Universitas Gadjah Mada mengambil peran dalam upaya penanganan tanggap darurat bencana yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dukungan diberikan melalui penguatan koordinasi, pendampingan mahasiswa terdampak, penggalangan bantuan, hingga persiapan program pemulihan dan pengabdian masyarakat. Untuk membantu masyarakat terdampak bencana NTT, FK-KMK UGM telah menerjunkan langsung tim tanggap bencana ke Manggarai dengan fokus utama untuk membantu penanganan korban luka dan memberikan pelayanan kesehatan.
Sekretaris Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) Dr. Djarot Heru Santoso menegaskan UGM akan mengirim tim asesmen kedua untuk membantu mempersiapkan penanganan pasca darurat. Hasil asesmen ini nantinya untuk menentukan lokasi yang akan digunakan relawan dan KKN Peduli Bencana yang diperkirakan akan berangkat pada September ini. “Sejauh ini, sudah ada 15 kandidat mahasiswa yang dinyatakan siap secara fisik dan mental untuk diterjunkan,” kata Djarot dalam keterangan kepada wartawan, Jumat (4/9).
Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan teman-teman Pengda Kagama NTT khususnya di Kabupaten Sikka, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, dan Kabupaten Flores. “Koordinasi ini sudah dilakukan untuk penyaluran bencana darurat,” ucapnya.
Terkait mahasiswa dari UGM yang terkena dampak dari bencana gempa di NTT, Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si., menyebutkan terdapat 47 mahasiswa yang terdampak bencana. Untuk menunjang kebutuhan dasar mahasiswa selama menghadapi situasi darurat, UGM memberikan voucher makan gratis yang dapat diambil dua kali sehari di UC Hotel. “Pemberian voucher makan sudah dijalankan mulai tanggal 21 Agustus hingga saat ini. Selanjutnya, pihak ditmawa sedang melaksanakan asesmen lebih lanjut terkait bantuan yang dibutuhkan oleh masing-masing mahasiswa,” katanya.
Tegar Zulal Barru, selaku koordinator bidang kemasyarakatan Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM mengatakan pihaknya akan berkontribusi dalam program Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa) untuk membantu warga korban bencana gempa di NTT. Tegar bersama dengan tim Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Airlangga (Unair) melakukan konsolidasi untuk mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana di NTT.
Tegar menuturkan dari hasil konsolidasi ini, mereka tengah menyiapkan program yang bisa dilakukan dalam membuka pelayanan pendidikan yang memang dibutuhkan oleh para siswa. Menurut Tegar, masyarakat masih memiliki trauma untuk memasuki gedung membuat banyak anak-anak yang terhambat proses belajarnya sehingga orang tua mengharapkan adanya sekolah darurat agar proses belajar bisa terus dilakukan. “Adanya bencana ini memiliki masa pemulihan yang lama, saya berharap kami bisa terus bekerja sama untuk membantu masyarakat terdampak,” tuturnya.
Sejalan dengan harapan tersebut, Djarot menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi segala pihak karena bencana dengan skala besar tidak bisa ditangani sendiri. Ia juga berharap UGM dapat berkontribusi lebih dalam sektor pendidikan dan penanganan trauma healing bagi masyarakat terdampak terutama anak-anak. “Bantuan sekecil apapun, UGM pasti akan turut berkontribusi untuk mahasiswa dan masyarakat NTT secara langsung,” ujar Djarot.
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto : Tim Relawan FK-KMK
