Sebanyak 60 peneliti dari lima negara mengikuti The 7th International Conference on Environmental Resources Management in Global Region (ICERM) yang diselenggarakan oleh Fakultas Geografi UGM pada Selasa (19/5) di UC Hotel. Kelima negara yang turut mengikuti kegiatan ini berasal dari Indonesia, Malaysia, India, Taiwan, dan Jepang. Konferensi kali ini mengusung tema “Human Resources Management for Sustainability”. Kegiatan yang rutin dilakukan dua tahun sekali ini bertujuan sebagai wadah pertukaran gagasan ilmiah sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis data demi keberlanjutan lingkungan.
Pembicara tamu pertama datang dari JSS Science and Technology University, India, Prof. Dr. S. Suriyanarayanan, M.Sc., M.Phil., Ph.D., PGDESD. Ia memperkenalkan konsep Sponge City sebagai solusi berbasis alam. Infrastruktur hijau seperti hutan kota, dan lahan basah dirancang untuk menyerap, menyimpan, dan menyaring air hujan untuk mengurangi risiko banjir serta meningkatkan keanekaragaman hayati. “Rekayasa teknik saja tidak dapat menyelesaikan masalah iklim. Kuncinya adalah manusia harus belajar hidup selaras dengan alam,” papar Suriyanarayanan dalam keterangan yang dikirim ke wartawan, Jumat (22/5).
Sementara Prof. Jian Bang Deng dari Tamkang University, Taiwan memaparkan penelitiannya mengenai migrasi Internasional di Indonesia. Ia menyebutkan Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, dan Singapura merupakan negara tujuan bagi pekerja dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia menemukan banyak mantan pekerja migran sukses menjadi wirausaha di desa asal. Menurutnya, sistem migrasi ini menguntungkan kedua belah pihak dengan pengurangan pengangguran dari negara asal dan mengatasi kekurangan tenaga kerja akibat penuaan populasi di negara tujuan. “Migrasi dapat memberikan dampak transformatif pada desa asal melalui inovasi dan pengembangan sumber daya manusia dari keterampilan yang didapatkannya,” kata Jiann Bang Deng.
Sedangkan pembicara tamu, Prof. Dr. Makoto Takahashi dari Nagoya University, Jepang, membagikan pengalaman negaranya dalam menghadapi risiko tsunami di bagian selatan. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah populasi penduduk yang sudah menua. Ia menekankan pentingnya memori sosial dalam komunitas untuk menjaga kewaspadaan terhadap bencana. “Masalah sekarang ini pada masyarakat usia lanjut yang tidak ingin direlokasi meskipun tinggal di daerah yang rawan bencana,” ungkap Makoto.
Selain pembicara tamu, terdapat juga sesi keynote speaker menghadirkan Dr. Dyah Rahmawati Hizbaron, M.T., M.Sc. dari Fakultas Geografi UGM yang mengulas terkait Human geography and Urban risk management. Kemudian dari Universiti Teknologi Malaysia, Dr. Khamarrul Azahari Bin Razak memaparkan bidang Community-based Complex Disaster Risk Reduction. Terakhir, Dr. Abdul Haris Achadi, S.H., DESS., dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS), yang membawa perspektif praktis mengenai Disaster and Emergency management.
Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., menyampaikan dukungan penuh terhadap konferensi ini sebagai wadah strategis bagi UGM untuk memperluas jejaring internasional. Ia menekankan bahwa esensi dari seluruh upaya mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan bermuara pada kesiapan perilaku dan tata kelola manusianya. “Hadirnya kegiatan ini, diharapkan dapat mendorong kolaborasi global baik dalam bentuk riset bersama, pertukaran pelajar, maupun perumusan kebijakan tata ruang yang inklusif,” tuturnya.
Ketua Panitia ICERM 2026, Prof. Dr. Sri Rum Giyarsih, S.Si., M.Si., berharap kegiatan ini dapat bermanfaat bagi akademisi dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya geografi lingkungan. Kegiatan ini juga bermanfaat bagi pembuat kebijakan dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang tepat karena didasarkan dari hasil riset para peneliti dari berbagai negara.
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Dok.Fakultas Geografi & Jesi
