Suasana hangat dan penuh kekeluargaan pada rangkaian halalbihalal di kantor pusat Korpagama, Bulaksumur B6, Caturtunggal, Kec. Depok, Jumat (17/4). Keluarga besar Korps Pegawai Universitas Gadjah Mada (Korpagama) menggelar acara syawalan 1447H/2026M yang dirangkaikan dengan penyerahan tali asih sekaligus penghargaan kepada 16 pegawai purna tugas.
Ketua Korpagama Pusat, Prof. Ir. Achmadi Priyatmojo, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga bentuk apresiasi atas pengabdian para pegawai yang telah menyelesaikan masa tugasnya di UGM. Ia menyampaikan penyerahan penghargaan kepada purna tugas bahkan telah dilakukan secara rutin setiap bulan dalam beberapa tahun terakhir. “Walaupun harus berhenti karena aturan, kami yakin pengabdian Bapak dan Ibu sangat bermanfaat bagi UGM. Setelah purna tugas, tentu akan memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga dan tetap bisa berkiprah di masyarakat,” ujarnya.
Momentum bulan Syawal ini, sebut Achmadi, juga dimanfaatkan untuk saling memaafkan. Ia mewakili pengurus Korpagama menyampaikan permohonan maaf serta membuka ruang kritik dan saran dari para anggota demi perbaikan program ke depan. Ia menilai keterbukaan tersebut akan membuka jalan-jalan baik bagi pengurus untuk menjalankan program yang sudah dicanangkan. “Makan ketupat di rendaman santan, menawi wonten lepat nyuwun pangapunten,” ujarnya.
Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) UGM, Prof. Suadi, Ph.D., yang hadir turut menekankan pentingnya nilai memaafkan dalam kehidupan. Ia mengajak seluruh hadirin untuk mengikhlaskan kesalahan yang terjadi, baik disengaja maupun tidak, sebagai bagian dari semangat syawalan. “Sering kita dengarkan dalam setiap syawalan bahwa memberi maaf itu melebihi daripada meminta maaf,” ungkapnya.
Rangkaian dilanjutkan pemberian tali kasih kepada sebanyak 16 pegawai tercatat memasuki masa purna tugas, dengan 14 orang hadir secara langsung dan 2 lainnya diwakili oleh ahli waris. Penyerahan penghargaan dilakukan secara simbolis sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi selama mengabdi. Penyerahan ditutup dengan gerakan semboyan Korpagama yang berbunyi, “Ngaruhke lan nguwongke kabeh pegawai. Bagyo Mulya Saklawase (memperhatikan dan memanusiakan seluruh pegawai. Hidup kompak mulia bersama-sama),” katanya.
Perwakilan purna tugas, Dr. Sulastriyono, S.H., M.Si., menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan. Ia menegaskan bahwa masa purna tugas bukanlah akhir dari pengabdian. “Terima kasih Korpagama telah memberikan apresiasi. Mudah-mudahan kontribusi kami selama ini membawa kemajuan bagi UGM,” pesannya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan Guru Besar FMIPA UGM Prof. Dr. Chairil Anwar. Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa tradisi syawalan dan halal bihalal merupakan bagian dari budaya khas Indonesia yang berakar pada nilai silaturahmi dan saling memaafkan. Inti dari syawalan adalah kembali kepada kesucian setelah menjalani ibadah Ramadan. Salah satu wujudnya adalah kemampuan untuk menahan amarah dan memberi maaf kepada sesama.
Ia menegaskan bahwa memberi maaf itu lebih sulit daripada meminta maaf, tetapi itulah yang justru dianjurkan. Selain itu, ia juga mengangkat filosofi ketupat yang identik dengan Lebaran. Menurutnya, ketupat melambangkan beberapa hal, seperti “lebat” (selesai berpuasa), “lebur” (dosa yang diampuni), “luber” (berbagi kepada sesama), dan “labur” (kembali suci). “Jadi sesuai dengan itu tadi bahwa dosa-dosa kita itu akan diampuni oleh Tuhan Yang Maha Esa,” pesannya.
Penulis/Foto : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
