Industri benih nasional kini menghadapi banyak tantangan. Hal ini lantaran dampak dari krisis iklim global, ketegangan geopolitik, keterbatasan rantai pasok, digitalisasi, hingga belum optimalnya kemandirian teknologi perbenihan nasional. Hingga 2023, Indonesia telah merilis 530 varietas unggul padi baru, tapi hanya 155 varietas unggul baru yang telah ditanam petani. Sebagian besar petani hanya menanam tiga jenis varietas unggul baru, yaitu Inpari 32 seluas 1,64 juta hektar (25,42 persen), Ciherang 1,19 juta hektar (18,5 persen) dan Mekonga 755.000 hektar.
Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Kementan RI. Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc., menjelaskan bahwa tingginya kebutuhan akan benih bermutu untuk aneka komoditas menjadi pasar yang sangat potensial bagi para produsen domestik. Peluang ini semakin diperkuat melalui PP No. 7 Tahun 2026 yang memberikan kepastian hukum, standarisasi mutu, serta rekognisi khusus bagi benih varietas lokal dan petani kecil. “Kami memerlukan dukungan. Terus terang, kami kesulitan mendapatkan benih kedelai, ubi jalar, ubi kayu, dan kacang tanah serta kacang hijau. Kami harapkan UGM bisa men-support ini karena benihnya spesifik satu sama lain,” tuturnya dalam Indonesia Seed Industry Leadership Forum (ISILF) 2026 di Hotel Eastparc, kamis (11/6).
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., mengemukakan di sektor pembenihan, UGM sendiri berhasil mengembangkan Padi Gamagora yang kini sukses diadopsi di berbagai penjuru negeri. “Kita tahu, bidang agro ini menjadi tulang punggung ketersediaan pangan dan energi. UGM saat ini salah satu prioritasnya ialah inovasi dalam bidang agriculture complex, sehingga kita mengembangkan sebuah ekosistem dari hulu ke hilir,” katanya.
Tidak hanya fakultas pertanian, kata Danang, pihaknya melibatkan berbagai fakultas karena berkaitan dengan pangan tidak hanya isu teknologi semata, tetapi juga isu tentang rantai pasok, regulasi, dan perilaku masyarakat. Selain itu, sinergi lintas sektor ini dinilai makin krusial karena saat ini pembenihan nasional menghadapi hambatan dalam menyatukan visi antara akademisi dan pelaku usaha. UGM melalui integrasi riset antarfakultas, katanya, telah mengembangkan soil additive kalium humat guna mendongkrak produktivitas lahan, hingga pemanfaatan limbah geothermal menjadi nanosilika.
Sementara Ketua Ikatan Produsen Benih Holtikultura (IPBH), Muhammad Aris, S.P., M.P., memaparkan bahwa kelompok usaha kecil menengah dianggap paling siap menjadi objek hilirisasi dan mitra kolaborasi konkret dari program riset perguruan tinggi. Melalui penguatan jaringan kerja sama, menurutnya produsen kecil memiliki peluang untuk tumbuh mandiri, mengadopsi sistem manajemen mutu ISO, serta memanfaatkan branding melalui internet untuk pemasaran. “Saya berharap, peran dari perguruan tinggi ada di sini, ya, terutama dukungan di bidang pemuliaan tanamannya,” jelasnya.
Ketua pelaksana Indonesia Seed Industry Leadership Forum 2026, sekaligus Dosen Departemen Budidaya Pertanian UGM Dr. Rizky Pasthika Kirana, menuturkan tantangan nyata dalam pengembangan perbenihan terkait kesiapan sumber daya manusia, adopsi teknologi baru, dan mekanisme kolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri. Menurutnya, perlu dibangun sebuah jembatan agar potensi masing-masing pihak dapat digabungkan sehingga dapat menjawab sejumlah masalah. “Nah, ini kan masing-masing pihak memiliki tujuan, tapi kenyataannya banyak sekali yang berjalan di jalurnya sendiri-sendiri sehingga potensi sinergi itu belum optimal. Melalui forum ini, harapannya kami dapat mempertemukan para pengambil keputusan dari industri, asosiasi, lembaga pemerintah dan UGM untuk menyusun agenda bersama,” jelasnya.
Melalui ruang dialog yang konstruksi tersebut, kata Rizky, pertemuan ini dirancang akan melahirkan sejumlah luaran konkret berupa empat dokumen kerja utama, antara lain peta kompetensi SDM Industri benih, daftar program pelatihan lintas sektor, skema kemitraan, dan skema pascasarjana yang realistis untuk staf industri.
Penulis : Aldi Firmansyah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Foto dan Aldi Firmansyah
