Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada bersama PT Hutama Karya (Persero) mendorong penerapan ekonomi sirkular dalam pembangunan jalan tol sebagai bagian dari upaya mewujudkan infrastruktur hijau di Indonesia. Gagasan tersebut menjadi fokus Webinar Nasional bertajuk Circular Economy in Infrastructure: Material Daur Ulang untuk Konstruksi Jalan Berkelanjutan yang diselenggarakan secara daring pada Selasa (7/7) silam. Webinar ini mempertemukan akademisi, pemerintah, dan pelaku industri untuk mendiskusikan strategi pemanfaatan material daur ulang sekaligus menjawab tantangan pembangunan infrastruktur yang semakin masif di Indonesia. Sebanyak lebih dari 1.700 peserta dari berbagai daerah mengikuti kegiatan melalui Zoom dan kanal YouTube.
Pesatnya pembangunan infrastruktur jalan tol selama satu dekade terakhir membawa konsekuensi meningkatnya kebutuhan material konstruksi dalam jumlah besar. Kondisi tersebut di sisi lain mendorong eksploitasi sumber daya alam dan menghasilkan limbah konstruksi yang terus bertambah apabila masih menggunakan pendekatan ekonomi linear. Karena itu, Kepala Pustral UGM, Dr. Ir. Dewanti, M.S., menilai sektor infrastruktur perlu segera bertransformasi menuju ekonomi sirkular sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. “Pendekatan ekonomi sirkular menantang kita untuk mendesain ulang sistem konstruksi dengan mengeliminasi limbah sejak tahap perencanaan dan mempertahankan nilai sumber daya selama mungkin di dalam siklus ekonomi,” tegas Dewanti.
Lebih lanjut, implementasi ekonomi sirkular dalam pembangunan jalan tol juga membutuhkan dukungan regulasi serta standar teknis yang memadai. Penata Kelola Jalan dan Jembatan Tingkat Ahli Madya Direktorat Jalan Bebas Hambatan Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. Ir. Alfa Adib Ash Shiddiqi, S.T., M.Sc., IPM., menjelaskan pemerintah membuka peluang pemanfaatan material alternatif yang lebih ramah lingkungan dalam Proyek Strategis Nasional selama memenuhi standar mutu dan keselamatan. Menurutnya, penyusunan pedoman teknis dan pembaruan spesifikasi menjadi bagian penting agar inovasi dapat diterapkan secara lebih luas. “Pemanfaatan material daur ulang harus selalu diiringi dengan pembuktian teknis yang presisi tanpa menurunkan standar mutu maupun keselamatan infrastruktur,” jelas Alfa.
Selain mendukung efisiensi penggunaan material, ekonomi sirkular juga dinilai mampu menjadi solusi terhadap persoalan sampah nasional. Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, S.Pi., M.Si., menyampaikan bahwa limbah plastik bernilai rendah maupun ban bekas memiliki potensi besar dimanfaatkan sebagai bahan campuran konstruksi jalan. Pemanfaatan material tersebut dinilai dapat mengurangi beban tempat pemrosesan akhir sekaligus meningkatkan nilai guna limbah melalui sektor infrastruktur. “Sektor infrastruktur dapat menjadi off-taker utama bagi limbah sehingga pembangunan jalan turut berkontribusi dalam penyelesaian persoalan sampah di Indonesia,” papar Agus.
Penerapan konsep ekonomi sirkular ini bahkan sudah mulai diimplementasikan oleh PT Hutama Karya (Persero) dalam pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera, yang hingga Mei 2026 telah mencapai 1.145 kilometer ruas terbangun. Direktur Operasi III PT Hutama Karya (Persero), Iwan Hermawan, memaparkan berbagai inovasi yang dikembangkan perusahaan melalui empat pilar keberlanjutan, yakni inovasi material, efisiensi energi, konstruksi digital, dan manajemen aset sirkular. Berbagai inovasi tersebut meliputi penggunaan White-100 Thermoplastic Road Marking berbasis bahan lokal, teknologi hollow column, konversi Asphalt Mixing Plant ke CNG, hingga penerapan Building Information Modelling (BIM) 7D dan kecerdasan artifisial. Penerapan berbagai teknologi tersebut berkontribusi terhadap efisiensi konstruksi sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi karbon dalam pembangunan jalan tol.
Dari sisi akademik, Tim Ahli Pustral UGM sekaligus dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM, Taqia Rahman, S.T., M.Sc., Ph.D., memaparkan hasil riset mengenai performa material daur ulang untuk konstruksi jalan. Berdasarkan berbagai pengujian, material turunan limbah seperti plastik dan karet mampu meningkatkan karakteristik fisik aspal sehingga lebih tahan terhadap deformasi akibat beban kendaraan maupun suhu tinggi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa material daur ulang dapat menjadi alternatif material konstruksi yang andal apabila dirancang sesuai karakteristik teknisnya. “Sebagai contoh, aspal yang dimodifikasi dengan campuran limbah plastik tertentu terbukti memiliki titik lembek yang lebih tinggi. Artinya, jalan tersebut akan lebih tahan terhadap deformasi atau kerusakan alur (rutting) akibat beban kendaraan berat dan suhu tropis yang panas,” jelas Taqia.
Diskusi yang dipandu Peneliti Pustral UGM, Kayyisa Fitri, S.Ars., M.T., berlangsung interaktif dengan berbagai masukan mengenai implementasi ekonomi sirkular di sektor infrastruktur. Forum ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis sebagai masukan dalam pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI) maupun kebijakan konstruksi jalan yang lebih ramah lingkungan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dinilai menjadi kunci untuk mempercepat penerapan material daur ulang pada pembangunan infrastruktur nasional. Melalui sinergi tersebut, ekonomi sirkular diharapkan mampu mendukung terwujudnya pembangunan infrastruktur yang lebih berkelanjutan sekaligus berkontribusi pada target Indonesia Hijau 2045.
Reportase: Dwi Ardianta Kurniawan (Pustral UGM)
Penulis: Triya Andriyani
