Dampak bencana banjir bandang dan hujan ekstrem di Aceh Tamiang menyisakan pilu yang mendalam. Kerusakan infrastruktur yang masif tidak hanya memutus akses jalan dan jembatan, tetapi juga menghancurkan rumah-rumah warga, menjadikan kawasan ini terisolasi dan sulit dijangkau. Menghadapi kondisi kritis tersebut, Universitas Gadjah Mada bersama Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Aceh bergerak cepat memetakan wilayah yang paling membutuhkan uluran tangan. Dari hasil analisis bersama, disepakatilah bahwa Kampung Sekumur menjadi daerah prioritas utama yang harus segera dibantu.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan tingkat keparahan dampak bencana di lapangan. “Daerah ini daerah yang terdampak paling parah ya, sehingga memerlukan bantuan dan sulit untuk dijangkau. Jadi, kita memfokuskan di (daerah) sini. Ini juga keputusan bersama dengan Kagama Aceh. Jadi, mereka melakukan analisis kira-kira mana yang perlu diprioritaskan,” jelas Ova dalam wawancara dengan wartawan usai acara serah terima Hunian Sementara di Kampung Sekumur, Minggu (5/7).
Sebagai langkah konkret, UGM dan Kagama Aceh mendirikan 26 unit Hunian Sementara (Huntara) bagi warga Kampung Sekumur. Uniknya, huntara ini dibangun dengan memanfaatkan material kayu-kayu yang hanyut terbawa banjir bandang pada November silam, sebuah upaya kreatif di tengah keterbatasan materi dan akses logistik.
Manfaat bantuan ini dirasakan langsung oleh Ibu Sariyah (60), seorang petani setempat. Setelah berbulan-bulan terpaksa bertahan di tenda pengungsian yang tidak layak, kehadiran huntara ini bagaikan oase yang mengembalikan martabat hidupnya. Sambil berkaca-kaca, ia menumpahkan rasa syukur yang tak terhingga atas bantuan rumah sementara ini. “Kami mengucapkan ribuan terima kasih. Banyak sekali terima kasihnya hingga tak terhingga-hingga. Kami bersyukur sekali. Dulu kan kami masih di tenda, Ibu, Bapak. Jadi, kami sekarang sudah dapat rumah ini. Kami rasanya nyenyak tidur, ngga kepanasan, ngga kena hujan lagi,” ungkap Ibu Sariyah penuh emosi.
Saking antusiasnya, Ibu Sariyah bahkan nekat langsung menempati huntara tersebut meski pembangunannya belum rampung sepenuhnya. Selama di tenda darurat, kondisi fisiknya terus menurun karena sering sakit-sakitan. Perjuangan Ibu Sariyah untuk pulih pun luar biasa; ia bahkan rela menjual seluruh aset transportasi keluarganya demi membersihkan sisa banjir. “Semua yang ada dijual semua. Sebelas juta tuh habis untuk ngoreknya (tanah yang menimbun rumah),” kenangnya pilu.
Senada dengan Ibu Sariyah, Ibu Mardiah (40) juga tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Perkebunan sawit yang menjadi tumpuan nafkahnya hancur total disapu banjir, namun setidaknya kini ia memiliki tempat bernaung yang layak. “Senang kali, Pak. Ibaratnya kita sudah terbantu rasanya, ada tempat tinggal. Yang biasanya kami nunggu di tenda, ini sekarang udah ada rumah. Rasanya bersyukur sekali, atas bantuan yang diberikan,” ucap Ibu Mardiah.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari kuatnya solidaritas jaringan alumni UGM. Sekretaris Jenderal PP Kagama, Nezar Patria, menyampaikan apresiasinya terhadap Kagama Aceh yang dinilai sebagai salah satu pengurus daerah terkuat. Bantuan yang disalurkan merupakan hasil patungan kolektif dari Kagama Pusat hingga berbagai Kagama daerah. “Kami membangun hunian sementara, ada 26 unit yang dibangun. Selain itu, terdapat sejumlah pembangunan yang kami lakukan, seperti perbaikan sekolah dan perlengkapan sekolah di beberapa titik di Aceh Tamiang dan Aceh Timur,” tutur Nezar.
Ia menambahkan bahwa pada pekan awal pasca-bencana, timnya juga bergerak cepat menginisiasi pemenuhan kebutuhan logistik dasar bagi para pengungsi.
Melihat hasil nyata ini, Bupati Aceh Tamiang mengimbau warga Kampung Sekumur untuk menjaga aset yang telah diberikan. “Hasil program peduli bencana ini dapat dirawat, dijaga, dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Mari kita jadikan momentum ini untuk pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat,” tegasnya
Hal ini sejalan dengan pesan Gubernur Aceh yang dikutip oleh Ketua Pengurus Daerah Kagama Aceh sekaligus menjabat Sekda Provinsi Aceh, M.Nasir, menyampaikan pemerintah provinsi sudah menghentikan masa transisi pemulihan bencana dan saat ini menuju tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. “Sudah kita hentikan proses transisi pemulihan, kita masuk segera ke tahap rehab-rekon (rehabilitasi dan rekonstruksi),” ujarnya
Komitmen UGM dan Kagama tidak berhenti pada pembangunan fisik huntara. Berangkat dari pengalamannya saat meninjau lokasi penyerahan bantuan, Nezar Patria mendapati adanya beberapa titik blank spot atau kehilangan sinyal seluler sepanjang perjalanan menuju lokasi. Merespons kendala tersebut, Nezar yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) berjanji akan segera mengambil tindakan nyata. “Kami akan menyegerakan pembangunan access point untuk internet di Desa Sekumur demi kelancaran urusan pendidikan, kesehatan, hingga tata kelola pemerintahan desa,” tegas Nezar, membawa angin segar bagi digitalisasi kawasan pelosok Aceh.
Di sisi lain, Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kerja sama yang solid dari seluruh pihak. Ia memastikan UGM akan terus mengawal proses pemulihan jangka panjang masyarakat Tamiang agar menjadi komunitas yang tangguh bencana. Salah satu strategi yang disiapkan adalah menerjunkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik ke wilayah tersebut. “UGM akan tetap mendampingi masyarakat tangguh Tamiang untuk menghadapi tahap rehab-rekon berikutnya dengan mengirimkan mahasiswa KKN ke sini, guna menganalisis, mengkaji, dan mencari solusi-solusi yang terbaik,” tutur Ova.
Bahkan, UGM membuka peluang masa depan yang cerah bagi anak-anak muda di wilayah terpinggirkan ini melalui program pre-university. Program khusus ini dirancang agar generasi muda di wilayah tersebut mendapatkan kesempatan untuk mencicipi bangku kuliah di kampus biru UGM.
Meskipun rumah sementara telah berdiri dan asa baru mulai tumbuh, tantangan di depan mata masih membentang. Pada tahap rehab-rekon ke depan, warga seperti Ibu Sariyah sangat mengharapkan adanya bantuan lanjutan berupa modal hidup. “Kebun-kebun sudah habis, sawit habis, semuanya habis, kelapa habis, ga ada lagi penghasilannya. Kalaupun kami berdagang, apa yang mau kami dagangkan? Kami berharap ada bantuan seperti bibit tanaman agar lahan kosong ini bisa kami tanami lagi untuk sumber penghasilan,” tutup Ibu Sariyah penuh harap.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
