Universitas Gadjah Mada kembali menerima mahasiswa Shizuoka University, Jepang, dalam rangkaian Agriculture Field Seminar 2026 pada 13–20 September 2026 silam. Selama sepekan, mahasiswa mengikuti pembelajaran pertanian tropis, kunjungan ke berbagai lokasi pertanian dan pengolahan hasil pertanian, serta kegiatan pengenalan budaya Yogyakarta. Program ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung praktik pertanian Indonesia sekaligus memperoleh pengalaman belajar di luar lingkungan kampus.
Agriculture Field Seminar merupakan bagian dari kerja sama akademik UGM dan Shizuoka University yang telah berlangsung sejak 2008. Program pertukaran ini sempat terhenti setelah penyelenggaraan pada 2019 akibat pandemi Covid-19, kemudian kembali digelar pada 2024 dan dilanjutkan pada 2026 sebagai agenda berkala. Keberlanjutan kegiatan tersebut menjadi bagian dari hubungan akademik kedua universitas yang terus membuka ruang pertemuan bagi mahasiswa dan akademisi.
Ketua tim kerja sama UGM–Shizuoka University, Prof. Dr. Ir. Siti Subandiyah, M.Agr.Sc., menjelaskan rangkaian pembelajaran lapangan diawali dengan kunjungan ke kawasan pesisir Kabupaten Bantul untuk mempelajari budidaya pisang bersama petani. Peserta kemudian mengunjungi Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM untuk mengenal fasilitas dan inovasi pertanian yang dikembangkan UGM, termasuk pembelajaran mengenai Circular Farming, fungi, dan hasil produk kehutanan. “Jadi kami mencoba untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat keterkaitan antara pengetahuan akademik, praktik pertanian, dan pengelolaan sumber daya secara langsung,” ujar Siti saat ditemui, Kamis (24/9).

Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui kunjungan ke sejumlah lokasi dengan komoditas dan sistem pertanian yang berbeda. Peserta mengunjungi MesaStila untuk mempelajari komoditas kopi, Hortimart untuk mengenal pengembangan hortikultura, serta kebun karet di Unit Bogor Getas, PT Riset Perkebunan Nusantara, Salatiga. Mahasiswa juga melihat proses pengolahan hasil pertanian melalui kunjungan ke unit pengolahan tempe.
Siti menilai pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam memperluas pembelajaran mahasiswa selama mengikuti program. Menurutnya, pertemuan langsung dengan lingkungan pertanian dan akademik di Indonesia memberi ruang bagi mahasiswa untuk melihat praktik yang berbeda sekaligus bertukar perspektif. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut karena pertemuan antarmahasiswa dan akademisi menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan akademik sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas,” ujar Siti.
Selain pertanian, peserta juga diajak mengenal kekayaan budaya Yogyakarta melalui kunjungan ke sentra batik Giriloyo dan praktik membatik secara langsung. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Tebing Breksi, Candi Borobudur, dan Keraton Yogyakarta serta menyaksikan pertunjukan Ramayana Ballet di kawasan Candi Prambanan. Perpaduan kegiatan akademik dan budaya tersebut memberikan pengalaman yang lebih utuh mengenai kehidupan masyarakat Indonesia.
Peserta Agriculture Field Seminar 2026 kembali ke Jepang pada Minggu (20/9). Kembalinya program ini secara berkala menunjukkan keberlanjutan hubungan akademik UGM dan Shizuoka University yang telah dibangun sejak 2008. Melalui agenda semacam ini, kedua universitas terus membuka ruang bagi pengembangan kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pertanian berkelanjutan.
Reportase/Dok: Humas Fakultas Pertanian
Penulis: Triya Andriyani
