Lulusan program studi Manajemen Kebijakan Publik, Fisipol UGM Stanley Jeremy Hasea, dinobatkan menjadi wisudawan tercepat pada Wisuda Program Sarjana Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Grha Sabha Pramana (GSP), Kamis (20/8) lalu. Ia berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun, 5 bulan, 11 hari. Padahal, rata-rata masa studi lulusan sarjana periode ini adalah 4 tahun 1 bulan.
Bagi Stanley, kunci menyelesaikan studi bukan hanya sekadar pandai mengatur waktu, tetapi mengetahui bagaimana arah tujuan dan memastikan setiap tahapan dapat selesai pada waktunya. Selama menjalani perkuliahan, ia mengaku menerapkan strategi sequence management, yakni mengatur rangkaian kewajiban akademik berdasarkan prasyaratnya agar tidak menumpuk di akhir masa studi. “Bukan time management, tetapi lebih ke sequence management. Secara akademis, di semester tujuh saya sudah bisa mengerjakan skripsi saja karena semester-semester sebelumnya saya sudah menyelesaikan semua perkuliahan,” ujar Stanley, Selasa (1/9).
Ia mengaku tidak memasang target untuk lulus cepat, tetapi ia menetapkan waktu 3,5 tahun sebagai batas maksimal sekaligus menargetkan IPK di atas 3,5. Salah satu pertimbangannya adalah menghindari pembayaran UKT pada semester kedelapan yang menurut pengalamannya di program studi, diperlukan untuk melanjutkan proses skripsi. “Buat saya, sebenarnya bukan target secepat-cepatnya, tetapi paling lama 3,5 tahun,” tuturnya.
Stanley menuturkan bahwa proses tersebut juga tidak terlepas dari dukungan Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik (DMKP) UGM. Ia menilai pendekatan departemen yang memiliki alur akademik terstruktur sekaligus memberikan ruang penyesuaian sangat membantu mahasiswa dalam menyelesaikan studi secara efektif tanpa harus mengesampingkan kegiatan lain. “Departemen juga sangat membantu mahasiswa untuk dipercepat. Jadi, saya tidak perlu terlalu banyak terburu-buru dan masih sempat mengerjakan kegiatan-kegiatan yang lain,” terangnya.
Dukungan tersebut semakin terasa ketika perjalanan akademik Stanley sempat berubah dari rencana awal. Pada semester kelima, ia sempat merencanakan mengikuti program pertukaran pelajar. Namun, rencana tersebut batal karena kendala administrasi antara UGM dan kampus tujuan. Sebagai gantinya, Stanley mengikuti magang di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Filipina pada bidang perdagangan. Pengalaman tersebut kemudian memberinya wawasan dan data yang mendukung penelitian skripsinya mengenai kebijakan pelarangan impor pakaian bekas di Indonesia. “Saya magang di Embassy of Indonesia di Philippines, di bidang trade atau perdagangan. Itu juga membantu karena skripsi saya ada soal trade. Saya bisa mendapatkan insight dan data-data yang cuma bisa saya dapat waktu di sana,” jelasnya.
Dalam skripsinya, Stanley mengkaji kebijakan pelarangan impor pakaian bekas melalui aspek policy coherence dan implementation effectiveness. Ia melihat bagaimana kebijakan tersebut dapat berjalan selaras dengan kebijakan lainnya sekaligus dapat diterapkan secara efektif. “Jadi bagaimana kebijakan pelarangan impor baju bekas ini tidak bertumpang tindih dengan kebijakan lain dan bagaimana kebijakan itu memang diimplementasikan secara efektif,” tuturnya.
Menurut Stanley, isu tersebut menarik karena perdagangan pakaian bekas telah berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak pihak. Rantai aktivitas tersebut mencakup proses masuknya barang hingga distribusi kepada konsumen. “Dari rantai pasoknya, dari masuk pelabuhan sampai ke pembeli, itu sudah menjadi sebuah ekonomi. Kalau memang kebijakan itu diterapkan, bagaimana itu tidak bertabrakan dengan kesejahteraan dari pelaku ekonomi ini,” jelasnya.
Meski harus menempuh rute akademik yang berbeda, Stanley mengatakan bahwa DMKP UGM tetap membantu mencari skema yang memungkinkan dirinya menyelesaikan studi secara optimal. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman studinya. Ia pun menyampaikan apresiasi secara khusus kepada DMKP UGM beserta para dosen yang telah mendampingi perjalanan akademiknya.
Di akhir wawancara, Stanley berpesan untuk mahasiswa yang menjadikan kelulusan cepat sebagai prioritas maka harus mampu mengurangi berbagai distraksi (gangguan) sejak awal perkuliahan. Menurutnya, gangguan kecil yang dibiarkan sejak semester awal dapat terakumulasi dan pada akhirnya mengurangi waktu serta ruang untuk menyelesaikan tugas utama, termasuk tugas akhir. “Karena distraksi sekecil apapun kalau diambil dari semester satu lambat laun akan menjadi besar,” pungkas Stanley.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Stanley
