Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan kehormatan delegasi Australia-Indonesia Centre (AIC) yang dipimpin Executive Director AIC, Boyd Whalan, di Ruang Tamu Rektor, Selasa (4/8). Pertemuan ini menjadi ajang perkenalan Boyd Whalan sebagai Executive Director AIC sekaligus membahasa penguatan kolaborasi riset, pendidikan tinggi, dan kemitraan kelembagaan antara Indonesia dan Australia.
Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, menyampaikan bahwa UGM telah menjadi bagian dari perjalanan AIC sejak awal pembentukannya pada 2014. Menurutnya, pengalaman UGM dalam menjalankan program split-site, double degree, serta berbagai kolaborasi riset dengan universitas-universitas Australia menjadi modal penting dalam pengembangan program doktor bersama. “UGM menjadi saksi lahirnya Australia-Indonesia Centre pada 2014. Kami tentu sangat senang melihat perkembangan AIC yang semakin besar karena sejak awal kami telah mengikuti proses pembentukannya,” tutur Danang.
Ia menilai salah satu aspek yang masih perlu diperkuat dalam kerja sama tersebut adalah pengembangan skema beasiswa doktor yang lebih terstruktur. “Salah satu hal yang masih perlu diperkuat dalam program AIC adalah skema beasiswa doktor. Karena itu, kami menyambut baik inisiatif untuk mengembangkan program tersebut,” ujarnya.
Menurut Danang, UGM juga telah menjalin komunikasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengenai peluang pengembangan program doktor bersama dengan universitas-universitas unggulan di Australia. Berbagai capaian kolaborasi yang telah dihasilkan, mulai dari riset bersama hingga publikasi internasional, dinilai menjadi fondasi yang kuat untuk membangun skema pendidikan doktor yang lebih terintegrasi.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Kemitraan dan Relasi Global, Prof. Puji Astuti, menekankan jika pengembangan program doktor kolaboratif tidak perlu dimulai dari awal. Menurutnya, berbagai skema kerja sama yang telah dimiliki UGM bersama mitra di Australia dapat diintegrasikan sebagai fondasi pengembangan program baru. “Kita bisa memulai dari apa yang sudah kita miliki. Berbagai skema pendanaan, program gelar ganda, maupun kolaborasi yang telah berjalan dapat menjadi dasar untuk membangun program ini. Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana mengintegrasikan semuanya dalam satu sistem sehingga tidak perlu memulai dari nol,” ujar Prof. Puji.
Ia menambahkan, penyelarasan berbagai program yang telah berjalan, termasuk kolaborasi riset tematik dan jejaring pembimbing dari kedua negara, akan mempermudah pengembangan program doktor bersama sekaligus memperkuat ekosistem riset antara Indonesia dan Australia.
Dalam diskusi, kedua belah pihak juga menyoroti peluang pengembangan skema pendanaan bersama (co-funding) dengan mengoptimalkan berbagai sumber pendanaan yang telah tersedia, termasuk LPDP, dukungan universitas mitra di Australia, serta peluang keterlibatan sektor industri. Sejumlah tema strategis seperti ketahanan pangan, transisi energi, perubahan iklim, kesehatan, hingga pengembangan wilayah pesisir dan Indonesia Timur turut menjadi fokus pembahasan karena dinilai sejalan dengan prioritas pembangunan kedua negara.
Saat ini UGM merupakan salah satu anggota konsorsium AIC yang telah menjalin berbagai kolaborasi riset dengan universitas-universitas di Australia. Selain itu, UGM juga memiliki puluhan program double degree dengan mitra perguruan tinggi Australia yang menjadi fondasi bagi pengembangan kerja sama pendidikan tinggi dan riset di masa mendatang.
Boyd Whalan memaparkan gagasan pengembangan ekosistem pendidikan doktor Indonesia-Australia yang lebih terintegrasi melalui pembentukan model kolaborasi baru. Model tersebut dirancang memiliki tiga pilar utama, yakni program persiapan bagi calon mahasiswa doktor, jalur pendidikan doktor bersama (joint doctoral pathways), serta riset yang berfokus pada prioritas nasional Indonesia. Menurutnya, pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan calon mahasiswa, memperluas akses terhadap pendanaan beasiswa, sekaligus memperkuat dampak penelitian melalui kolaborasi antaruniversitas. “Salah satu tantangan yang selama ini dihadapi calon mahasiswa doktor adalah banyak di antara mereka yang belum memenuhi syarat untuk memperoleh beasiswa. Karena itu, kami ingin mempersiapkan mereka sebelum proses pendaftaran agar peluang keberhasilannya lebih besar,” ujar Whalan.
Ia menjelaskan, konsep tersebut mendapat respons positif dalam diskusi yang melibatkan sekitar 20 perguruan tinggi Indonesia dan Australia pada Juli lalu. Menurutnya, berbagai universitas telah memiliki beragam bentuk kerja sama, namun diperlukan koordinasi yang lebih sistematis agar skema pendanaan, mobilitas akademik, dan penyelenggaraan program doktor bersama dapat saling terintegrasi. “Program ini kami pandang sebagai upaya koordinasi. Kami ingin menjadi force multiplier yang memperkuat berbagai inisiatif yang sudah berjalan, bukan menggantikannya,” katanya.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, UGM beserta sivitasnya akan menggelar serangkaian koordinasi antar unit untuk membahas masukan terkait desain program. Hasil pembahasan tersebut akan menjadi dasar perencanaan penyusunan model kolaborasi, mekanisme pendanaan, serta skema penyelenggaraan program doktor bagi AIC. Sejalan dengan itu, AIC juga akan mencoba untuk berkoordinasi dengan sejumlah universitas di Australia untuk memperkuat perencanaan.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
