Komodo (Varanus komodoensis) merupakan spesies kadal terbesar di dunia yang hanya ditemukan di beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sebagai predator puncak sekaligus satwa endemik yang berstatus rentan punah (Vulnerable), upaya konservasi selama beberapa dekade terakhir lebih banyak berfokus pada dinamika populasi dan ekologi habitat. Sementara itu, aspek kesehatan, khususnya penyakit parasit pada komodo liar, masih relatif sedikit diteliti.
Menurut hasil penelitian tim Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, menemukan cacing pita endemik Kapsulotaenia sandgroundi dengan prevalensi 6,67 persen. Parasit ini memiliki adaptasi berupa kapsul pelindung ganda pada telurnya sehingga mampu bertahan hidup pada lingkungan sabana semi-arid yang menjadi habitat komodo.
Guru Besar Bidang Parasitologi FKH UGM, Prof. Wisnu Nurcahyo, mengatakan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa parasit tidak hanya dipandang sebagai penyebab penyakit, tetapi juga dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem, dan itu merupakan tonggak penting bagi kedokteran hewan satwa liar. “Parasit bukan sekadar patogen, melainkan indikator integritas ekologis. Ledakan populasi ektoparasit dan interaksinya dengan lingkungan serta manusia memproyeksikan perlunya manajemen biosekuriti yang lebih strategik,” ungkapnya, Kamis (2/7).
Wisnu menyebutkan hasil penelitian didapat oleh mahasiswa jenjang doktor Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), drh. Aji Winarso, M.Sc., yang melakukan penelitian disertasi mengenai keragaman parasit pada komodo liar di habitat alaminya melalui pendekatan multidisiplin yang memadukan parasitologi klasik, taksonomi molekuler, dan ekologi lanskap dalam kerangka One Health. Penelitian disertasi melalui skema Joint Supervision ini dibimbing oleh Prof. Dr. med. vet. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, Dr. drh. Dwi Priyowidodo, M.P., serta Assoc. Prof. MVDr. Ivona Foitová, Ph.D., dari Masaryk University, Republik Ceko.
Dihubungi secara terpisah, Aji Winarso menuturkan penelitian dilakukannya menyoroti dari sisi aspek kesehatan komodo liar masih menjadi bagian yang belum banyak dikaji dalam upaya konservasi. Selama ini, sebagian besar penelitian lebih menitikberatkan pada populasi dan ekologi, padahal penyakit dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa endemik yang hidup di pulau-pulau kecil. “Kami ingin membangun baseline data mengenai patogen dan parasit komodo sebagai dasar untuk mendeteksi ancaman penyakit sejak dini, terutama di tengah meningkatnya interaksi komodo dengan manusia akibat aktivitas pariwisata,” ujarnya.
Penelitian diawali dengan pemenuhan aspek legal melalui ethical clearance dan perizinan akses sumber daya genetik dari Kementerian Kehutanan. Selanjutnya, tim berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Komodo sebagai mitra penelitian sebelum melakukan observasi habitat dan pengambilan sampel biologis berupa feses, darah, serta ektoparasit komodo liar.
Sampel yang diperoleh kemudian diidentifikasi secara morfologis menggunakan mikroskop. Untuk memastikan identitas setiap parasit, tim melanjutkan analisis menggunakan metode molekuler sehingga hasil identifikasi dapat dipastikan secara lebih akurat.
Dari hasil penelitian, Aji mengatakan keberadaan cacing di saluran pencernaan maupun caplak pada kulit komodo merupakan kondisi yang lazim ditemukan di alam liar. Namun, peningkatan beban parasit akibat perubahan habitat atau stres lingkungan dapat mengancam daya tahan hidup komodo.
Ia juga menyoroti temuan caplak komodo yang menggigit manusia di Pulau Rinca sebagai sinyal penting bagi pengelola kawasan konservasi. Caplak berpotensi menjadi vektor berbagai mikroorganisme patogen sehingga interaksi yang terlalu dekat antara komodo, satwa mangsa seperti rusa dan babi, serta manusia di kawasan wisata dapat meningkatkan risiko spillover atau lompatan penyakit. “Jika terjadi interaksi yang terlalu dekat tanpa batas antara komodo, satwa mangsa (seperti rusa dan babi), dan manusia di zona wisata, risiko lompatan penyakit sangat nyata,” ungkapnya.
Dengan begitu, Aji menyarankan kepada pengelola Taman Nasional Komodo (TNK) dan pemerintah agar segera membangun sistem cegah dini kesehatan berbasis one health. Ia mengatakan bahwa pengelola arus rutin memantau tren parasit pada komodo secara berkala, memastikan satwa mangsanya bebas dari penyakit menular, dan memperkuat biosekuriti bagi petugas dan wisatawan agar rantai penularan zoonosis bisa terputus.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Aji Winarso
