Alumni dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Yayasan Inisiasi Berkelanjutan Indonesia (Insive) menggelar serangkaian aksi konservasi dan restorasi ekosistem pesisir di kawasan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 4–5 Juni 2026. Kegiatan dua hari ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai respons nyata terhadap ancaman pencemaran sampah plastik di pesisir serta kepunahan satwa laut yang dilindungi. Rangkaian program mencakup tiga pilar aksi utama, yakni pelepasan tukik lekang, bersih-bersih pantai, dan penanaman bibit mangrove secara kolaboratif. Yayasan Insive menegaskan bahwa kepedulian lingkungan tidak cukup berhenti pada wacana, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan yang konsisten dan terukur.
Salah satu momen paling emosional dalam kegiatan ini adalah pelepasan 20 ekor tukik lekang atau anak penyu abu-abu yang termasuk satwa dilindungi ke habitat alaminya di Pantai Goa Cemara. Dengan menggunakan batok kelapa sebagai media proteksi, para peserta melepas satu per satu tukik tersebut secara perlahan menuju laut bebas. Aldina Himmarila M., Alumnus Fakultas Biologi UGM sekaligus Program Manager Yayasan Insive menyatakan langkah ini menjadi simbol harapan sekaligus pengingat bahwa perlindungan fauna laut membutuhkan sinergi multipihak yang berkelanjutan. “Kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu bentuk aksi nyata dan kepedulian generasi muda dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir,” tuturnya.
Yayasan Insive juga menggelar aksi bersih-bersih pantai di kawasan Pantai Baros guna menekan dampak sampah anorganik di wilayah pesisir. Dalam aksi ini, tim berhasil mengumpulkan total 300 kilogram sampah yang didominasi plastik sekali pakai, styrofoam, popok sekali pakai, dan material non-organik lainnya. Seluruh sampah yang terkumpul kemudian diserahterimakan kepada pengelola Pantai Baros untuk diproses dan didaur ulang. Angka 300 kilogram itu menjadi cerminan nyata betapa besarnya tekanan sampah yang menghantam ekosistem pesisir Bantul setiap harinya.

Sebagai puncak kegiatan, Yayasan Insive bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Baros menanam 100 bibit pohon mangrove di kawasan Pantai Baros. Mangrove berperan sebagai penahan abrasi, peredam erosi, dan habitat vital bagi ikan, udang, kepiting, hingga burung pesisir, sekaligus membuka peluang ekowisata yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Di tengah ancaman kenaikan permukaan air laut global, penanaman ini menjadi investasi ekologis jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan oleh generasi mendatang. “Mangrove yang ditanam diharapkan mampu tumbuh secara optimal untuk menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka waktu yang lama, serta berkontribusi dalam pengurangan CO₂ di atmosfer,” harapnya.
Melalui integrasi tiga pilar aksi ini, Yayasan Insive menegaskan bahwa esensi Hari Lingkungan Hidup Sedunia terletak pada tindakan konkret yang berkelanjutan, bukan sekadar perayaan seremonial tahunan. Sinergi antara alumni dan mahasiswa yang diwadahi Yayasan Insive diharapkan terus tumbuh sebagai model kolaborasi generasi muda yang berorientasi pada keberlanjutan. Dengan langkah yang konsisten seperti ini, kontribusi nyata terhadap pemulihan ekosistem pesisir Indonesia dapat terus diperluas ke depannya.
Reportase/Foto: Azarine Malika Zayyan
Penulis: Triya Andriyani
