Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, kerap disebut sebagai TPST terbesar di kawasan Asia Tenggara sekaligus penghasil metana terbesar kedua di dunia setelah TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina. Kedua tempat pembuangan sampah tersebut tertangkap oleh satelit Carbon Mapper sebagai produsen metana terbesar hingga mencapai lebih dari 6 ton perjam. Hal itu mengemuka dalam laporan Emmett Institute, Pusat studi hukum dan kebijakan lingkungan serta perubahan iklim, Fakultas Hukum University of California merilis daftar nama 25 tempat pembuangan sampah dengan produksi metana terbesar di sepanjang tahun 2025.
Pakar biorefinery limbah hayati, energi berkelanjutan, dan teknologi penghilangan karbon dioksida, sekaligus Dosen Teknik Kimia UGM Hanifrahmawan Sudibyo, S.T., M.Eng., M.S., Ph.D., mengatakan metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap peningkatan suhu bumi. Gas ini umumnya dihasilkan dari penguraian bahan organik pada kondisi anaerobik atau minim oksigen, seperti pada timbunan sampah organik, kotoran hewan, sedimen rawa, maupun limbah industri pangan dengan kadar air tinggi. “Kondisi lembap dan terbatasnya suplai oksigen menjadi lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme penghasil metana,” kata Hanif, Senin (18/5).
Secara lebih spesifik, Hanif menjelaskan bahwa pembentukan metana dilakukan oleh arkea metanogenik, yaitu kelompok mikroorganisme anaerob yang berperan pada tahap akhir penguraian bahan organik. Dalam proses tersebut, senyawa organik kompleks terlebih dahulu diuraikan oleh komunitas mikroba lain menjadi senyawa sederhana seperti asam organik, hidrogen, dan karbon dioksida, yang kemudian dikonversi oleh arkea metanogenik menjadi gas metana.
Dalam kasus TPA Bantar Gebang, saat terdapat tumpukan sampah organik dalam jumlah besar, akan terbentuk zona-zona yang minim oksigen, terutama pada bagian dalam dan bawah timbunan sampah. Kondisi lembap akibat air hujan, porositas yang rendah, serta terbatasnya sirkulasi udara menciptakan lingkungan yang ideal bagi aktivitas mikroorganisme anaerob, termasuk arkea metanogenik. “Selama proses penguraian tersebut berlangsung, gas metana akan terbentuk dan dapat terlepas ke atmosfer apabila tidak dikelola dengan baik,” jelasnya.
Hanif menambahkan bahwa metana pada dasarnya merupakan bagian alami dari siklus karbon di bumi dan secara alami diproduksi dalam proses biodegradasi bahan organik. Namun, permasalahan lingkungan muncul ketika emisi metana meningkat secara berlebihan akibat akumulasi limbah organik yang tidak terkelola dan tidak termanfaatkan secara optimal. “Mengingat potensi pemanasan global metana lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu tertentu, pelepasan metana dari TPA menjadi salah satu isu penting dalam pengendalian emisi gas rumah kaca,” paparnya.
Dari perspektif teknik kimia dan konversi energi, pemanfaatan gas metana dari TPA dapat menjadi salah satu strategi untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung transisi energi yang lebih bersih. Proses tersebut dilakukan melalui teknologi penangkapan gas metana (methane capture), misalnya menggunakan jaringan pipa vertikal maupun horizontal yang dipasang di area timbunan sampah untuk mengumpulkan gas yang terbentuk di dalam landfill. “Hanif menjelaskan bahwa gas metana yang terkumpul kemudian dapat dialirkan menuju unit pemurnian maupun pembangkit listrik berbasis biogas untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi,” jelasnya.
Selain penerapan teknologi methane capture, Hanif menekankan bahwa upaya pencegahan melalui pemilahan sampah dan pengurangan limbah organik yang masuk ke TPA juga sangat penting. Peningkatan konsumsi masyarakat tanpa diimbangi pengelolaan limbah yang baik akan meningkatkan beban TPA, baik dari sisi kapasitas maupun potensi pembentukan gas metana. Oleh karena itu, pemanfaatan metana sebagai sumber energi perlu diintegrasikan dengan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan guna mendukung konsep ekonomi sirkular dan pengurangan emisi gas rumah kaca dalam jangka panjang.
Hanif juga menilai bahwa optimalisasi pemanfaatan gas metana di TPA tidak dapat hanya mengandalkan operator pengelola sampah maupun sektor industri semata. Diperlukan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga badan usaha penyedia energi seperti PLN, untuk membangun infrastruktur dan sistem pemanfaatan gas landfill secara terintegrasi. “Tingginya potensi produksi metana di TPST Bantargebang dinilai dapat menjadi momentum evaluasi pengelolaan sampah nasional, khususnya dalam mendorong pengurangan emisi sekaligus pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan,” pungkasnya.
Penulis : Ika Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Forestdigest
