Pohon bagi masyarakat Papua adalah sebuah jantung yang menyatukan kompleksitas hubungan antara air dan tanah. Air membutuhkan tanah sebagai wadah, demikian tanah yang membutuhkan air agar dirinya tak menjadi debu mati. Filosofi tersebut tak hanya menjadi pegangan bagi masyarakat Papua untuk melihat besarnya peranan pohon bagi mereka. Namun, juga turut sejalan dengan berbagai rentetan pengamatan manusia selama ribuan tahun lamanya, mengamati fenomena di alam semesta, tak terkecuali tumbuhan berkayu di sekelilingnya. Melalui pengamatan tersebut, sebuah fondasi yang krusial bagi ilmu Fisiologi Pohon dan Fisiologi Cekaman juga turut terbentuk. Pemahaman tersebut menjadi semakin relevan ketika perubahan lingkungan berlangsung semakin cepat akibat krisis iklim.
Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Prof. Ir. Eny Faridah, M.Sc., Ph.D., IPM, ASEAN Eng., menerangkan Fisiologi Pohon merupakan sebuah cabang ilmu yang berkaitan erat dengan proses dan fungsi organ tumbuhan sebagai respons terhadap perubahan lingkungan. “Perubahan lingkungan tersebut kemudian berinteraksi melalui proses dan kondisi fisiologis, menghasilkan tingkat pertumbuhan,” kata Eny dalam upacara pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Bidang Fisiologi Pohon di Balai Senat UGM, Kamis (13/8)
Di tengah krisis iklim yang melanda manusia, kata Eny, cekaman perubahan lingkungan merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh seluruh makhluk di muka bumi. “Di tengah-tengah krisis iklim seperti sekarang ini, cekaman perubahan lingkungan adalah keniscayaan yang harus dihadapi oleh siapapun, tidak terkecuali tumbuhan,” ujar
Menurutnya, kekeringan akibat krisis iklim adalah cekaman yang paling memengaruhi performa tanaman dan menjadi sebab penurunan pertumbuhan dan kematian sehingga turut berkontribusi sebagai salah satu faktor pembatas utama dalam keberhasilan rehabilitasi. Tanaman yang berada di dalam cekaman akan mengalami stres dan selanjutnya mengandalkan sistem detoksifikasi untuk mempertahankan keseimbangan air dan sel. Melalui pemahaman mekanisme tersebut, pengembangan tanaman varietas unggul di tengah kekeringan yang melonjak. Maka dari itu, Eny mengatakan hibridisasi sangat diperlukan. “Hibridisasi antar spesies dapat dikaji untuk meningkatkan toleransi para keturunan spesies yang rentan,” katanya.
Selain cekaman kekeringan, Eny kemudian mengungkapkan beberapa kondisi cekaman lainnya yang turut mengambil bagian di dalam kondisi fisiologis pohon, seperti cekaman peningkatan suhu yang mengakibatkan laju tumbuh tanaman terhambat; cekaman salinitas yang menghubungkan antara tingginya konsentrasi garam yang terlarut di tanah dan kondisi stres abiotik tanaman; cekaman penggenangan yang membuat tanaman akan tergenang dan melakukan perubahan pada proses dan kondisi fisiologisnya; dan cekaman hara serta kesuburan lahan yang membuat tanaman menghadapi kondisi kekurangan zat hara akibat beberapa proses eksternal.
Bagi Eny, studi fisiologi pohon memegang peran yang krusial untuk menentukan strategi dan pengembangannya dalam peningkatan keberhasilan rehabilitasi ekosistem hutan. Ia sempat menyinggung soal kebutuhan rehabilitasi lahan di Indonesia mencapai 12 juta hektar berbentuk lahan marjinal dengan berbagai karakteristiknya. Lalu, kondisi tersebut semakin berat sebab adanya perubahan iklim yang kian melanda dunia, terutama Indonesia.
Menurutnya, perubahan iklim tak hanya ditandai oleh sejumlah karakteristik suhu, tetapi juga produksi CO2 yang meningkat dari 310 ppm di tahun 1960 menjadi 432,5 ppm pada Mei 2026. Eny mengungkapkan, proses perubahan iklim tersebut direspon oleh tanaman lewat kondisi fisiologisnya “Gangguan tersebut direspon oleh tanaman lewat kondisi fisiologisnya,” katanya.
Eny mengatakan pengembangan dan pembangunan kehutanan nasional perlu mempertimbangkan hal-hal mendasar seperti dinamika fisiologi pohon akibat cekaman perubahan iklim. Eny turut menggambarkan dua kondisi pada proyek rehabilitasi ekosistem hutan, yang apabila tidak didukung oleh pemahaman mendalam, seperti ilmu fisiologi pohon, pasti akan berjalan rapuh. Lalu, sebaliknya, apabila tidak juga didukung oleh ilmu terapan serta kebijakan yang tepat, ilmu fisiologi pohon bisa dipastikan akan kehilangan arah. Oleh karena itu, Eny mengajak seluruh pihak untuk bekerja sama dengan harapan bahwa cekaman perubahan iklim bukanlah sebuah penghalang keberhasilan rehabilitasi ekosistem hutan. “Dengan jalinan kerja sama semacam ini, diharapkan di tengah-tengah cekaan perubahan iklim, rehabilitasi ekosistem hutan akan tetap bisa dilakukan dengan tingkat keberhasilan tinggi,” pungkasnya.
Melansir keterangan dari Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Panut Mulyono, Eny merupakan salah satu dari 539 Guru Besar aktif di UGM dan 18 Guru Besar aktif di Fakultas Kehutanan.
Penulis: Zabrina Kumara
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Donnie
