Tim mahasiswa KKN-PPM UGM kembali memberikan dampak nyata di lingkungan masyarakat, salah satunya di wilayah Banyuwangi Jawa Timur. Sejalan dengan visi Universitas Gadjah Mada yakni Sustainable Development Goals (SDGs), tema yang diangkat antara lain mengatasi berbagai permasalahan lingkungan, pengentasan kemiskinan, pengembangan wisata, dan mengatasi stunting.
Salah satu permasalahan nyata yang ditemui yakni pengelolaan sampah. Prof. Dr. Dra. Siti Muti’ah Setiawati, M.A., selaku Dosen Pembimbing Lapangan tim KKN-PPM UGM di Desa Bimorejo dan Sumber Kencono menyampaikan bahwasannya permasalahan ini masif dialami banyak desa di Kabupaten Banyuwangi. “Kalau di sini adalah karena tidak ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA), ya itu yang menjadi masalah dan masih diperjuangkan oleh mahasiswa,” ungkapnya, Sabtu (1/8), saat ditemui di pantai Bimo, Desa Bimorejo, Banyuwangi, Jawa Timur.
Di samping permasalahan lingkungan, hal lain yang perlu menjadi perhatian yakni menyangkut masalah pendidikan. Menurut Siti, sektor pendidikan di kedua desa ini masih kurang maju, sehingga banyak terjadi pernikahan dini. Akibatnya banyak ibu muda belum tahu tanggung jawab bagaimana merawat bayi. Bagi Siti, permasalahan tersebut secara tidak langsung berpengaruh terhadap banyaknya angka stunting pada anak.“Kadang-kadang mereka hanya ikut neneknya atau orang tuanya yang sebetulnya secara ekonomi tidak mapan,” terangnya.
Kemudian dari sektor pengembangan wisata, hal ini juga tidak luput dari permasalahan sampah. Tim KKN-PPM UGM di Desa Kalitopo berkoordinasi dengan penduduk setempat dan pemerintah untuk mengelola sampah di tempat-tempat wisata. “Problemnya adalah mengembangkan wisata pantai itu pantainya masih penuh dengan sampah, dan itu tentu saja tidak bisa diatasi oleh mahasiswa tetapi perlu kolaborasi dari berbagai pihak,” jelasnya.
Camat Wongsorejo, Muhammad Mahfud, bahwa memang permasalahan yang ada di Kecamatan Wongsorejo terkait dengan pengelolaan sampah yang belum maksimal. “Jadi pengelolaan sampah di Kecamatan Wongsorejo ini masih belum ada, ya ada tapi nggak jalan,” ungkapnya.
Bersama-sama dengan masyarakat, Tim KKN-PPM UGM melaksanakan kegiatan bersih-bersih kali sejalan dengan program Bupati Banyuwangi Tandang Bareng Banyuwangi Asri untuk menanggulangi permasalahan sampah. “Adanya mahasiswa dari UGM banyak dampak ya yang diperoleh oleh masyarakat terutama yang di area wisata, ya,” terang Mahfud.
Selain persoalan pengelolaan sampah, pantai di kawasan ini memiliki ancaman abrasi. Melihat tantangan tersebut, mahasiswa UGM berinisiatif untuk melaksanakan penanaman mangrove di pesisir pantai. Pembina Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kecamatan Wongsorejo, Eko Setiawan, pun turut mengapresiasi kontribusi nyata mahasiswa UGM. “Kami sangat bangga dan sangat berterima kasih kepada teman-teman atau Adik-adik kami yang dari UGM yang selama ini melaksanakan kegiatan KKN di daerah kami,” ungkap Eko.
ia menyampaikan, bersama dengan masyarakat tim mahasiswa KKN merintis wisata berkonsep wisata edukasi yang mana selain berwisata juga untuk belajar. Dengan fokus edukasi, konsep wisata yang diangkat yakni wisata dirgantara dan wisata bahari. “Jadi kita di sini menyuguhkan wisata dirgantaranya ada paramotor, paratrike dan wisata bahari kita ada diving,” terangnya.
Selain itu, juga disuguhkan area edukasi perkebunan dan peternakan yang diharapkan bisa menjadi wahana menambah wawasan.
Jundi Jundari, salah satu anggota tim KKN-PPM UGM di Banyuwangi, menyampaikan bahwa program penghijauan di pesisir Pantai Kalitopo merupakan kolaborasi dari POKDARWIS Pantai Kalitopo dan tim KKN-PPM UGM di Wongsorejo serta dukungan bibit dari Kementerian Kehutanan. “Nah, untuk bibit-bibitnya kita ada bakau hitam untuk nama lokalnya spesifiknya, kemudian juga ada kelapa genjah,” terang Jundi.
Terdapat dua strategi yang digunakan dalam proses penghijauan. Yang pertama, menggunakan strategi inkubasi dengan keranjang, kemudian penanaman langsung. “Nah, untuk yang menggunakan keranjang ini mungkin tidak banyak dilakukan di tempat lain. Alasan penggunaannya itu karena memang daerah pesisir ini tuh pantainya berpasir dan ombaknya lumayan tinggi, ya. Pasang surutnya lumayan tinggi, sehingga kalau misal kita menanam biasa, ditakutkan kalau tanamannya itu tidak bertahan lama, gitu,” jelasnya.
Kemudian untuk penanaman 200 bibit kelapa juga dilakukan untuk menambah kenyamanan, keamanan, dan estetika sehingga mampu menarik wisatawan untuk datang ke wisata Pantai Kalitopo. Dalam waktu kurang lebih satu bulan, Tim KKN-PPM UGM berhasil menanam mangrove, kelapa, hingga pohon cemara. Selain itu, dilakukan juga revitalisasi fasilitas pantai seperti pendopo, kursi santai, dan pemasangan gapura dan lampu. Tidak ketinggalan, dibuat juga pemasangan papan klasifikasi sampah pesisir yang harapannya warga-warga pesisir tuh sadar akan lingkungan agar akan kebersihan pantai.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
