Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Audrey Valensya Nabilla, meraih Best Paper Award dalam 2nd International Conference on Global Business & Digital Economy 2026 yang diselenggarakan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Kuala Lumpur, Malaysia, pada 29–30 September 2026.
Prestasi yang diraih Audrey menjadi capaian yang cukup membanggakan. Pasalnya, ia terpilih menerima penghargaan dengan menyisihkan 82 karya ilmiah lainya. Konferensi internasional tersebut diikuti peserta dari 17 negara yang dihadiri peneliti, akademisi, dan mahasiswa pascasarjana dan Audrey menjadi salah satu presenter termuda sekaligus mahasiswa S1 tampil di hadapan ratusan akademisi global.
Penghargaan tersebut diraih Audrey melalui penelitian skripsinya mengenai kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Dosen pembimbing, Dr. Rangga Almahendra, S.T., M.M., melihat potensi penelitian tersebut untuk dikembangkan menjadi artikel ilmiah yang dipresentasikan dalam konferensi internasional.
“Awalnya ada ketakutan karena melihat partisipan lain rata-rata dosen dan mahasiswa S2 atau S3. Namu Pak Rangga sangat meyakinkan bahwa riset ini punya kualitas yang layak bersaing,” ungkapnya.
Penelitian yang dibawakan Audrey mengangkat isu yang sangat relevan dengan dinamika ekonomi digital Indonesia saat ini, yaitu mengenai penggunaan sistem pembayaran QRIS yang digagas oleh Bank Indonesia. Riset ini berfokus menganalisis apakah intervensi dan kebijakan pemerintah dalam penyediaan infrastruktur digital mampu menciptakan kepercayaan masyarakat (trust) yang lebih tinggi terhadap platform pembayaran digital.
Dalam penulisan paper ini, Audrey didampingi oleh Dr. Rangga yang bertindak sebagai dosen pembimbing skripsinya sekaligus second author. Paper ini juga diperkaya oleh keterlibatan Eko Heru Prasetyo, Ph.D, Asisten Profesor di Institute of Science Tokyo yang bertindak sebagai third author.
Topik riset yang digarap Audrey ini melengkapi riset mengenai Digital Transformation/Digital Economy yang diprakarsai oleh Rangga dan algorithmic management and gig economy yang menjadi fokus penelitian dari Eko. Kolaborasi solid bertiga ini berhasil memberikan bobot analisis yang sangat tajam dan komprehensif pada artikel ilmiah yang mereka susun.
Setelah abstrak penelitian dinyatakan diterima, Audrey memperoleh waktu sekitar satu minggu untuk menyelesaikan artikel lengkap. Ia merangkum skripsinya yang terdiri atas 140 halaman menjadi artikel sepanjang 17 halaman dengan arahan dari kedua kolaboratornya.
“Usaha dan effort-nya lumayan tinggi karena pengerjaan skripsi dan paper berjalan berbarengan, apalagi ini baru pertama kalinya saya ikut konferensi ilmiah,” kata Audrey.
Audrey mengaku terkejut ketika namanya diumumkan sebagai penerima penghargaan. Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus kesempatan untuk membawa nama FEB UGM dalam forum akademik internasional.
“Momen ketika diumumkan itu kaget sekali. Orang-orang di sekitar langsung memberikan tepuk tangan. Ini menjadi pencapaian luar biasa bagi saya dan senang rasanya bisa membawa nama FEB UGM di kancah internasional,” kenangnya.
Audrey berharap pengalamannya dapat mendorong mahasiswa lain untuk berani mengambil kesempatan dalam pengembangan akademik, termasuk mempresentasikan hasil penelitian di forum ilmiah internasional.
“Pesan saya untuk teman-teman mahasiswa FEB UGM, jangan pernah takut ketika mendapat kesempatan. Jangan ragu untuk mencoba dan lakukan saja dulu. Jika gagal itu bagian dari belajar, tapi kalau berhasil, hasilnya akan sangat membanggakan,” tutupnya.
Rangga, sebagai dosen pembimbingnya juga mengungkapkan rasa bangga atas pencapaian salah satu mahasiswanya.
“Tugas saya sebagai dosen pembimbing adalah membantu dan mengantarkan mahasiswa menemukan versi terbaik dari dirinya. Prestasi ini sepenuhnya adalah hasil kerja keras Audrey. Saya hanya berada di belakang untuk memotivasi dan membuka jalan,” ucap Rangga.
Reportase : Najwa Anggi Namira dan Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim
