Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Phillip Nathan Taula, di Gedung Pusat UGM, Kamis (11/9). Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk membahas penguatan kerja sama antara UGM dan Selandia Baru, khususnya dalam bidang pendidikan, riset, pertukaran mahasiswa, serta pengembangan kolaborasi strategis di berbagai bidang.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menjelaskan bahwa UGM telah memiliki hubungan kerja sama yang cukup panjang dengan berbagai universitas di Selandia Baru, baik melalui kolaborasi penelitian, publikasi ilmiah, maupun mobilitas mahasiswa dan akademisi. Dalam empat tahun terakhir, UGM mencatat lebih dari 80 publikasi bersama dengan mitra dari Selandia Baru. “Kami memiliki fondasi yang kuat dalam kerja sama dengan Selandia Baru, khususnya dalam bidang penelitian dan pendidikan,” ujarnya.
Menurut Danang, fondasi kerja sama yang telah terbangun tersebut perlu dikembangkan menjadi kolaborasi yang lebih strategis dan komprehensif. Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah menghubungkan sumber daya pendidikan dan pendanaan yang dimiliki kedua pihak untuk memperkuat program pendidikan dan penelitian bersama, terutama pada jenjang magister dan doktor. “Kami ingin membangun kerja sama yang lebih strategis melalui berbagi sumber daya, tidak hanya dalam pendidikan, tetapi juga penelitian bersama, khususnya untuk program master dan PhD (doktor),” jelasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi UGM dengan Selandia Baru selama ini telah berkembang dalam berbagai bidang, antara lain energi terbarukan, manajemen kebencanaan, ketahanan pangan, dan pertanian. Ke depan, kerja sama tersebut dapat diarahkan pada riset yang lebih berdampak bagi masyarakat, termasuk pengembangan inovasi di bidang pertanian, energi, dan ketahanan pangan.
Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Philip Nathan Taula, menilai pendidikan merupakan salah satu pilar penting dalam hubungan antara Selandia Baru dan Indonesia. Karena itu, pihaknya berkomitmen untuk terus mendukung dan mendorong hubungan pendidikan serta penelitian antara institusi di kedua negara. “Dari sisi kedutaan, pendidikan merupakan salah satu pilar yang sangat penting dalam hubungan Selandia Baru dan Indonesia,” tuturnya.
Philip mengatakan masih terdapat peluang untuk mengoptimalkan berbagai kerja sama yang selama ini telah berjalan. Menurutnya, sejumlah kegiatan kolaborasi telah dilakukan oleh universitas di kedua negara, tetapi perlu diarahkan agar memiliki fokus strategis yang lebih kuat sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi kedua pihak. Ia juga membuka peluang pengembangan kerja sama melalui skema pendanaan bersama dan program gelar bersama. “Menurut saya ada banyak ruang untuk memikirkan bagaimana kita dapat memperoleh manfaat maksimal dari kegiatan dan sumber daya yang sudah ada, termasuk melalui kolaborasi pendanaan,” katanya.
Lebih lanjut, Philip menyampaikan bahwa Selandia Baru juga terbuka untuk membantu memperkuat jejaring antara universitas di kedua negara. Menurutnya, kerja sama dapat dikembangkan melalui pertemuan dan forum yang mempertemukan perguruan tinggi Selandia Baru dengan universitas di berbagai wilayah Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi baru, baik dalam penelitian maupun pertukaran mahasiswa dan akademisi.
Sementara itu, Danang menjelaskan bahwa UGM juga terus mendorong penguatan mobilitas mahasiswa dengan universitas mitra di Selandia Baru. Meskipun jumlah mahasiswa yang mengikuti program pertukaran masih terbatas, UGM melihat peluang untuk meningkatkan mobilitas tersebut melalui skema kerja sama yang lebih sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan universitas mitra. “Kami berharap kerja sama ini dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik dan internasional,” ujarnya.
Selain pendidikan dan mobilitas akademik, kedua pihak turut membahas peluang kolaborasi dalam bidang energi, khususnya pengembangan panas bumi atau geothermal. Danang menyampaikan bahwa UGM tertarik mempelajari pengalaman Selandia Baru dalam mengembangkan energi panas bumi sekaligus memastikan manfaat pengembangannya dapat dirasakan masyarakat lokal. Menurutnya, tantangan pengembangan geothermal di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan aspek teknologi, tetapi juga penerimaan dan keterlibatan masyarakat.
Kerja sama di bidang tersebut juga dapat dikembangkan melalui pendekatan keterkaitan antara air, energi, dan pangan atau water-energy-food nexus. Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan sumber daya dan produk samping pengembangan energi untuk mendukung sektor lain, seperti pertanian dan penyediaan pangan, sehingga manfaat inovasi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.
Kunjungan tersebut turut memperkuat komitmen UGM dan Selandia Baru untuk mengembangkan kerja sama yang tidak hanya berorientasi pada hubungan antarlembaga, tetapi juga membangun koneksi antarmahasiswa, akademisi, peneliti, dan masyarakat. Hubungan people-to-people tersebut dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat hubungan jangka panjang antara Indonesia dan Selandia Baru.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
