Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada membuka peluang kerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Ruang lingkup kerja sama tersebut mengenai penerapan sistem teknologi agrivoltaic dan smart farming pada lahan pertanian di Kabupaten Tegal sebagai bagian dari upaya mendorong transformasi daerah menuju industri hijau.
Peneliti Agrivoltaic UGM seklaigus Dosen Teknik Fisika UGM Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D., memaparkan teknologi agrivoltaic merupakan penerapan teknologi tepat guna yang mengusung konsep pemanfaatan sumber energi terbarukan. Kepala Laboratorium Energi Terbarukan FT UGM ini menegaskan pengembangan agrivoltaic selaras dengan upaya pemerintah yang tengah mendorong langkah strategis menuju kedaulatan energi nasional. “Kami memberikan solusi teknologi, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sistem agrivoltaic,” papar Ahmad.
Ia menjelaskan, kombinasi pertanian dengan sistem agrivoltaic dapat membantu mengurangi penguapan air tanah, mencegah dehidrasi tanaman, hingga meningkatkan efisiensi panel surya (PV). Lebih jauh, Ahmad menuturkan bahwa hasil inovasi PLTS Hybrid dengan desain agrivoltaic ini mampu mengefisiensikan pemanfaatan ruang untuk pertanian sekaligus pembangkitan energi. “Nah, PLTS pada pertanian ini sudah kami terapkan pada pertanian dengan sistem agrivoltaics di Pandowoharjo, Sleman,” ujarnya.
Sementara itu, Pakar Agroklimatologi dan Pertanian Pintar, Prof. Dr. Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr., memaparkan bahwa konsep smart farming merupakan pendekatan yang mengintegrasikan teknologi digital dalam pengelolaan pertanian. Menurutnya, sistem ini memungkinkan seluruh proses pertanian saling terhubung, mulai dari lahan hingga produk sampai ke tangan konsumen sehingga setiap tahapan dapat ditelusuri secara transparan. “Semua akan terkoneksi dari hulu ke hilir. From land to table, artinya dari lahan sampai ke atas meja. Ini bisa dilacak dan bisa dicek bagaimana transparansinya,” kata Bayu.
Konsep smart farming, lanjut Bayu, memadukan berbagai teknologi, seperti sensor, drone, sistem manajemen informasi, pertanian presisi , serta otomatisasi dan robotika. Menurutnya, data yang diperoleh dari berbagai sensor tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga harus diolah menjadi informasi yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan. “Semua data yang diperoleh harus bisa diterjemahkan, harus bisa dibaca, sehingga sampai pada pengambilan keputusan,” jelasnya.
Di akhir pemaparannya, Bayu mengatakan penerapan pertanian presisi bertujuan memberikan perlakuan sesuai kebutuhan tanaman sehingga penggunaan air, pupuk, maupun input pertanian lainnya menjadi lebih efisien. Untuk mendukung hal tersebut, timnya mengembangkan sistem yang mengintegrasikan sensor cuaca, sensor tanah, serta drone pemantau dan drone penyemprot. Sistem tersebut juga dilengkapi dashboard yang memungkinkan petani maupun pemangku kepentingan memantau kondisi lahan secara real-time sekaligus memperoleh rekomendasi budidaya berdasarkan data lapangan dan kearifan lokal. “Teknologi itu menjadi salah satu variabel. Jangan teknologi ini dijadikan seolah-olah segala-galanya. Semua tergantung pada ekosistem pertaniannya,” tuturnya.
Menanggapi berbagai paparan tersebut, Kepala BAPPERIDA Kabupaten Tegal, Dr. Muhammad Faried Wajdy, mengatakan kunjungan ini merupakan langkah strategis untuk mempertemukan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata di daerah. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Tegal menargetkan transformasi menuju industri hijau pada tahun 2028 melalui pembangunan yang berbasis riset dan inovasi.
“Inisiatif kami adalah menciptakan ruang yang menghubungkan riset dan inovasi perguruan tinggi dengan permasalahan di lapangan. Kami berencana menerapkan agrivoltaic untuk mewujudkan pertanian terpadu komoditas hortikultura di Kabupaten Tegal mulai tahun 2027, dengan pendekatan berbasis BUMDes dan Kelompok Tani,” ujar Faried.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara Kabupaten Tegal dan UGM bukanlah hal baru. Sebelumnya, program KKN-PPM UGM telah menghadirkan solusi energi berbasis panel surya di Desa Wotgalih, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, yang sebelumnya belum terjangkau akses listrik.
Setelah sesi diskusi usai, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Laboratorium Energi Terbarukan (RELab) DTNTF UGM. Selanjutnya, rombongan meninjau lokasi agrivoltaic di Kebun Ketahanan Pangan BUMDes Pandowoharjo, Sleman. Dalam kunjungan kali ini diterima oleh Ketua Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Prof. Dr. Ir. Faridah, S.T., M.Sc., IPU., ASEAN Eng., yang memperkenalkan profil departemen, fasilitas laboratorium, kelompok bidang keahlian, serta berbagai hasil riset dan inovasi yang telah dikembangkan.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Laboratorium Energi FT UGM
