Tim mahasiswa yang tergabung dalam Lokalogi Pramuka UGM menginisiasi langkah progresif mengelola sampah saat penghelatan wisuda di kampus UGM yang dihadiri ribuan orang yang meninggalkan sampah dalam jumlah besar. Tim ini melakukan pengolahan makanan berlebih dan makanan sisa pada upacara Wisuda Pascasarjana yang berlangsung pada 22-23 April 2026 lalu. Melalui kolaborasi strategis dengan Berbagi Bites Jogja (BBJ), Lokalogi melakukan uji coba manajemen sampah untuk memisahkan antara makanan layak konsumsi dengan residu organik di sekitar kawasan Grha Sabha Pramana dan Balairung UGM.
Ketua Tim Lokalogi Pramuka UGM, Giovanni Yusuf H., menjelaskan bahwa aksi ini dilatarbelakangi oleh upaya mendorong masyarakat agar lebih sadar sampah melalui tajuk utama, yakni berkarya tanpa sampah. Gio, demikian ia akrab disapa, mengungkapkan bahwa selama dua tahun Lokalogi berjalan, tantangan tersulit yang dihadapi bukan sekadar masalah teknikal, melainkan kebiasaan dari mahasiswa itu sendiri. “Kami masih sering menemui mahasiswa yang kurang sadar dengan sampah. Bahkan, ketika tempat sampah sudah dijaga, mereka juga tidak mau memilah,” jelasnya, Jumat (24/4).
Melalui momentum wisuda kali ini, Gio dan tim Lokalogi ingin menanamkan prinsip keberlanjutan yang inklusif bagi seluruh sivitas akademika. Ia menekankan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil secara kolektif. “Mari mulai dari hal yang kecil. Daripada satu orang melaksanakan zero waste secara sempurna tapi tidak berdampak luas, lebih baik sepuluh ribu orang melaksanakan zero waste secara tidak sempurna, tapi dilakukan secara bersama-sama,” ajaknya.
Sejalan dengan semangat Lokalogi, Berbagi Bites Jogja juga hadir sebagai generator untuk pengurangan makanan berlebih sekaligus penggerak di lingkungan sosial. Kepala Divisi Food BBJ, Maximillian Chandra, menuturkan BBJ menargetkan penyelamatan makanan melalui dua program utama, yaitu food rescue dan food bank, yang menyasar yayasan sosial secara kolektif serta mahasiswa UGM secara personal.
Max menjelaskan bahwa terdapat kriteria ketat bagi makanan yang akan diselamatkan, yakni harus layak konsumsi, bersih, aman, dan bukan merupakan sisa konsumsi. Untuk menjamin kualitas tersebut, Max menuturkan bahwa timnya menerapkan prosedur verifikasi berlapis, mulai dari pengumpulan hingga pengecekan kualitas. “Kami mengecek dari segi organoleptik atau analisis sensori melalui tiga indikator, yakni rasa, tekstur, dan aroma. Jika ketiga indikator ini lolos semua, maka makanan tersebut dinyatakan masih layak untuk dikonsumsi,” jelas Max.
Meskipun baru pertama kali diterapkan dalam momen wisuda, kolaborasi ini berhasil mengerahkan sekitar 25 relawan yang terbagi dalam tiga sif yang berjaga di tujuh titik strategis, meliputi area Grha Sabha Pramana hingga Balairung UGM.
Langkah ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi praktis atas timbunan makanan berlebih, tetapi juga sarana edukasi bagi keluarga wisudawan yang hadir. “Mahasiswa UGM mungkin sudah sering mendapatkan edukasi mengenai pemilahan sampah, sedangkan bagi keluarga wisudawan, ini menjadi sarana edukasi yang nyata bahwa wisuda pun bisa dirayakan secara bertanggung jawab terhadap lingkungan,” pungkas Gio.
Penulis : Aldi Firmansyah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Tim Lokalogi dan BBJ
