Susu merupakan komponen strategis yang berperan sebagai sumber nutrisi masyarakat dan penggerak ekonomi rakyat, terutama bagi para peternak sapi perah skala kecil. Sayangnya, industri susu nasional masih menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya tingkat konsumsi susu hingga tingginya angka ketergantungan terhadap impor bahan baku susu. Di sisi lain, kebutuhan susu nasional diproyeksikan terus meningkat sejalan dengan hadirnya program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Susu adalah komponen pangan strategis dan berperan penting, baik sebagai sumber nutrisi untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat maupun sebagai penggerak ekonomi rakyat. Oleh karena itu, penguatan sektor peternakan sapi perah rakyat menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak,” kata Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni, FKH UGM, Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si., Senin (18/5) terkait hasil Lokakarya yang bertajuk “Sinergi Pemerintah dan Stakeholder dalam Mendukung Produktivitas Susu Lokal” di Auditorium FKH UGM.
Aris menyebutkan, produksi susu nasional saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 22-23% kebutuhan konsumsi susu nasional. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting, terutama ketika kebutuhan susu diprediksi akan meningkat untuk mendukung program MBG pada tahun-tahun mendatang. “Sinergi lintas sektor menjadi langkah strategis dalam meningkatkan produktivitas susu lokal sekaligus memperkuat kesejahteraan peternak sapi perah, terutama untuk rakyat,” ujarnya.
Penguatan sektor peternakan sapi perah rakyat perlu dilakukan secara terintegrasi melalui peningkatan populasi ternak, produktivitas, kualitas susu, akses pembiayaan, penguatan koperasi, hingga penerapan Good Dairy Farming Practices (GDFP).
Seperti diketahui, kokakarya ini merupakan bagian dari evaluasi dan penguatan tindak lanjut Program FRESH (Farmer Resilience and Enhanced Sustainable Husbandry) yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan kualitas susu, meningkatkan pendapatan petani, serta mengurangi emisi gas metana yang telah berjalan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Aris mengungkapkan sejumlah capaian dari program FRESH, di antaranya pemulihan pasca wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), peningkatan kapasitas peternak dan koperasi, dukungan terhadap pembiayaan ternak, dukungan fasilitas susu pasteurisasi, inovasi teknologi reproduksi dan pakan, serta pengembangangan energi biogas. Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi bersama PT Sarihusada Generasi Mahardika, Danone Ecosystem, PRISMA, dan Yayasan Rumah Energi. “Capaian pada program FRESH menjadi sebuah bukti bahwa kolaborasi lintas sektor mampu memberikan dampak positif bagi peternak dan masyarakat luas,” tegasnya.
PLH Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI, drh. Boethdy Angkasa, M.Si., menegaskan pentingnya upaya peningkatan produktivitas susu nasional yang sejatinya memerlukan kolaborasi lintas sektor dan tidak semata-mata dapat dijalankan oleh pemerintah saja. Menurutnya, pendekatan menyeluruh yang diterapkan melalui Program FRESH telah memberikan dampak positif bagi pengembangan peternak sapi perah rakyat selama tiga tahun terakhir. “Peningkatan produktivitas susu nasional tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Pemerintah tentunya memerlukan sinergi industri, akademisi, koperasi, dan peternak,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Senior Director Public Affairs and Sustainability, Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, menyoroti pentingnya penguatan tata kelola koperasi, akses pembiayaan, serta penerapan inovasi di tingkat peternak. “Penguatan tata kelola koperasi, akses pembiayaan, dan adopsi inovasi di tingkat peternak menjadi faktor penting agar program ini dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi kemajuan peternakan rakyat,” katanya.
Penulis : Diyana Khairunnisa
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific
