Transformasi organisasi perguruan tinggi sebaiknya berangkat dari tujuan yang jelas dan diterjemahkan melalui perencanaan jangka menengah hingga rencana aksi tahunan. Sebab dalam praktiknya, perguruan tinggi menghadapi perubahan yang berlangsung cepat, mulai dari perkembangan kecerdasan artifisial dan teknologi digital, kebijakan pemerintah, tuntutan internasionalisasi, hingga kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. “Strategi perlu diikuti kemampuan organisasi untuk membaca perubahan, mengambil peluang, serta menyesuaikan struktur dan tata kelola,” kata Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., saat mengisi pelatihan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) di hadapan para pimpinan dan calon pemimpin perguruan tinggi yang berlangsung di Balai Senat UGM, Rabu (23/9).
Menurutnya, pemimpin perguruan tinggi perlu mampu membangun arah perubahan sekaligus mengajak organisasi berani menetapkan tujuan yang ingin dicapai. “Sebagai leader memang harus memotivasi untuk berani bermimpi. Jadi bagaimana kita akan membawa organisasi mencapai tujuan dengan menjalani proses yang terus berulang,” ujar Ova, Rabu (23/9).
Dikatakan Ova, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memindai dan mengenali lingkungan eksternal, menangkap peluang hingga mampu melakukan rekonfigurasi. “Kita harus bisa sensing, kemudian seizing, dan kemudian melakukan reconfiguration. Tiga hal ini yang harus dimiliki seorang pimpinan untuk bisa mewujudkan perencanaan menjadi suatu hal yang memang dapat diprioritaskan,” tuturnya.
Pengalaman UGM dalam merespons perubahan tersebut menurut Rektor diwujudkan melalui pembentukan Biro Manajemen Strategi (BMS) yang berperan membaca berbagai perubahan dan kebutuhan baru organisasi. Penyesuaian juga dilakukan dalam tata kelola, organisasi, serta prosedur kerja, termasuk merespons perkembangan digital dan kecerdasan artifisial.
Di bidang akademik, transformasi diterapkan melalui pengembangan pendidikan transdisipliner, UGM Online, microcredentials, rekognisi pembelajaran lampau, layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, dan program afirmasi bagi kelompok tertentu. “Ketika kita bicara transformasi, kita juga harus melihat bagaimana organisasi ini melakukan perubahan, baik dari sisi governance, organisasi, maupun SOP-nya,” jelas Ova.
Berbagai agenda tersebut kemudian ditempatkan dalam kerangka pencapaian tujuan strategis UGM, mulai dari pendidikan transdisipliner, reputasi akademik, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola universitas, hingga pembangunan lingkungan kampus yang sehat, aman, hijau, dan bertanggung jawab secara sosial maupun budaya. Pengembangan reputasi internasional juga dipaparkan sebagai bagian dari proses yang lebih luas, bersama penguatan riset, jejaring dengan alumni dan industri, serta pengembangan program yang menghasilkan dampak bagi masyarakat. “Jadi global reputation itu sebenarnya merupakan external indicator dari internal transformation, karena kita ingin melihat bagaimana perubahan yang terjadi di dalam kemudian terlihat juga dari luar,” terang Ova.
Namun yang tidak kalah penting menurutnya, pengembangan kapasitas kepemimpinan yang dibutuhkan agar strategi tersebut dapat dijalankan. Pemimpin perguruan tinggi perlu mampu menginspirasi, membangun kepercayaan, menjaga integritas, memahami kondisi tim, berani mengambil risiko, serta mendelegasikan tanggung jawab. Peran tersebut berbeda dari sekadar menjadi ahli atau pengelola karena pemimpin perlu membawa orang-orang dalam organisasi bergerak menuju visi dan misi bersama. “Pemimpin bukan hanya yang sekadar sebagai orang yang mampu mengelola, tapi yang menginspirasi. Jadi lebih transformatif, memimpin dengan semangat pelayanan dan pemberdayaan, serta harus visioner, inovatif, dan adaptif,” paparnya.
Selain itu, koordinasi antarfakultas dan unit, pendelegasian kewenangan, serta pentingnya kemampuan perguruan tinggi membaca perubahan lingkungan. Selanjutnya, tujuan strategis perlu dikomunikasikan secara berjenjang, sementara setiap fakultas dan unit memiliki ruang untuk menyesuaikan pelaksanaannya dengan konteks masing-masing. Bagi Ova, transformasi perguruan tinggi merupakan proses yang terus bergerak seiring perubahan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. “Universitas itu juga sebagai organisme. Dia selalu bergerak, dia selalu menyesuaikan lingkungannya. Jadi memang kita harus terus melakukan perubahan dan melihat apa yang dibutuhkan oleh lingkungan,” pungkas Ova.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie
