Menurunnya minat generasi muda terhadap kesenian tradisional di pulau Morotai, Maluku Utara, tim mahasiswa KKN PPM UGM menjalin kerja sama dengan Sanggar Seni Moro’daloha dalam upaya ikut melestarikan tiga tarian tradisional khas Maluku Utara, yakni Tide-Tide, Soya-Soya, dan Lalayon. Kolaborasi ini diwujudkan melalui rangkaian pelatihan tari, lokakarya budaya, dan pertunjukan bersama yang melibatkan generasi muda setempat.
“Kami melihat sanggar Moro’daloha memiliki para pelatih dan penari senior yang sangat kompeten, tetapi regenerasi penari muda menjadi tantangan tersendiri. Melalui program ini, mahasiswa KKN membantu dari sisi dokumentasi, publikasi digital, dan penyelenggaraan kegiatan agar latihan tari lebih menarik bagi anak-anak dan remaja,” ujarnya, Bagus Ulinnuha, Salah satu anggota Tim KKN-PPM UGM Morotai, dalam keterangan yang dikirim Rabu (5/8).
Ulin, demikian ia akrab disapa, menuturkan program ini lahir dari keresahan bersama masyarakat atas menurunnya minat anak muda menyukai kesenian tradisional. Melalui kehadiran mahasiswa KKN diharapkan dapat menjadi jembatan antara sanggar seni lokal dan anak-anak muda agar warisan budaya leluhur tidak tergerus zaman.
Ia menjelaskan, tiga tarian tradisional yang mereka kenalkan kembali ke anak muda Morotai yakni tari Tide-Tide dikenal sebagai tarian pergaulan khas Halmahera yang biasa ditampilkan dalam pesta adat dan pernikahan, dengan iringan tifa serta melambangkan kesuburan alam dan keharmonisan pemuda-pemudi. Lalu, tari Soya-Soya, di sisi lain, merupakan tarian perang yang menggambarkan semangat pantang menyerah rakyat Ternate dalam mengusir penjajah, biasa dibawakan penari pria dengan gerakan dinamis menyerupai teknik pertempuran. Adapun Tari Lalayon merupakan tarian pergaulan yang sarat pesan romantis dan rasa syukur, dibawakan secara berpasangan oleh penari pria dan wanita.
Ketua Sanggar Moro’daloha, Fahriyani ence, S.Pd., menuturkan bahwa kolaborasi dengan mahasiswa KKN UGM memberi nafas baru bagi sanggar yang telah berdiri delapan tahun tersebut. “Anak-anak sekarang lebih tertarik kalau ada pendampingan yang kreatif. Mahasiswa membantu kami membuat konten latihan, merapikan jadwal, dan mendorong anak-anak muda desa untuk ikut bergabung,” katanya di sela latihan bersama di sanggar tersebut.
Program pelestarian budaya ini dilaksanakan melalui beberapa tahap, mulai dari pemetaan kondisi sanggar dan jumlah penari aktif, pelatihan rutin bersama pelatih sanggar, dokumentasi audiovisual gerak tari sebagai arsip digital, hingga pertunjukan yang sudah dilaksanakan di Pekan Olahraga Pelajar Daerah ke XII Maluku Utara dan puncaknya di acara Festival Toma Cita Morotai. Mahasiswa KKN juga membantu memperkenalkan sanggar Moro’daloha melalui media sosial agar jangkauan promosinya lebih luas hingga ke luar Pulau Morotai.
Selain aspek pelestarian seni, program ini juga menyisipkan nilai edukasi sejarah kepada peserta, khususnya mengenai latar Kesultanan Ternate dan Tidore yang menjadi akar dari tarian-tarian tersebut, sehingga generasi muda tidak hanya bisa menari tetapi juga memahami makna filosofis di balik setiap gerakan.
Pihak pemerintah kecamatan setempat menyambut baik inisiatif ini dan berharap kerja sama antara sanggar seni dan perguruan tinggi dapat terus berlanjut meski masa penugasan KKN telah berakhir. Program ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi pentahelix antara akademisi, komunitas seni, dan pemerintah daerah dalam menjaga kekayaan budaya takbenda Maluku Utara, khususnya setelah Tari Tide-Tide ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Provinsi Maluku Utara pada 2016.
Ulin berharap jejak program pelestarian budaya yang digagas mahasiswa KKN UGM ini dapat dilanjutkan oleh sanggar dan masyarakat setempat secara mandiri, termasuk melalui pembentukan kelompok penari muda binaan yang rutin berlatih dan tampil dalam berbagai acara adat di Pulau Morotai.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim KKN UGM
