Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap tanggal 23 April menjadi momentum untuk merefleksikan kembali kondisi literasi di Indonesia. Di tengah derasnya arus media sosial dan perkembangan teknologi, makna membaca di kalangan generasi muda dinilai mengalami pergeseran. Kini, literasi tidak lagi sekadar aktivitas membaca teks, melainkan cara individu berinteraksi dengan berbagai sumber informasi.
Guru Besar Departemen Sastra dan Bahasa FIB UGM, Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum. menilai bahwa kondisi literasi di kalangan generasi muda tidak dapat dipandang secara seragam. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan latar belakang, kebutuhan, keterikatan terhadap dunia pendidikan, dan aktivitas literasi itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan pemetaan kategori untuk memahami situasi literasi secara lebih utuh. “Generasi muda itu banyak sekali ragamnya. Perlu ada kategori-kategori. Generasi yang masih terikat dengan pendidikan dan keliterasian tentu masih perlu bertahan dalam situasi-situasi literatif, apalagi teknologi saat ini justru mendukung,” ujarnya, Jumat (24/4).
Aprinus Salam menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk media sosial, telah membuka ruang baru dalam praktik literasi. Namun, karakter media sosial cenderung beragam membuat beberapa konten di dalamnya memiliki nilai literatif yang sama. Sebagian masih relevan dengan aktivitas literasi, sementara sebagian lainnya lebih berorientasi pada hiburan dan keuntungan ekonomi semata. “Sebagian media sosial masih bertumpang tindih dengan kondisi-kondisi literate, tetapi banyak juga yang didominasi konten hiburan dan orientasi ekonomi,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa definisi membaca perlu dipahami secara lebih luas di tengah perubahan zaman. Membaca dalam konteks akademik dinilai berbeda dengan aktivitas mengonsumsi informasi di media sosial. Perubahan ini bahkan diprediksi akan semakin berkembang di masa depan. “Kita perlu mengklarifikasi apa yang dimaksud dengan membaca. Ke depan, dalam situasi yang disebut posthumanisme, pengertian literasi akan semakin berubah. Yang penting adalah bagaimana mengintegrasikan manusia, teknologi, dan lingkungan dalam praktik literasi,” jelasnya.
Media sosial tidak seharusnya diposisikan sebagai sebuah ancaman terhadap budaya membaca. Sebaliknya, platform digital dapat menjadi bagian dari ekosistem literasi yang saling terhubung dan mendukung. Pendekatan integratif dinilai menjadi kunci dalam menghadapi perubahan ini. “Media sosial tidak perlu dianggap sebagai masalah, tetapi sebagai sahabat baru yang perlu diintegrasikan sebagai perangkat hidup yang saling mendukung,” ungkapnya.
Ia menilai bahwa anggapan bahwa tingkat literasi generasi muda terus menurun tidak bisa digeneralisasi. Tingkat keterikatan terhadap aktivitas membaca sangat bergantung pada kebutuhan dan konteks masing-masing individu. Selain itu, pemaknaan terhadap aktivitas membaca juga perlu diperluas. “Masalahnya bukan pada membaca atau tidak, tetapi apa yang dibaca dan untuk apa membaca. Tidak ada jaminan orang yang banyak membaca pasti lebih baik,” tuturnya.
Di sisi lain, perdebatan mengenai perbedaan antara buku fisik dan buku digital juga menjadi perhatian. Ia menilai bahwa keduanya merupakan bagian dari kebiasaan dan budaya yang terus berkembang. Generasi muda saat ini cenderung lebih adaptif terhadap format digital, meskipun preferensi terhadap buku fisik masih tetap ada. “Masalah pemahaman dan minat baca lebih bergantung pada situasi sosial serta kapasitas individual, bukan pada medianya,” jelasnya.
Meski demikian, ia memprediksi bahwa penggunaan buku digital akan terus meningkat seiring perkembangan teknologi. Perubahan ini dinilai sebagai bagian dari dinamika sejarah yang tidak dapat dihindari. Adaptasi menjadi hal yang penting dalam menghadapi perubahan tersebut. “Perlahan, kebudayaan membaca buku digital akan terus meningkat. Sejarah akan bergerak ke arah itu,” tutupnya.
Penulis : Diyana Khairunnisa
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Freepik
