Tim Robot Humanoid Elins Research Club (ERC), Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada mengukir prestasi gemilang di tingkat internasional. Tim berhasil memborong penghargaan di tiga kategori sekaligus, yakni Juara 1 Kategori Athletics, Juara 3 Kategori Sprint (Short-track), serta Juara 3 Kategori Dance pada ajang Humanoid Virtual Athletics Challenge (HVAC) 2026 yang diselenggarakan di Jepang pada Selasa (1/9) lalu.
Tim Robot humanoid UGM terdiri dari 12 mahasiswa dari jenjang S1, S2, hingga S3, yakni Adi Sucipto (S3 Ilmu Komputer), Mohamad Nur Hidayat (S2 Elektronika dan Instrumentasi), Zaidan Hakim (S2 Elektronika dan Instrumentasi), Gracella Wiendy Koesnadi (S1 Ilmu Komputer), Mahardika Ramadhana (S1 Ilmu Komputer), Hizkia Imanuel Prasetya (S1 Elektronika dan Instrumentasi), Hanif Abinawa (S1 Elektronika dan Instrumentasi), Muhammad Alfarizq (S1 Elektronika dan Instrumentasi),
Selanjutnya, Muhammad Yogga Aminullah (S1 Elektronika dan Instrumentasi), Ilham Refansya (S1 Elektronika dan Instrumentasi), Bernardinus Farel Radhitya P. (S1 Elektronika dan Instrumentasi), Adinda Vassya Muzahidin (S1 Elektronika dan Instrumentasi). Dengan bimbingan 4 dosen pembimbing, Dr. Andi Dharmawan, S.Si., M.Cs., Dr.techn. Aufaclav Zatu Kusuma Frisky, S.Si., M.Sc., Oskar Natan, Ph.D., dan M. Ridho Fuadin, S.Si., M.Cs.
Hizkia Imanuel Prasetya selaku kapten tim menjelaskan bahwa kompetisi ini menggunakan platform simulasi Choreonoid dengan dua robot hasil riset tim, yaitu Robot UGM ESR dan Robot ESR V2 UGM. Choreonoid merupakan platform simulasi asal Jepang tersebut memiliki informasi dan tutorial yang terbatas bahkan mayoritas menggunakan bahasa Jepang sehingga tim cukup susah memahaminya. “Meski dengan keterbatasan tersebut, tim robot humanoid UGM berhasil memenangkan beberapa kategori perlombaan,” katanya, Kamis (17/9).
Pada perlombaan ini, Hizkia berhasil menjalankan robot simulasi untuk kategori dance yang terinspirasi dari tari tradisional Kecak Bali. Pada akhir penampilan, Ia juga menambahkan gerakan tutting dan parodi. Penilaian kategori dance difokuskan pada gerakan kaki, poin keterampilan, ekspresi, koreografi, dan sinkronisasi. Menurutnya, robot ESR V2 UGM yang dijalankannya saat perlombaan tidak banyak menonjolkan gerakan kaki dan sempat terjatuh sehingga membawanya pada Juara 3. “Saat simulasi, robot sempat terjatuh sehingga mengurangi point. Gerakan tambahan juga simpel banget dan nggak pakai gerakan kaki,” ucapnya.

Selanjutnya, Adi Sucipto, anggota tim robot humanoid UGM lainnya, menyampaikan bahwa keunggulan robot ESR V2 UGM terletak pada model matematika yang dibangun oleh tim atas masukan dosen pembimbing. Berbagai model telah melalui tahap uji coba hingga mendapatkan model yang paling efektif digunakan untuk menggerakan robot yang lebih unggul dari yang lain. Oleh karena itu, robot ini berhasil meraih Juara 3 dengan membukukan catatan waktu 10,60 detik pada kategori Sprint (Short-track). “Model matematika yang tepat dapat menghasilkan simulasi robot yang semakin mirip manusia. Robot ini tampak kakinya melayang seperti orang berlari,” katanya.
Selain itu, Adi mengungkapkan untuk Kategori Athletics yang berhasil meraih Juara 1 pada perlombaan ini menjadi satu-satunya robot yang berhasil melintasi dua sektor rintangan (1st Left dan 2nd Left), mengungguli tim-tim lawan. “Pada kategori ini, kami mendapatkan point yang lebih unggul setelah berhasil menyelesaikan dua rintangan dibanding tim lain hanya menyelesaikan satu rintangan,” ungkapnya.
Bernardinus Farel Radhitya P., selaku perancang robot memaparkan bahwa perlombaan ini menjadi ajang simulasi robot yang diintegrasikan dengan program bagi mereka. Ia berhasil merancang desain 3D hingga siap disimulasikan dalam kurun waktu dua bulan. Dengan demikian, banyak uji coba yang mereka lalui setelah desain robot dibuat sehingga menjadi robot final selama kurang lebih tiga bulan untuk menentukan formula yang tepat.
Hizkia berharap tim akan terus menorehkan prestasi pada perlombaan selanjutnya. Ia juga berharap UGM terus memberikan dukungan bagi mahasiswa yang terlibat dalam riset robotika, baik segi mental maupun finansial sehingga mereka bisa terus berkarya. “Inovasi yang kita lakukan melalui ajang perlombaan ini dapat berkontribusi dalam memajukan teknologi robotika di Indonesia,” ujarnya.
Sementara Nur Hidayat juga mengharapkan tim akan berpartisipasi kembali jika perlombaan akan diadakan lagi tahun depan. Lomba simulasi pertama yang mereka ikuti ini dapat dievaluasi dan dikembangkan lagi teknisnya sehingga bisa lebih baik hasilnya. “Karena ini pertama kali kami mengikuti lomba simulasi, harapannya tahun depan bisa ikut lagi,” pungkasnya.
Penulis : Jesi
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tim ERC
