Keluarga besar Universitas Gadjah Mada berduka setelah salah satu sosok sejarawan terbaiknya, Prof. Dr. H. Djoko Suryo, berpulang pada Senin (7/9) pukul 04.40 WIB pada usia 86 tahun di Rumah Sakit Akademik UGM, Yogyakarta. Sebelum dimakamkan di Pemakaman Keluarga Besar UGM, Sawitsari, Yogyakarta, jenazah disemayamkan terlebih dahulu di halaman Balairung, Gedung Pusat UGM pukul 14.00 WIB.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Setiadi, M.Si., menyampaikan rasa kehilangan atas berpulangnya salah satu guru besar terbaik FIB UGM. Bagi FIB UGM, almarhum bukan sekadar mantan pimpinan, melainkan teladan hidup. “Bagi kami Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada beliau bukan hanya seorang mantan pimpinan tapi sesungguhnya beliau adalah pilar mentor dan keteladanan hidup bagi Fakultas Ilmu Budaya. Dedikasi beliau dalam membangun pondasi keilmuan, menjaga nilai-nilai humaniora, menjaga nilai-nilai ke-UGM-an,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa karir akademik almarhum dimulai sebagai asisten dosen Fakultas Sastra UGM sejak 1965-1969. Selain itu, almarhum juga dikenal aktif mengabdi di beberapa universitas, seperti menjadi dosen UIN Sunan Kalijaga, dosen Universitas Jember, dan dosen Pascasarjana UGM. Mendiang juga pernah menjadi konsultan Penelitian dan Pengurusan Buku pada Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan periode 1985-1990.
Selama masa pengabdiannya, almarhum juga menerima penghargaan anugerah kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2023 kategori pelestari atau pelaku kebudayaan. Atas pengabdiannya kepada Keraton Yogyakarta, mendiang kemudian mendapatkan gelar Kehormatan Keraton Yogyakarta Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suryohadibroto, serta penghargaan Tokoh Sewindu Undang-undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2020. “Selain penghargaan kebudayaan, mendiang juga pernah menerima berbagai kesempatan dan kehormatan akademis internasional, seperti program pasca doktoral di Cornell University, AS (1989), menjadi dosen tamu di Thailand, serta menjadi Research Fellow di Korea Selatan,” jelasnya.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyampaikan rasa duka dan kehilangan yang mendalam atas kepulangan salah satu guru terbaik UGM. Ia mengenang mendiang sebagai sejarawan humanis yang senantiasa aktif merawat sejarah dan kebudayaan Indonesia. Ia menuturkan bahwa bagi mendiang, sejarah merupakan takdir kemanusiaan yang sangat lekat dengan kedalaman empati, kesadaran etik, dan kerendahan hati. “Beliau mampu memotret peradaban secara kritis dalam kebijaksanaan tradisi intelektualnya. Sebab bagi beliau, setiap kejadian meninggalkan refleks makna bagi peradaban masa depan,” ucapnya.
Meskipun sudah tiada, Ova menuturkan bahwa karya-karya almarhum akan selalu dikenang dalam ingatan kolektif bangsa. Ia juga mengenang pidato ilmiah pengukuhan guru besar mendiang pada tahun 1998 berjudul Masyarakat Indonesia dalam Dinamika Sejarah, Kesinambungan dan Perubahan. “Sebaran amalan ilmu dan karya beliau, Insya Allah menjadi ladang ibadah dan pembuka jalan pengembangan ilmu pengetahuan masa depan,” ungkapnya.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
