Peningkatan produktivitas sapi dan kambing perah membutuhkan pengelolaan pakan yang tepat, kecukupan nutrisi, serta pencegahan penyakit. Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan penyuluhan dan diskusi bersama peternak di Desa Kayumas, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Rabu (14/10), yang diinisiasi oleh akademisi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada.
Dr. drh. Yanuartono, M.P., Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKH UGM membahas manajemen pemeliharaan dan pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak, khususnya sapi dan kambing perah. Sementara itu, drh. Sugiyono, M.Sc. dari Departemen Patologi FKH UGM menyoroti persoalan penyakit pada kedua jenis ternak tersebut serta pentingnya mengenali dan mencegah gangguan kesehatan sejak dini.
Yanuartono menekankan pentingnya menyiapkan cadangan pakan untuk menghadapi musim kemarau. Berkurangnya ketersediaan hijauan dapat menjadi tantangan bagi peternak, sehingga penyediaan pakan perlu direncanakan sebelum musim kemarau tiba. “Seharusnya kita sudah menyiapkan stok itu dari musim kemarin sebelum kemarau panjang, sehingga di kemarau panjang ini kita agak bisa bernapas lega,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh para peternal ialah mengolah hijauan menjadi silase, yakni pakan yang diawetkan melalui proses fermentasi. “Dengan menyediakan cadangan pakan, peternak dapat mengantisipasi keterbatasan hijauan sekaligus menjaga kesinambungan pemberian pakan kepada ternak”, ungkapnya.
Selain jumlah pakan, Yanuartono menjelaskan bahwa kecukupan nutrisi juga perlu diperhatikan. “Kebutuhan nutrisi berkaitan dengan kondisi tubuh, produktivitas, dan kemampuan ternak menghasilkan susu. Karena itu, pengelolaan pakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan ternak dan kemampuan peternak dalam menyediakan pakan secara berkelanjutan,” imbuhnya.
Yanuartono juga menyoroti kondisi kandang sebagai bagian dari manajemen pemeliharaan. Jenis atap, ketinggian bangunan, dan sirkulasi udara perlu dievaluasi agar ternak tidak mengalami kondisi panas berlebihan. “Apakah seng, asbes, atau genteng, karena kalau seng atau asbes itu pada kondisi saat ini seperti tadi pagi sampai tadi siang otomatis akan sangat panas. Kemudian, ketinggian atap dengan jarak lantai itu seberapa tinggi dan sirkulasi udara yang beredar di kandang seperti apa. Selain faktor pakan tadi, ini yang harus kita evaluasi,” jelasnya.
Menurutnya, produktivitas ternak tidak dapat ditingkatkan hanya dengan menambah pakan. Kondisi kandang dan pengelolaan pemeliharaan secara keseluruhan juga perlu diperhatikan untuk mendukung kenyamanan serta produktivitas sapi dan kambing perah.
Selain manajemen pemeliharaan, kesehatan ternak menjadi aspek penting dalam menjaga produktivitas peternakan. Dalam pembahasan mengenai penyakit pada sapi dan kambing perah, drh. Sugiyono, M.Sc. menyoroti pentingnya memahami faktor yang berkaitan dengan munculnya gangguan kesehatan serta melakukan pencegahan dan penanganan yang tepat. Salah satu persoalan yang dibahas ialah mastitis atau peradangan ambing pada sapi perah.
Sugiyono menjelaskan bahwa penyakit tersebut perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan kesehatan kambing dan kualitas susu yang dihasilkan. “Pemeriksaan ternak tidak seharusnya hanya berfokus pada kebersihan puting, tetapi juga perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan ternak secara menyeluruh. Jadi jangan terus, ‘Wah, ini sapiku mastitis, puting kurang apik.’ Itu salah satu, masih ada dua sisi yang harus kita perhatikan,” ungkapnya.
Sugiyono juga menyoroti hubungan gangguan kesehatan pada sapi perah dengan kualitas susu yang dampaknya dapat memengaruhi penjualan susu di koperasi-koperasi. “Susu yang tidak memenuhi persyaratan kualitas berisiko ditolak oleh koperasi atau pihak pengolah. Oleh karena itu, peternak perlu memperhatikan kebersihan saat pemerahan, memantau kondisi ambing, dan segera mengevaluasi perubahan kondisi ternak”, tuturnya.
Pembahasan kesehatan ternak juga mencakup dugaan gangguan pada kambing Peranakan Etawa (PE) yang berkaitan dengan kekurangan yodium. Dalam diskusi tersebut, muncul dugaan bahwa karakteristik tanah di wilayah Kayumas dapat berkaitan dengan ketersediaan mineral yang kemudian memengaruhi asupan ternak. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut, termasuk melalui kajian kadar iodium pada kambing.
Salah satu warga Desa Kayumas, Ikhwan, mengapresiasi kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh FKH UGM. Menurutnya, penyuluhan tersebut bermanfaat, terutama bagi peternak muda yang masih membutuhkan pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola ternak.
“Banyak membantu peternak-peternak muda seperti saya. Mungkin banyak masalah yang belum diketahui, tetapi tadi sudah dijelaskan oleh bapak-bapak dosen dan guru, termasuk kiat-kiat atau cara mengatasinya. Ini sangat berguna bagi peternak milenial seperti saya,” ungkap Ikhwan.
Ke depan, Ikhwan berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara berkala. Ia mengusulkan adanya forum berbagi pengalaman antar peternak serta kesempatan bagi peternak untuk berkunjung ke UGM guna melihat praktik pengelolaan peternakan yang baik.
“Harapannya, mungkin sering-sering diadakan sharing atau semacam pertemuan peternak seperti kami, supaya bisa mendapat undangan ke UGM dan melihat bagaimana cara beternak yang bagus dan baik. Atau, pihak UGM juga bisa sering datang ke sini untuk mengecek peternak-peternak kami yang mungkin usahanya belum begitu besar,” pungkasnya.
Melalui penyuluhan ini, peternak diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan pakan, kecukupan nutrisi, kondisi kandang, serta pencegahan dan pengenalan penyakit pada sapi dan kambing perah. Perhatian terhadap aspek manajemen dan kesehatan secara bersamaan menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas ternak dan keberlanjutan usaha peternakan masyarakat.
Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Departemen Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) yang mengusung tema “Penguatan Manajemen Pemeliharaan Ternak Ruminansia Kecil untuk Pencegahan Penyakit Endemis”.
Penulis/Foto : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
