Pemeliharaan ayam cage-free atau bebas sangkar merupakan metode budidaya yang tidak menggunakan kandang baterai sehingga ayam memiliki ruang gerak lebih leluasa dan dapat berinteraksi langsung dengan lingkungan, ayam lain, serta litter atau alas kandang. Namun, perubahan sistem pemeliharaan tersebut juga membawa konsekuensi terhadap kesehatan unggas secara keseluruhan. “Kalau kita bicara cage-free, ya itu bukan berarti bebas dari penyakit,” kata Guru Besar Bidang Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, M.P., dalam seminar Nasional Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026 yang berlangsung di Auditorium FKH UGM, Rabu (9/9).
Michael menjelaskan bahwa sistem budidaya bebas sangkar menjadikan ayam petelur memiliki ruang gerak dan kontak yang lebih luas lingkungan sekitar. Kondisi tersebut, dikatakan oleh Michael, dapat meningkatkan peluang terjadinya paparan dan penularan berbagai penyakit, termasuk Salmonella, Avian pathogenic, E. coli, koksidiosis, Infectious bronchitis virus (IBV), Avian influenza (AI), dan Mycoplasma.
Menurutnya, perlu digaris bawahi bahwa penerapan cage-free tidak serta merta menghilangkan kebutuhan terhadap vaksinasi dan biosecurity. Pengendalian lingkungan, kepadatan ayam, kualitas pakan dan air, pengelolaan kotoran, ventilasi, hingga pengendalian debu dan amonia menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan unggas. Tak lupa, ia juga mengingatkan untuk memantau kondisi ayam secara berkala melalui perubahan konsumsi pakan dan air, aktivitas ayam, jumlah serta kualitas telur, hingga munculnya gejala penyakit.
Ia menganjurkan agar peternak tidak seharusnya menunggu hingga terjadi peningkatan kematian ayam untuk mengetahui adanya masalah kesehatan. “Kalau sudah ada kematian, berarti masalahnya sudah berjalan,” jelasnya.
Bagi Michael, sistem cage-free memiliki tantangan tersendiri dalam melakukan pengamatan karena ayam tidak ditempatkan secara individual seperti pada kandang baterai. Karena itu, Michael menyarankan agar para peternak dapat mengamati kondisi individu ayam guna mengetahui perubahan kondisi kesehatannya lebih awal.
Meski demikian, Michael menyatakan dukungannya terhadap pengembangan sistem cage-free. Namun ia menilai bahwa pengembangan tersebut mesti diikuti dengan penciptaan pasar yang mampu memberikan nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan. “Saya secara personal tidak anti dengan cage-free. Saya support cage-free, tapi ya problemnya adalah peternak harus menciptakan pasar untuk itu,” pungkasnya.
Manager Layer Farm PT Wododo Makmur Unggas, Tbk., Ir. Arif Afiata Rahmat, S.Pt., IPP., menilai penerapan sistem cage-free tidak hanya dilihat dari aspek kesejahteraan hewan, tetapi juga dari produktivitas, struktur biaya, dan harga jual telur. Menurutnya, produktivitas ayam turut dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. “Memang benar, produktivitas itu adalah interaksi antara genetik dan lingkungan,” ujarnya.
Dikatakan Arif, faktor lingkungan atau manajemen memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap produksi maupun feed conversion ratio (FCR). Berdasarkan survei yang dilakukannya pada 2025 terhadap peternak layer di Indonesia, tercatat sebagian peternak masih belum mencapai target puncak produksi. Kondisi tersebut, menurutnya, dipengaruhi oleh manajemen dan keseragaman kondisi ayam. “Memang mayoritas peternak di Indonesia masih belum mencapai target. Hal tersebut, ya salah satunya dikarenakan memang dampaknya itu yang belum sesuai, dan juga dari uniformitasnya,” tutupnya.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific dan Agito Sitepu
