Sebanyak lima orang dosen dari Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) mempresentasikan hasil penelitian dalam 20th World Congress of Basic and Clinical Pharmacology (WCP 2026) yang berlangsung pada 12–18 Juli 2026 di Melbourne Convention and Exhibition Centre (MCEC), Melbourne, Victoria, Australia. Kongres tersebut mempertemukan peneliti dan akademisi dari berbagai negara untuk membahas perkembangan ilmu farmakologi, penemuan dan pengembangan obat, serta inovasi dalam terapi. Kelima dosen yang ikut mempresentasikan hasil penelitiannya yakni Prof. Dr. Mae Sri Hartati Wahyuningsih, M.Si., Apt, Prof. Dr. apt. Mustofa, M.Kes.,Prof. Dr. dr. Eti Nurwening Sholikhah, M.Kes., M.Med.Ed., Sp.KKLP dan Dr. dr. Rul Afiyah Syarif, M.Kes.
Keikutsertaan lima dosen tersebut menjadi bagian dari upaya Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM untuk memperluas diseminasi hasil penelitian sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara. “Keikutsertaan dalam WCP 2026 menjadi kesempatan bagi kami untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus memperluas jejaring kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara,” ujar Mae Sri Hartati Wahyuningsih, dalam keterangan yang dikirim Rabu (2/9).
Mae menuturkan, lima hasil penelitian yang dipresentasikan dengan fokus yang beragam, mulai dari pengembangan kandidat obat berbahan alam dan senyawa sintesis, toksikologi, hingga farmakogenomik. Baginya, hasil penelitian yang dipresentasikan menunjukkan pengembangan riset farmakologi yang dilakukan FK-KMK UGM dalam mendukung penemuan terapi yang lebih aman dan efektif.
Mae Sri Hartati Wahyuningsih mengaku dirinya mempresentasikan poster berjudul Bioassay-Guided Fractionation of Clinacanthus nutans: An In Vitro/In Silico Approach. Penelitian tersebut mengeksplorasi potensi tanaman herbal Clinacanthus nutans melalui pendekatan bioassay-guided fractionation yang dipadukan dengan analisis in vitro dan in silico. “Pendekatan tersebut digunakan untuk mengidentifikasi senyawa aktif yang berpotensi dikembangkan sebagai kandidat obat,” ujarnya.
Sementara itu, Mustofa menyampaikan oral presentation berjudul Activity of a Chalcone Derivate on DMBA-induced Breast Cancer in Rat. Penelitian ini mengkaji aktivitas turunan senyawa kalkon terhadap model kanker payudara yang diinduksi DMBA pada tikus. Kajian tersebut menjadi bagian dari penelitian untuk mengembangkan senyawa sintesis yang berpotensi sebagai kandidat terapi.
Penelitian mengenai keamanan obat berbahan alam turut dipresentasikan oleh Eti Nurwening Sholikhah, M melalui poster berjudul Acute Oral Toxicity Evaluation of Polyherbal Tablet Containing Abrus precatorius Folia. Penelitian tersebut mengevaluasi toksisitas akut secara oral pada sediaan poliherbal sebagai salah satu tahapan dalam pengembangan obat berbahan alam.
Selanjutnya, Rul Afiyah Syarif, mempresentasikan poster berjudul Tithonia diversifolia Fractions Interfered With Plasmodium falciparum Growth Through Cysteine Protease Inhibition. Penelitian tersebut mengkaji potensi fraksi Tithonia diversifolia sebagai kandidat antimalaria melalui mekanisme penghambatan enzim cysteine protease pada Plasmodium falciparum.
Di bidang farmakogenomik, Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, mempresentasikan poster berjudul Genomic Profile for Personalized Medicine: Key Pharmacogene Frequencies in the Yogyakarta Population. Penelitian ini memetakan distribusi variasi gen farmakogenetik pada populasi Yogyakarta sebagai dasar pengembangan precision medicine. Informasi tersebut dapat mendukung pengembangan pendekatan terapi yang mempertimbangkan karakteristik genetik pasien.
Selain mempresentasikan hasil penelitian, kata Mae, para dosen juga mengikuti plenary lecture, keynote lecture, simposium, workshop, dan innovation theatre. Berbagai sesi tersebut membahas perkembangan drug discovery and development, termasuk identifikasi target terapi, virtual screening, high-throughput screening, optimasi senyawa, evaluasi ADME dan toksisitas, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam penemuan obat.
Pengetahuan yang diperoleh selama kongres selanjutnya dapat diterapkan dalam kegiatan pendidikan dan penelitian di Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM, khususnya dalam bidang drug discovery and development, farmakogenomik, precision medicine, dan NAMs. Selain itu, kegiatan WCP 2026 ini membuka peluang pengembangan penelitian multidisiplin dan kolaborasi internasional yang dapat mendukung hilirisasi hasil penelitian. “Melalui penguatan jejaring penelitian, hasil riset diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut hingga memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pelayanan kesehatan,” katanya.
Penulis: Zabrina Kumara
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Dok. Tim
