Sebanyak 28 mahasiswa KKN PPM UGM yang tengah melaksanakan pengabdian Kecamatan Srono, Banyuwangi, Jawa Timur, memasang lampu tenaga surya sebagai sumber penerangan jalan. Sebanyak 8 titik lampu surya dipasangkan di Desa Srono dan Rejoagung. “Kalau untuk total titik yang dipasang itu ada delapan, empat di Wonosobo dan empat lagi di Rejoagung,” kata M Farkhan Fauzan dari Teknologi Rekayasa Elektro Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada angkatan 2023 saat ditemui di Desa Srono, Jumat (31/7).
Farkhan menyebutkan, alasan mahasiswa memasang lampu surya ini berangkat dari permasalahan di Kecamatan Srono ini terutama di Desa Rejoagung dan Wonosobo ini minim penerangan pada jalan dan untuk mengatasi dan memitigasi permasalahan seperti pencegahan kecelakaan dan juga untuk meminimalisir hal-hal lain yang sekiranya membutuhkan penerangan jalan. “Jika malam, betul-betul gelap. Dan setelah dipasang ini alhamdulillah untuk hasilnya sendiri cukup memuaskan di beberapa titik ada yang di dekat Sungai Wonosobo kemudian di Rejoagung dan juga yang baru saja dipasang ini di dekat Lapangan Wonosobo Sport Center,” katanya.
Ia menyebutkan untuk biaya pemasangan lampu surya ini sebesar Rp 200 ribu per titik. Sementara harga lampu di kisaran Rp 160 ribu. Sisanya untuk dibelikan bahan untuk cor seperti semen, pasir, kerikil. Sedangkan durasi penerangan jalan optimal selama kurang lebih 8 jam. “Lampu akan menyala sejak pukul 18.00 sampai jam 23.00. Setelah diatas jam 12 malam sampai jam 6.00 pagi itu cahayanya akan menurun,”jelasnya.
Lampu surya yang dipasangkan ini juga dibekali dengan sensor gerak dimana lampu akan menyala terang saat ada kendaraan atau pengguna jalan yang tengah melintas. “Jadi ketika ada objek yang mendekat, itu cahayanya akan secara otomatis bertambah,” jelasnya.
Selain memasang lampu surya, di kecamatan Srono ini, mahasiswa KKN juga mengembangkan olahan briket dari sabut kelapa. Pengembangan briket ini dilakukan setelah mahasiswa melihat banyaknya limbah sabut kelapa yang tidak dibuang begitu saja. Padahal sabut kelapa ini bisa diolah menjadi briket untuk memberikan manfaat nilai ekonomis.
Layla Oktavia, selaku kormasit KKN di Wonosobo, menuturkan pemilihan briket ini berangkat dari limbah komoditas kelapa yang belum banyak dimanfaatkan oleh warga yang selama ini hanya dibuat begitu saja. Padahal bisa dijadikan briket pengganti arang. “Dari warga mungkin serabut kelapanya cuma dibuang gitu aja. Jadi enggak dimanfaatkan. Jadi kita memanfaatkan buat ngasih tahu ke warga bahwa sebenarnya serabut kelapa ini bisa dipakai yang lebih bermanfaat gitu. Bisa dijadikan nilai ekonomis juga, dijadikan briket seperti itu buat pengganti arang juga,” jelasnya.
Layla menyebutkan, hal yang membedakan briket dari arang kayu dengan briket sabut kelapa ini terletak dari bentuknya yang lebih seragam karena dibentuk dengan cetakan berbentuk kubus kecil. Untuk proses pembuatan, sabut kelapa tersebut dibakar hingga menjadi arang. Selanjutnya arang hitam ini lalu dikikis hingga menjadi serbuk yang kemudian dicampur dengan bahan tepung kanji sebagai perekat agar bisa dicetak dengan mudah. “Jadi kan tepung kanji itu kalau dikasih air kan lengket. Nah, itu buat perekatnya, buat perekat abunya,” jadinya.
Menurutnya, untuk cetakan briket ini tidak hanya dari serabut kelapa namun juga bisa menggunakan abu dari bambu yang dibakar. “Briket tuh sebenarnya enggak cuma dari serabut kelapa aja, dari bambu juga bisa kayak gitu. Ya pokoknya abu abu apapun itu sebenarnya bisa dibuat briket,” katanya.
Dengan menggunakan abu serabut kelapa ini, proses pembuatannya menjadi lebih mudah karena serabaut yang sudah kering lebih cepat terbakar untuk menghasilkan abu.“Kalau tempurung kelapa itu mungkin kalau dibakar itu malah lebih lama jadi abunya. Kalau serabut kan apalagi serabut yang sudah kering, malah lebih cepat jadi abunya,” katanya.
Suyut Warsito, Kepala Dusun Lembangrejo, mengatakan kehadiran mahasiswa KKN UGM memberikan manfaat bagi warga, khususnya untuk masyarakat di Dusun Lembangrejo, Desa Wonosobo, terutama program pemasangan lampu penerangan jalan. “Ya, terutama untuk lampu-lampu penerangan jalan yang sudah dipasang kemarin. Dan untuk program juga banyak bermanfaat,” katanya.
Semi Hartati (54), salah satu warga dari Dusun Lembangrejo, Desa Wonosobo, mengatakan dirinya merasa mendapat pengetahuan baru terkait pembuatan briket dari sabut kelapa. Menurutnya ide tersebut bisa menjadi alternatif untuk sumber bahan bakar untuk memasak di dapur selain gas LPG dan arang. “Kan enggak enggak sulit buatnya. Jadi ya bisa untuk gantinya aranglah,” katanya.
Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. Rustamaji, yang hadir dalam kegiatan liputan lapangan kegiatan mahasiswa KKN di Desa Wonosobo mengapresiasi program kerja yang dilakukan oleh mahasiswa. Ia menyebutkan, penerjunan KKN periode antar semester yang tengah berlangsung ini, UGM mengerahkan sebanyak 8.178 mahasiswa yang tersebar di 32 provinsi. “Sebagian besar tema kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa mengusung program ketahanan pangan dan mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
Rustamaji menyampaikan apresiasi pada seluruh Pemda, pemerintah desa, dan para mitra yang telah menerima mahasiswa agar bisa belajar melaksanakan KKN pemberdayaan kepada masyarakat secara lebih baik. “Evaluasi yang kita lakukan sampai hari ini menunjukkan situasi yang semuanya berjalan dengan baik,” pungkasnya.
Penulis : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
