Bagi Rasha Putra Permata (18), kursi roda bukanlah penghalangnya untuk terus menggapai mimpi untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Penyandang disabilitas daksa spinal muscular atrophy (SMA) tipe 2 itu tumbuh di tengah keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai bekal utama kehidupan. Sang ayah, Harsa Permata (47), bekerja sebagai dosen honorer di salah satu perguruan tinggi swasta. Sedangkan sang Ibu, Triani Priliastuti (48), merupakan ibu rumah tangga. Melalui perjuangan, dukungan, dan doa tulus kedua orang tuanya yang tiada henti telah berhasil mengantarkan Rasha mewujudkan impiannya dapat diterima di Program Studi Teknik Fisika UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Rasha mengaku ketertarikannya berkuliah di UGM telah tumbuh sejak lama. Ia kerap berkunjung ke kawasan kampus UGM dan merasa suasana akademik di UGM membuatnya semakin yakin untuk melanjutkan pendidikan di Bulaksumur. Keinginan tersebut akhirnya terwujud setelah ia diterima sebagai mahasiswa baru Program Studi Teknik Fisika UGM. “Saya memang sudah lama ingin kuliah di UGM. Saya sering ke UGM dan menurut saya suasana kampusnya nyaman. Dari dulu memang ingin bisa kuliah di sini,” tuturnya, Jumat (10/7).
Saat masih duduk di bangku SMA, Rasha telah mempelajari dasar-dasar robotika dan pemrograman melalui berbagai kegiatan di sekolah. Selain itu, ia juga gemar membuat komik digital di platform Webtoon dan pernah mengikuti kompetisi pengembangan gim maupun lomba komik semasa SMA. “Saya tertarik dengan robotika dan ingin belajar lebih dalam lagi di Teknik Fisika. Saya juga ingin mengembangkan kemampuan coding yang saya sukai sejak sekolah,” katanya.
Minat tersebut menjadi salah satu alasan Rasha menjatuhkan pilihan pada Program Studi Teknik Fisika UGM. Sebelum menentukan pilihan, ia bahkan telah mengunjungi sejumlah departemen di Fakultas Teknik, seperti Teknik Elektro, Teknik Industri, hingga akhirnya mantap memilih Teknik Fisika karena melihat peluang untuk mengembangkan kemampuan di bidang rekayasa dan komputasi.
Perjalanan Rasha menuju bangku kuliah UGM tidak dilalui dengan mudah. Selama mempersiapkan diri menghadapi SNBT, ia harus belajar secara mandiri karena tidak dapat mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Sebagian besar lembaga bimbingan belajar belum memiliki akses yang ramah bagi pengguna kursi roda. Kondisi tersebut membuat Rasha mengumpulkan berbagai soal latihan dari teman-temannya untuk dipelajari sendiri hingga larut malam. “Rasha tidak bisa ikut bimbel karena banyak tempat les yang belum aksesibel. Akhirnya dia mengumpulkan soal-soal dari teman-temannya, lalu belajar sendiri sampai jam satu atau dua pagi,” terang Triani.
Hampir setiap malam, Rasha menghabiskan waktu untuk berlatih mengerjakan soal-soal latihan. Menurutnya, materi Pengetahuan Kuantitatif (PK) dan Penalaran Matematika (PM) menjadi tantangan terbesar yang harus ia taklukkan selama masa persiapan ujian. “Materi yang paling sulit buat saya itu Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika. Jadi saya harus banyak latihan supaya bisa memahami pola soalnya,” ujarnya.
Rasha juga dikenal sebagai siswa yang aktif berorganisasi. Selama bersekolah di SMA Negeri 3 Yogyakarta, ia bergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai pengurus bidang internal multimedia yang bertanggung jawab mengelola berbagai materi visual. Ia juga dipercaya menjadi koordinator pada rangkaian acara kegiatan sosial dan pentas seni yang berlangsung selama beberapa hari, serta terlibat sebagai asisten koordinator pada sejumlah kegiatan sekolah lainnya. “Selama di SMA saya aktif di OSIS sebagai pengurus internal multimedia. Saya juga pernah menjadi koordinator kegiatan sosial dan pentas seni di sekolah, serta terlibat sebagai asisten koordinator di beberapa kegiatan lainnya,” jelasnya.
Di balik keberhasilannya, terdapat dukungan penuh dari kedua orang tua yang selama ini selalu menyertai. Bagi kedua orang tuanya, kondisi yang dialami Rasha tidak pernah dipandang sebagai kekurangan. Sebaliknya, mereka memilih membesarkannya dengan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk bersinar. “Dari dulu saya selalu bilang kepada ayahnya, kita sedang membesarkan emas. Di mana pun emas berada, dia akan tetap bersinar. Begitu juga Rasha. Kami percaya dia akan menemukan jalannya untuk terus berkembang,” ujar Triani.
Kedua orang tua Rasha berharap UGM dapat terus memperkuat lingkungan kampus yang inklusif melalui penyediaan fasilitas yang semakin ramah bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Mereka meyakini aksesibilitas yang baik akan membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa disabilitas untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki. “Harapan kami, UGM terus meningkatkan aksesibilitas agar mahasiswa disabilitas bisa belajar dengan nyaman dan mengembangkan potensinya. Kami percaya mereka memiliki kemampuan yang sama untuk berprestasi dan memberi manfaat bagi banyak orang,” pungkas Harsa.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Hanifah
