Berawal dari keresahan terhadap limbah styrofoam yang terus menumpuk, sulit terurai secara alami, dan berpotensi meninggalkan residu mikroplastik yang berbahaya bagi lingkungan. Tim mahasiswa UGM mengembangkan kemasan ramah lingkungan dari bahan jalinan miselium jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Selain tidak melepaskan mikroplastik ke lingkungan seperti styrofoam konvensional, inovasi yang dinamakan Mushfoam ini juga mendukung prinsip circular economy karena bahan bakunya berasal dari limbah pertanian yang selama ini kurang termanfaatkan.
Riset ini lahir melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) 2026 yang diketuai oleh Divo Cahaya Fikri (Teknik Nuklir, Fakultas Teknik), bersama Nasyawana Ladita Agustine (Kimia, FMIPA), Umi Muthoharoh (Akuntansi, FEB), Reyhan Abelard Fikri (Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak, Sekolah Vokasi), dan Balqhis Naila Andini (Filsafat). Choirunnisa Arifa, S.E., M.Sc., Ph.D., Ak., CA., dosen Departemen Akuntansi FEB UGM, mendampingi tim sepanjang proses riset hingga uji kelayakan usaha.
Divo Cahaya Fikri, selaku ketua tim, mengungkapkan bahwa pengembangan Mushfoam berawal dari keresahan tim terhadap limbah styrofoam yang terus menumpuk, sulit terurai secara alami, dan berpotensi meninggalkan residu mikroplastik yang berbahaya bagi lingkungan. Kondisi tersebut kemudian mendorong tim untuk memanfaatkan limbah pertanian yang diikat oleh hifa jamur sebagai alternatif pengganti polistirena yang lebih ramah lingkungan. “Dari persoalan tersebut, muncul gagasan untuk memanfaatkan limbah pertanian yang mudah terurai sebagai pengganti polistirena, guna mengurangi limbah styrofoam sekaligus memaksimalkan potensi limbah pertanian yang belum banyak dimanfaatkan,” jelasnya dalam keterangan yang dibagikan, Senin (7/9).
Volume sampah styrofoam di Indonesia yang terus menumpuk mendorong kelima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (merancang material pengemasan baru bernama Mushfoam. Berbeda dari styrofoam konvensional yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, material ini memanfaatkan jalinan miselium jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) yang tumbuh mengikat limbah pertanian menjadi lembaran padat, ringan, dan dapat dikomposkan setelah digunakan.
Secara teknis, ampas tebu yang telah dihaluskan berperan sebagai serat penguat struktur, sementara tongkol jagung giling digunakan untuk mengisi massa lembaran. Kedua bahan tersebut kemudian dicampur dengan dedak padi sebagai nutrisi dan kalsium karbonat sebagai penstabil pH. Campuran selanjutnya disterilisasi sebelum diinokulasi dengan bibit jamur. Selama 5 hingga 7 hari, miselium dibiarkan tumbuh menembus campuran substrat hingga membentuk jalinan yang kokoh. Proses tersebut dalam riset material dikenal sebagai mycelium bio-fabrication. “Lembaran yang telah terbentuk kemudian dikeringkan menggunakan oven dan dilapisi beeswax agar lebih tahan terhadap kelembapan,” jelasnya.
Hasilnya berupa panel dengan ketebalan 1–2 cm dan ukuran standar 60 × 40 cm. Menurut tim, produk tersebut juga dapat dicetak sesuai dengan bentuk yang dipesan (custom shape). Selain tidak melepaskan mikroplastik ke lingkungan seperti styrofoam konvensional, Mushfoam juga mendukung prinsip circular economy karena bahan bakunya berasal dari limbah pertanian yang selama ini kurang termanfaatkan.
Anggota tim, Umi Muthoharoh, menyebut bahwa tantangan dalam mengembangkan Mushfoam tidak hanya terletak pada upaya menghasilkan material yang ramah lingkungan, tetapi juga memastikan produk tersebut memiliki nilai ekonomi dan dapat diterima pasar. “Bagi kami, tantangannya bukan hanya menghasilkan material yang ramah lingkungan, tetapi juga memastikan produk tersebut memiliki nilai ekonomi dan dapat diterima pasar. Karena itu, kami perlu menghitung biaya produksi dan menentukan harga yang tetap terjangkau bagi calon pengguna, sekaligus memastikan usaha ini dapat terus berkembang,” ujarnya.
Uji kelayakan usaha yang dilakukan tim menunjukkan proyeksi ROI sebesar 46,24 persen dan B/C Ratio 1,42 pada kuartal pertama penjualan, dengan target awal 400 pak unit produk. Pasar yang dibidik pun disusun secara bertahap, mulai dari kebutuhan pengemasan non-pangan secara nasional, kemudian menyempit ke UMKM dan industri kecil-menengah yang mencari alternatif kemasan pelindung, hingga akhirnya difokuskan lebih dulu pada pelaku UMKM di Yogyakarta sebagai titik uji pasar. “Adapun penetrasi awal nantinya direncanakan lewat skema business to business, lengkap dengan sampel gratis dan edukasi langsung ke calon mitra, sebelum ekspansi ke marketplace digital secara nasional,” tuturnya.
Tim menyusun peta jalan usaha dalam lima tahap, yakni existence, survival, success, take-off, hingga resource maturity, dengan mengacu pada kerangka Churchill dan Lewis (1987). Salah satu target jangka panjang yang disebut dalam proposal adalah pengembangan varian Mushfoam berstandar food grade, sehingga suatu saat dapat digunakan langsung sebagai kemasan produk makanan, sekaligus membuka peluang pengurusan hak paten atas produk dan prosesnya.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim PKM
