Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. med. vet. drh. Hendry T.S.S.G. Saragih, M.P., dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM di bidang Struktur Perkembangan Hewan di Balai Senat UGM, Kamis (2/7). Pada upacara pengukuhan, ia menyampaikan pidato berjudul “Peran Ilmu Struktur Perkembangan Ayam di Bidang Biomedis dan Industri Perunggasan”.
Hendry mengatakan Indonesia memiliki kekayaan plasma nutfah ayam lokal yang sangat besar dan bernilai strategis. Namun, produktivitas ayam lokal masih menghadapi berbagai tantangan dengan seperti laju pertumbuhan yang relatif lambat, produktivitas reproduksi yang lebih rendah, serta sistem pemeliharaan yang masih didominasi pada pola tradisional,
Bidang ilmu perkembangan hewan menurut Hendry mampu mempelajari proses pertumbuhan ayam sejak fertilisasi hingga fase dewasa. Ia menyebutkan kajiannya mencakup pembelahan sel diferensiasi, morfogenesis, pertumbuhan, dan organogenesis. Gangguan pada salah satu tahapannya, sebutnya, dapat mempengaruhi pembentukan struktur dan fungsi tubuh. “Terlebih, ilmu ini erat kaitannya karena proses perkembangan embrio menjadi dasar dalam memahami penyakit dan kelainan kongenital pada hewan,” katanya.
Hendry menyebutkan penggunaan embrio ayam pada tahap perkembangan awal memberikan solusi terhadap tantangan etika biomedis modern. Hal ini dikarenakan belum dikategorikan sebagai organisme yang memiliki tingkat sensitivitas penuh. Ia menyebutkan sehingga sering dianggap memiliki tingkat etika yang lebih rendah dibandingkan vertebrata dewasa. “Pemanfaatan embrio ayam sangat sejalan dengan prinsip 3R (Replacement, Reduction, dan Refinement),” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyebutkan pentingnya penggunaan metode penelitian Chick Embryotoxicity Screening Test (CHEST) dan studi toksikologi perkembangan. Ia menjelaskan embrio yang efektif digunakan sebagai indikator awal untuk menguji efek embriotoksik maupun teratogenik. Terlebih dari senyawa farmakologis, bahan kosmetik, pengawet, dan kontaminan lingkungan sebelum pengujian dilanjutkan pada manusia.
Dalam penelitian biomedis farmakologi, sebut Hendry, embrio ayam merupakan model organisme klasik yang sangat penting dalam biologi perkembangan. Model ini memiliki persamaan mekanisme genetik serta sekuens genom yang kuat dengan vertebrata lain termasuk manusia. Ia menjelaskan bahwa keunggulan operasional embrio ayam terletak pada kemudahan manipulasi selama inkubasi. Langkah ini memudahkannya dalam membuka cangkang untuk mengamati organogenesis secara langsung. “Peneliti dapat mengisolasi efek langsung farmakologis terhadap sistem saraf, kardiovaskular, dan jaringan lainnya dalam waktu relatif singkat,” ungkapnya.
Selain faktor genetik, sebut Hendry, nutrisi merupakan komponen yang sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan ayam. Ia menyebutkan bahan alami yang berasal dari sumber daya terestrial memiliki potensi besar sebagai sumber nutrisi dan senyawa biotik. Di samping itu, berbagai organisme akuatik juga memiliki potensi yang sangat menjanjikan sebagai bahan tambahan pakan unggas. Ia mencontohkan seperti makroalga, alga hijau, maupun hasil samping industri perikanan. “Itu mengandung protein, mineral, asam lemak, serta berbagai senyawa yang mampu mendukung perkembangan pernapasan dan jaringan otot,” sebutnya.
Menurutnya, pemanfaatan sumber daya akuatik ini tidak hanya meningkatkan performa pertumbuhan. Kendati demikian, juga memberikan alternatif bahan pakan yang lebih berkelanjutan dan bernilai ekonomis. Ia menyebutkan perbaikan morfologi usus halus, peningkatan perkembangan otot, serta optimalisasi fungsi berbagai organ merupakan bukti bahwa interferensi nutrisi bekerja melalui mekanisme biologis yang dapat diamati secara histologis dan anatomis.
Lebih lanjut, Hendry menyebutkan kajiannya memperkaya pemahaman dasar mengenai biologi perkembangan dan juga menghasilkan berbagai inovasi industri perunggasan modern. Melalui riset ini, katanya, dapat membangun sistem produksi unggas yang lebih produktif, efisien, berkelanjutan, serta mampu menjaga kelestarian sumber daya genetik unggas Indonesia. “Dengan cara inilah, ilmu struktur dan perkembangan hewan diharapkan dapat terus memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat industri perunggasan nasional sekaligus mendukung pemeliharaan pangan di masa depan,” lanjutnya.
Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., menyebutkan Prof. Hendry merupakan salah satu dari 545 guru besar aktif di UGM dan 16 guru besar aktif dari 30 guru besar yang sempat dimiliki oleh Fakultas Biologi.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
