Melimpahnya hasil samping industri pangan membuka peluang pemanfaatan bahan alternatif sebagai pakan ternak. Salah satunya adalah ampas kacang hijau yang memiliki potensi sebagai bahan pakan domba, tetapi membutuhkan penanganan dan pengolahan yang tepat karena kadar airnya tinggi sehingga mudah mengalami kerusakan. Kondisi ini menjadi salah satu persoalan yang dihadapi Peternakan Way Farm, Yogyakarta. Menurut peternak setempat, Laut, pasokan ampas kacang hijau yang diterima mencapai sekitar 400 kilogram per hari. Dari jumlah tercatat, sekitar 240 kilogram dapat dimanfaatkan sebagai pakan, sedangkan sisanya berpotensi terbuang karena keterbatasan proses pengolahan.
Persoalan tersebut mendorong tim mahasiswa UGM mengembangkan mesin Femixa, sebuah inovasi mekanisasi untuk mengoptimalkan pengolahan ampas kacang hijau sebagai bahan pakan domba. Inovasi ini dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Iptek (PKM-PI) yang lolos pendanaan dengan mengintegrasikan proses penurunan kadar air dan pencampuran bahan pakan dalam satu alat. Tim ini terdiri atas Abram Adityaswara, Dananjaya Sastra Jati, Mirza Dhiyaulhaq, Nafisah Aulia, dan Muhammad Haidillah Farhan.
Ketua tim, Abram Adityaswara, menjelaskan bahwa terdapat beberapa keterbatasan peternak dalam proses pencampuran pakan, terlebih lagi dengan volume ratusan kilogram bahan. Maka dari itu, adanya inovasi ini sangat membantu efisiensi dan efektivitas peternak dalam mengelola bahan limbah yang tersedia. “Dengan mekanisme pencampuran bertenaga motor pada Femixa, efisiensi kerja peternak meningkat signifikan dan kualitas pencampuran pakan menjadi lebih konsisten,” ujarnya, Kamis (3/9).

Femixa menggabungkan beberapa mekanisme dalam proses pengolahan pakan. Ampas kacang hijau terlebih dahulu diproses menggunakan pressing tool untuk membantu menurunkan kadar air. Selanjutnya, bahan tersebut dicampurkan dengan bahan pakan lainnya menggunakan sistem mixing yang digerakkan oleh motor. “Mekanisme seperti itu dirancang untuk menghasilkan campuran pakan yang lebih homogen sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga dan waktu dalam proses pencampuran secara manual,” katanya.
Pengembangan Femixa juga mempertimbangkan kondisi operasional di Way Farm yang memiliki keterbatasan akses listrik. Oleh karena itu, alat tersebut dilengkapi dengan sistem energi surya sebagai sumber daya untuk mendukung pengoperasiannya.
Farhan sebagai salah satu anggota tim, menjelaskan, tantangan yang masih dihadapi tim adalah memastikan Femixa dapat dikembangkan menjadi alat yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan peternak. Proses itu masih membutuhkan berbagai tahap pengujian dan trial and error untuk mendapatkan mekanisme yang optimal. “Pencapaian tim kami sejauh ini adalah berhasil mendapatkan pendanaan untuk implementasi alat ini. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menerapkannya menjadi alat yang berkelanjutan dan terus melakukan trial and error agar sesuai dengan kebutuhan mitra,” jelas Farhan.
Melalui Femixa, tim mahasiswa UGM berupaya memberikan solusi terhadap persoalan pengolahan hasil samping industri pangan sekaligus membantu meningkatkan efisiensi proses penyediaan pakan di tingkat peternakan. Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi potensi limbah ampas kacang hijau dan meningkatkan nilai ekonominya melalui pemanfaatan sebagai bahan pakan domba.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim
