Menyelesaikan studi Doktor dalam waktu di bawah tiga tahun bukanlah hal yang mudah bagi banyak mahasiswa. Namun Stanley Evander Emeltan Tjoa membuktikan ia berhasil menjadi lulusan tercepat untuk prodi Doktor di wisuda program pascasarjana UGM pada 22-23 April lalu. Wisudawan prodi Doktor Biologi ini menorehkan catatan impresif sebagai lulusan program Doktor yang berhasil menuntaskan masa studinya dalam waktu yang relatif singkat, yakni 2 tahun 5 bulan 14 hari. Padahal masa studi rata-rata Program Doktor adalah 4 tahun 10 bulan.
Stanley mengisahkan bahwa ketertarikan di dunia biologi hingga ia menempuh gelar Doktor Biologi di UGM bermula dari sebuah ketidaksengajaan ketika SMA. Ia mengaku awalnya tidak terlalu menyukai mata pelajaran IPA. Namun, keberhasilannya masuk kelas sains khusus membuka kacamatanya pada dunia riset. “Dulu iseng-iseng coba masuk program science class, ternyata lolos. Dari sana, saya mulai penasaran dengan Biologi,” kenangnya, Rabu (29/4).
Pria asal Surabaya ini mengungkapkan bahwa statusnya sebagai mahasiswa by research yang dibiayai oleh perusahaan tempatnya bekerja menjadi kunci utama kecepatan studinya. “Karena saya melalui jalur by research, Prodi Biologi mengakomodasi agar prosesnya bisa lebih cepat. Sejak semester satu, saya sudah mulai menyusun proposal, lalu awal semester dua sudah ujian komprehensif. Jadi, untuk penelitian bisa lebih panjang dan terfokus,” ungkapnya.
Stanley mengisahkan perjalanan risetnya bermula dari sinergi antara dunia kerja dan akademisi. Saat ia mulai berkecimpung di bidang molekuler, diskusi antara pihak universitas dan perusahaan menjadi titik balik studinya. “Ketertarikan saya pada dunia molekuler semakin dalam saat bekerja. Waktu itu, Prof. Budi (Budi Daryono) mendiskusikan pengembangan kit ekstraksi miliknya dengan perusahaan kami. Perusahaan pun tertarik untuk mengembangkan lebih lanjut,” jelasnya.
Stanley menjelaskan bahwa kit DNA yang ia kembangkan berfungsi untuk mempersiapkan bahan sebelum dilakukan PCR (Polymerase Chain Reaction). Berbeda dengan metode konvensional, ia memanfaatkan teknologi nanopartikel magnetik untuk meningkatkan efisiensi dalam dunia kesehatan. “Disertasi saya fokus pada pengembangan kit ekstraksi DNA. Didukung oleh tim promotor dari lintas disiplin, yaitu Biologi, Kimia, dan Fisika, agar produk ini dapat menjadi satu kit yang utuh,” paparnya.
Inovasi riset mengenai ekstraksi DNA menggunakan nanopartikel magnetik yang ia kembangkan membuktikan bahwa Indonesia juga mampu memproduksi kit mandiri tanpa bergantung pada produk import. “Saat ini, kit ekstraksi DNA di Indonesia dibanjiri oleh produk impor. Disamping harga yang tinggi akibat bea masuk, waktu distribusi juga memakan waktu yang lama. Melalui disertasi ini, saya mencoba mengatasi tantangan tersebut dengan menyesuaikannya dengan Rencana induk pengembangan Industri Nasional (RIPIN) hingga 2035,” Ungkapnya.
Penulis : Aldi Firmansyah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Stanley
