Menteri Pekerjaan Umum RI, Dody Hanggodo, mengatakan pengelolaan air menjadi fondasi bagi ketahanan pangan, energi, dan lingkungan. Menurutnya, pembangunan infrastruktur sumber daya air harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masyarakat. Ia menilai, capaian swasembada pangan pada 2025 perlu didukung dengan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Kementerian PU menerjemahkan perannya melalui target yang mencakup investasi yang efisien, pengentasan kemiskinan ekstrem, dan pertumbuhan ekonomi. “Tantangan itu nyata, lebih dari 90 persen bencana di Indonesia adalah bencana hidrologi. Banjir, longsor, dan kekeringan. Sementara kemampuan kita menampung air masih jauh dari ideal,” kata Dody dalam pidato sambutan yang dibacakan Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw, dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-43 dan Kongres ke-15 Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) yang diselenggarakan pada Sabtu (5/9), di Gedung B Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik UGM.
Ia menuturkan kalau pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi kompleksitas persoalan sumber daya air. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan pengelolaan air memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. “Tidak cukup hanya membangun infrastruktur, kita juga harus mengelola sumber daya air dengan lebih cerdas melalui teknologi, inovasi, tata kelola yang baik dan kolaborasi yang kuat agar manfaatnya semakin besar bagi masyarakat,” jelasnya.
Pengelolaan sumber daya air secara cerdas dan terintegrasi menjadi sebuah kunci untuk memperkuat ketahanan pangan, energi, dan lingkungan di tengah perubahan iklim. Hal tersebut mengemuka dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-43 dan Kongres ke-15 Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) yang diselenggarakan pada Sabtu (5/9), di Gedung B Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik UGM. Dengan mengusung tema Pengelolaan Cerdas Interkoneksi Air, Pangan, Energi, dan Lingkungan Menuju Kemandirian dan Kesejahteraan Nasional, forum ini mempertemukan akademisi, praktisi, pemerintah, organisasi profesi, dunia usaha, serta pemangku kepentingan bidang sumber daya air.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan dibacakan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral DIY, Aris Prasena, menuturkan bahwa air memiliki keterkaitan erat dengan pangan, energi, ekosistem, hingga keberlanjutan kehidupan manusia. Menurutnya, kemajuan teknologi seperti IoT, pengolahan data berskala besar, dan AI memberikan kemampuan baru dalam mendukung pengambilan keputusan yang lebih presisi. “Pendekatan nature based solution atau solusi berbasis alam mengingatkan kita bahwa tidak seluruh persoalan alam harus dijawab dengan pendekatan lingkungan. Ada saatnya teknologi harus bekerja dengan memahami logika alam, bukan menggantikannya,” tuturnya.
Ia pun mengajak para ahli teknik hidraulik untuk memperluas perspektif, dari sekadar melakukan rekayasa dan pengendalian air menuju upaya merawat dan menjaga keberlanjutan sumber daya air. “Saya berharap forum ilmiah ini membawa kita melangkah dari hydraulic engineering menuju water stewardship. Dari kecakapan merekayasa dan mengendalikan air menuju kebijaksanaan untuk merawatnya. Sebab air bukan semata sumber daya yang kita kelola hari ini, air merupakan titipan kehidupan yang harus kita wariskan kepada generasi yang belum lahir,” terangnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., menyampaikan bahwa UGM berkomitmen menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan transdisiplin. Komitmen tersebut diwujudkan melalui tiga pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Kami berharap forum ini dapat melahirkan rekomendasi yang implementatif dalam mendorong penerapan teknologi inovatif, tata kelola sumber daya air yang inklusif serta solusi berbasis alam yang mendukung kemandirian dan kesejahteraan nasional berbasis pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan,” katanya.
Ketua Umum HATHI, Ir. Bob Arthur Lombogia, M.Si., menyampaikan bahwa pertemuan ini tidak hanya sekadar genda tahunan organisasi profesi, tetapi juga merupakan wujud tanggung jawab moral dan intelektual komunitas teknik hidraulik terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Menurutnya, PIT HATHI menjadi ruang pertemuan gagasan, hasil penelitian, inovasi teknologi, dan pengalaman lapangan dari berbagai pihak.
Menurut Arthur, pemanfaatan teknologi seperti, Internet of Things (IoT), big data, dan kecerdasan buatan (AI) perlu berjalan beriringan dengan pendekatan Nature-based Solutions (NbS) untuk memulihkan fungsi ekosistem sekaligus memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim. Pengelolaan air juga perlu memperhatikan dimensi sosial dan tata kelola, termasuk keadilan distribusi air serta hak masyarakat atas air. “Diperlukan penguasaan tata kelola sumber daya air berbasis kolaborasi multipihak dan diplomasi air yang berkeadilan,” ujarnya.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Kementerian PU
