Sains berdampak bukan hanya menghasilkan teknologi tetapi membangun sebuah ekosistem yang bermula dari rasa ingin tahu, dikuatkan oleh ilmu dasar, diuji melalui riset, diperbesar melalui kolaborasi, ditetapkan untuk menjawab persoalan nyata dan pada akhirnya memberi nilai tambah bagi manusia dan bangsa. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM telah berhasil mengembangkan 820 hasil riset inovasi yang dilakukan para penulisnya, diantaranya pengembangan potensi minyak maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bahan baku bioavtur untuk pesawat. Selain itu, kolaborasi multidisiplin ilmu FMIPA, FK-KMK UGM dan mitra internasional mengembangkan inovasi alat kesehatan bernama cNose-Hidung elektronik Portable 2026.
Dekan FMIPA Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., meyakini bahwa sains harus kokoh pada ilmu dasarnya, unggul dalam risetnya, tetapi pada akhirnya memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, industri, dan bangsa.
Menurutnya, salah satu bagian dari sains berdampak yang telah dilakukan FMIPA yaitu Self-Potential and Electrical Resistivity Tomography (SPERT) merupakan metode geofisika yang dikembangkan oleh peneliti FMIPA UGM untuk memonitor karakteristik serta dinamika aliran fluida di bawah permukaan tanah secara langsung. “Teknologi ini telah dialih teknologikan kepada PT. Elnusa sehingga pengetahuan dari laboratorium di kampus dapat tumbuh menjadi produk teknologi untuk mendukung sektor energi serta pengembangan energi baru dan terbarukan,” ujar Kuwat dalam Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-71 di Auditorium Herman Johanes FMIPA UGM pada Senin (21/9).
Kuwat menyampaikan bahwa selama dua tahun terakhir, FMIPA telah membuktikan skema pemberdayaan pasca purna tugas bahkan mampu memberikan penghasilan. Menurutnya, skema ini menunjukkan bahwa pengalaman, keahlian, dan jejaring seorang dosen maupun tenaga kependidikan tidak serta merta kehilangan nilai hanya karena batas usia administratif telah tercapai. “Mohon doa dan dukungan agar skema ini dapat terus diperbaiki, diperluas, dan dilanjutkan kepemimpinan selanjutnya,” ucapnya.
Ia juga menambahkan kedepannya, FMIPA perlu semakin serius membangun research to value engine yaitu sebuah ekosistem yang mempertemukan tantangan nyata dari industri dengan kekuatan riset yang dimiliki sehingga inovasi dapat berkembang yang akhirnya menghasilkan dampak ekonomis sekaligus dampak sosial.“Saya berharap setidaknya kita telah bersama-sama meletakkan berbagai batu pijakan agar perjalanan setelahnya dapat melangkah lebih maju dan lebih baik lagi,” harapnya.
Sementara itu, Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., mengapresiasi segala prestasi dan inovasi yang digiatkan FMIPA UGM. Ova juga meyakini bahwa FMIPA masih memiliki banyak rencana yang menjadi bagian dari perwujudan komitmen fakultas untuk mencetak inovasi berdampak dan mewujudkan kemandirian bangsa. Ia menyebutkan sebanyak 820 luaran hasil riset dosen FMIPA telah diterapkan oleh masyarakat, industri, dan pemerintah. “Segenap capaian kinerja Fakultas MIPA senantiasa akan menjadi inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di bidang sains masa depan,” ungkapnya.
Amalia Susilowati Prabowo S.Str. MM. CMT., selaku Presiden Direktur Exporthub.id memaparkan pidato ilmiah yang bertajuk “From Knowledge to Value: Unlocking the Economic Potential of University Research”. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar penelitian di kampus belum mencapai aspek sosial impact tetapi masih dalam level prototype. Banyak penelitian yang didasarkan pada ilmu pengetahuan belum melihat permasalahan secara langsung. Oleh karena itu, penelitian belum bisa dikomersilkan sebab tidak terlalu dibutuhkan di masyarakat. “Banyak sekali potensi tetapi tidak laku untuk dikomersialisasikan karena risetnya seringkali berbasis dari keilmuan bukan kebutuhan pasar,” paparnya.
Menurutnya, pengelola perguruan tinggi perlu memperkuat pemahaman terkait perkembangan bisnis di jajaran akademisi. Menurutnya, ketika Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia dapat bekerja sama dengan FMIPA UGM memiliki peluang yang sangat besar untuk mendapatkan investor. Ia merekomendasikan FMIPA UGM untuk mulai mencari setidaknya champion research. Kemudian mengundang industri untuk mengetahui kebutuhan mereka yang sejalan dengan FMIPA. Selanjutnya dapat didiskusikan dengan alumni sebagai angel investor untuk mendampingi riset hingga mencapai tahap produksi masif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. “Semangat yang ingin saya sampaikan adalah mari berdiskusi bersama antar peneliti dan industri sebelum melakukan penelitian untuk menghasilkan dampak yang signifikan,” tuturnya.
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Firsto
