Unit Seni Rupa Universitas Gadjah Mada menghadirkan Gadjah Mada Merupa (Gamarupa) 2026 sebagai ruang bagi seniman kampus untuk menafsirkan kembali mimpi-mimpi masa kecil melalui karya seni. Mengusung tema Childhood Dream, pameran tahunan ini berlangsung pada 5–9 September 2026 di Art Gallery Zona D Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM. Tema tersebut mengajak setiap peserta mengingat kembali harapan, imajinasi, hingga pengalaman masa kecil yang membentuk perjalanan mereka hari ini.
Bagi Unit Seni Rupa UGM, Gamarupa menjadi ruang yang mempertemukan pengalaman personal dengan ekspresi artistik. Setiap karya lahir dari cara seniman memaknai kembali kenangan, mimpi, maupun hal-hal yang pernah tertinggal di masa kecil. Ketua Pelaksana Gamarupa 2026, Anggraini Anggun Satyakusuma, mengatakan tema tersebut dipilih untuk menghadirkan ruang yang memberi kebebasan kepada siapa pun untuk kembali berkarya tanpa batas. “Kami ingin Gamarupa menjadi tempat untuk kembali berekspresi dan berkarya sebebas-bebasnya, seperti ketika kita masih kecil dan membiarkan imajinasi bekerja tanpa rasa takut,” ujar Anggun, Jumat (11/9).

Selama lima hari penyelenggaraan, pengunjung diajak menikmati beragam karya yang lahir dari interpretasi para seniman terhadap tema Childhood Dream. Pameran menampilkan karya-karya dengan pendekatan visual yang beragam, mulai dari refleksi atas kenangan masa kecil hingga cerita tentang mimpi yang masih ingin diwujudkan. Keragaman tersebut menghadirkan percakapan yang berbeda di setiap ruang pamer dan memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dapat diterjemahkan menjadi bahasa seni.
Gamarupa 2026 juga menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung yang membuka ruang interaksi antara seniman dan pengunjung. Salah satunya adalah Gambar Bersama bersama Batik Yudhistira, di mana peserta belajar mencanting menggunakan lilin dan kain untuk membuat motif batik mereka sendiri. Kegiatan ini memberi kesempatan bagi pengunjung untuk terlibat langsung dalam proses berkarya, sekaligus mengenal teknik membatik melalui pengalaman praktik.

Ruang eksplorasi berlanjut melalui workshop kerajinan pipe cleaner bersama Floraria Pipe yang mengajak mahasiswa mengolah material sederhana menjadi karya kreatif. Pada hari yang sama, sesi Bedah Karya mempertemukan pengunjung dengan kurator Gamarupa, Gesito Arhant, serta dua seniman pameran, UBF dan Sabrina Azmi. Diskusi tersebut membuka kesempatan bagi publik untuk memahami proses kreatif, gagasan, dan cerita di balik karya yang dipamerkan.
Melalui rangkaian pameran dan kegiatan pendukung, Gamarupa menghadirkan pengalaman yang melampaui aktivitas melihat karya di ruang galeri. Pengunjung diajak berdialog dengan seniman, mencoba proses berkarya, sekaligus menemukan kembali kenangan dan imajinasi yang mungkin pernah mereka miliki. Anggraini menilai interaksi tersebut menjadi bagian penting dari semangat Gamarupa sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja. “Kami berharap setiap pengunjung pulang dengan cerita dan pengalaman yang berbeda, karena setiap orang memiliki mimpi masa kecil yang layak dirayakan melalui cara masing-masing,” kata Anggun.

Gamarupa telah menjadi agenda tahunan Unit Seni Rupa UGM yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk menampilkan karya sekaligus membangun dialog dengan publik. Melalui tema Childhood Dream, pameran tahun ini menunjukkan bahwa pengalaman paling personal dapat menjadi sumber inspirasi yang terus hidup dalam praktik berkesenian. Kehadiran Gamarupa diharapkan terus memperkuat ekosistem seni di lingkungan UGM sebagai ruang yang inklusif bagi lahirnya gagasan dan ekspresi kreatif baru.
Kontributor: Tim Gamarupa
Penulis: Triya Andriyani
