Wakil Presiden RI Periode 2004-2009 dan 2014-2019, Dr. (H.C.) Drs. Muhammad Jusuf Kalla mengisi ceramah tarawih di sesi Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM, Kamis (5/3). Dalam ceramahnya, ia menyampaikan bahwa sebagian besar konflik yang terjadi di Indonesia terjadi akibat ketidakadilan pemerintahan. Keadaan ini ditunjukkan dengan 9 dari 15 konflik besar yang terjadi di Indonesia sejak kemerdekaan disebabkan oleh ketidakadilan. “Penyebab konflik di Indonesia terjadi karena ketidakadilan pemerintah yang berakhir menjadi konflik agama, masalah sosial-politik, wilayah, hingga ideologi,” ucap Jusuf Kalla.
Menurut pengalamannya, dari 15 konflik tersebut hanya 3 konflik yang diselesaikan dengan damai, 12 konflik sisanya diselesaikan dengan operasi militer. Ia mengatakan untuk menyelesaikan konflik dengan damai, dilakukan dengan ilmu, logika, dan keberanian. Mengetahui sebab terjadinya konflik dari dalam, mempelajari sifat dan sikap masyarakatnya serta memberi pengertian dengan damai kepada masyarakat berkonflik merupakan langkah yang digunakan untuk mendamaikan konflik.
Dalam konflik antar negara di kawasan Asia tenggara, Indonesia memiliki peran besar dalam perdamaian seperti pada konflik Kamboja dan Thailand, Konflik Filipina-Moro, Kamboja dan Vietnam, serta Rohingya dan Myanmar. Peran ini sejalan dengan konstitusi Indonesia yaitu UUD 1945, Indonesia wajib ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. “Setiap perdamaian dari konflik di dunia bisa diatasi dengan mengerti masalahnya dan mendapatkan perjanjian yang win-win solution,” tutur Jusuf Kalla.
Jusuf Kalla menekankan bahwa perang yang saat ini terjadi merupakan perang teknologi. Teknologi memiliki peran penting dalam kekuasaan dan kemajuan suatu negara. Dari sisi pendidikan di ranah Universitas, mahasiswa harus memiliki semangat tinggi untuk mempelajari ilmu pengetahuan khususnya untuk membantu perkembangan teknologi. “Dengan ilmu yang kita miliki, kita harus memakai dan menguasai teknologi dengan baik untuk kemajuan negara,” katanya.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa dan dosen agar meningkatkan kemampuan research teknologi untuk kepentingan kedamaian dan kemajuan negara. Kemudian, apabila ingin menjadi bagian dari pemerintah baik pusat atau daerah, agar selalu bertindak adil sehingga tidak terjadi keruntuhan persatuan di Indonesia. “Meningkatkan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan serta pemerintahan yang bertindak adil dapat meningkatkan ekonomi negara dan mengurangi terjadinya konflik,” pesannya.
Sebagai penutup, Ia menambahkan hal penting disamping penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu menjadi pengusaha. Kerja keras, Jujur, dan memiliki banyak ide baru memiliki peran penting dalam membangun kemajuan bangsa. “Usaha, bisnis, dan ilmu pengetahuan itu penting untuk mendorong penguasaan teknologi yang lebih baik,” harap Jusuf Kalla.
Penulis : Jesi
Editor : Gusti Grehenson
Foto. : Dok. Panitia RDK
