPK yang diharapkan. Selama menjadi mahasiswa UGM, Deni juga meraih ratusan penghargaan di bidang akademik dan non akademik. “Alhamdulillah, hingga hari ini saya bisa meraih lebih dari 150 lebih penghargaan selama di UGM, baik dalam akademik maupun non akademik,” ujarnya.
Tidak hanya itu, ia juga aktif sebagai kreator konten pendidikan yang berbagi pengalaman seputar masuk perguruan tinggi dan meraih beasiswa. Dari inisiatif tersebut, ia bahkan membuka kelas bimbingan beasiswa gratis bagi ratusan siswa.
Deni percaya kemampuan bukan sesuatu yang langsung jadi, tetapi dibentuk dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Maka dari itu ia percaya bahwa semua orang bisa bukan karena luar biasa, tetapi karena kita tidak lelah untuk terbiasa. Dalam seleksi Pilmapres, ia mencantumkan 10 capaian unggulan terbaik, terdiri atas enam prestasi internasional dan empat prestasi nasional.
Beberapa prestasi internasional yang ia raih antara lain Winner International Korean Poetry Reading Contest, South Korea (2025), 1st Place International Literature Festival Poetry Reading Competition, Malaysia (2024), 2nd Place International Malay Language Poetry Declamation Competition (2023), dan Grand Prize Award South Korea Global Start-Up Idea Competition, South Korea (2025).
Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat mengikuti kompetisi di Korea Selatan dan bertemu peserta dari berbagai negara. Selain itu, momen emosional lainnya yang tidak kalah membanggakan adalah ketika ia terpilih menjadi bagian dari Gita Bahana Nusantara Republik Indonesia dan dipercaya sebagai pembaca puisi dalam Konser Kemerdekaan. Menurutnya, tantangan terbesar dalam perjalanan menjadi Mapres adalah menjaga konsistensi.“Kunci untuk sampai di titik ini bukan menjadi yang paling sempurna, tetapi yang paling konsisten untuk tetap melangkah,” ujarnya.
Perjalanan Deni dalam meraih segala prestasi dan mimpinya, tentu tidak selalu mulus. Saat kecil, ia pernah mengalami perundungan dan diremehkan. “Saya pernah mendapatkan bullying, tapi saya ingin membuktikan dan membalasnya dengan prestasi,” katanya.
Ketika mulai bermimpi kuliah di UGM, tidak sedikit orang yang meragukan langkahnya. Sebagai anak buruh tani, cita-cita itu dianggap terlalu jauh. Namun, Deni memilih menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk melangkah lebih jauh. “Mimpi tidak pernah salah. Yang salah hanya jika kita menyerah sebelum mencobanya,” tegasnya.
Menutup kisahnya, Deni berpesan agar mahasiswa tidak pernah berkecil hati dengan latar belakang keluarga yang dimiliki. “Mimpi tidak pernah membedakan dari mana seseorang berasal. Percayalah bahwa rezeki yang tertakar tidak akan tertukar, dan mimpi yang dijaga dengan sabar akan menemukan jalannya untuk menjadi nyata,” pesannya.
Pemegang moto ”Man Jadda Wa Jadda” ini juga berpesan bahwa kesungguhan tidak pernah mengkhianati hasil, sehingga dalam setiap proses yang dilaluinya, ia memilih untuk terus berusaha, tetap konsisten, dan tidak menyerah sampai tujuan itu benar benar tercapai.
Bagi Deni, pendidikan tetap menjadi warisan terbaik yang mampu mengubah masa depan. Dan kisah hidupnya hari ini menjadi bukti nyata bahwa jalan menuju mimpi bisa terbuka dari mana saja, bahkan dari selembar puisi, doa seorang ibu, dan tekad seorang anak buruh tani dan TKW yang menolak menyerah.
Penulis : Astri Wulandari
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Deni
